Abu Barzah al-Aslami atau nama aslinya Nadhlah bin Ubaid atau Fadhlah bin Ubaid bin Harits al-Aslami adalah sahabat Nabi Muhammad yang masuk Islam di awal periode kenabian dari kalangan Anshar. Berperawakan agak tinggi dan berkulit sawo matang. Sebelum berislam, ia menjadi semaca dukung yang memutuskan perkara di antara orang Yahudi, bahkan setelah turunnya Islam, ia sempat menjadi rujukan beberapa muslimin hingga turunnya Quran an-Nisa ayat 60-62. Setelah berislam dengan baik, ia mengikuti Pertempuran Khaibar hingga Pembukaan Makkah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Abu Barzah al-Aslami atau nama aslinya Nadhlah bin Ubaid atau Fadhlah bin Ubaid bin Harits al-Aslami adalah sahabat Nabi Muhammad yang masuk Islam di awal periode kenabian dari kalangan Anshar.[1] Berperawakan agak tinggi dan berkulit sawo matang. Sebelum berislam, ia menjadi semaca dukung yang memutuskan perkara di antara orang Yahudi, bahkan setelah turunnya Islam, ia sempat menjadi rujukan beberapa muslimin hingga turunnya Quran an-Nisa ayat 60-62.[2] Setelah berislam dengan baik, ia mengikuti Pertempuran Khaibar hingga Pembukaan Makkah.
Abu Barzah selalu menyediakan satu panci dari pagi dan sore hari untuk kaum janda, yatim, dan orang miskin. Selain itu, ketika dia bangun shalat malam lalu ia membangunkan keluarganya, biasanya ia membaca enam puluh sampai seratus ayat.[1] Abu Barzah meriwayatkan doa penutup majelis dari Muhammad,[3] hadis tentang larang mencari aib saudaranya,[4] dan hadis tentang kuburan yang dilewati Muhammad lalu diberi daun basah (2 lembar pelepah kurma) sehingga Abu Barzah mewasiatkan kuburannya agar diberi 2 lembar pelepah kurma.[5] Salah satu muridnya ialah Tabi'in Sayyar bin Salamah.[6]
Semasa Khalifah Abu Bakar, suatu hari seseorang memarahi Abu Bakar, Abu Barzah lantas menawarkan untuk memukul orang itu, Abu Bakar melarangnya kecuali jika Muhammad dihina.[7] Abu Barzah suatu hari di Ahwaz, Irak, solat qashar Ashar 2 rakaat, lalu hewan tunggangannya lepas, ia membatalkan solatnya demi menangkap kudanya (riwayat lain ia bergerak mengikuti kuda sambil tetap solat). Seseorang mencemoohnya, lalu ia jelaskan bahwa itu keringanan dari yang ia pelajari selama hidup bersama Muhammad.[8]
Abu Barzah pindah dari Madinah ke Basrah lalu mengikuti Pertempuran Nahrawan bersama Khalifah Ali melawan khawarij. Semasa Khalifah Yazid, ia mencela Yazid yang sedang berkonflik dengan Husain bin Ali. Ia wafat di tahun 65 H / 685 M di padang pasir Khurasan antara Kansan dan Qaoumis dekat Baghdad.[5][9]