Abu Abdurrahman as-Sulami merupakan tokoh Tabi'in yang tumbuh besar setelah wafatnya Nabi Muhammad. Nama lengkapnya Abdullah bin Habib bin Rabi'ah al-Kufi. Ia ahli Qira'ah di Kufah, Irak, lahir pada akhir masa Muhammad. Ia belajar pada Umar, Utsman, Ali, Zaid, Ubay dan Ibnu Mas'ud.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Abu Abdurrahman as-Sulami merupakan tokoh Tabi'in yang tumbuh besar setelah wafatnya Nabi Muhammad. Nama lengkapnya Abdullah bin Habib bin Rabi'ah al-Kufi. Ia ahli Qira'ah di Kufah, Irak, lahir pada akhir masa Muhammad. Ia belajar pada Umar, Utsman, Ali, Zaid, Ubay dan Ibnu Mas'ud.[1][2]
Setelah pertempuran di wilayah Armenia selesai pada masalah Khalifah Utsman dimana terdapat sahabat Hudzaifah bin Al Yaman ditengah peperangan, Hudzaifah dikagetkan dengan sebuah peristiwa yang amat mengejutkan dan menyesakkan dada. Kaum muslimin saat itu berselisih pendapat dalam masalah qiroat (bacaan) al Quran. Bahkan sampai kepada taraf saling menyalahkan dan mengkafirkan. Sebuah kejadian yang amat mengkhawatirkan tentunya di mata sahabat ini.
Oleh karenanya, ia segera menghadap Utsman bin Affan guna mendiskusikan masalah yang baru saja ia saksikan. Akhirnya Utsman memerintahkan pembentukan panitia penulisan Al Quran yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit.
Saat penulisan al Quran telah usai, ia lantas mengirim beberapa mushaf tersebut ke penjuru negeri dengan satu orang ulama yang akan mengajarkannya. Diantara mereka terdapat Abu Abdurrahman As Sulami yang ditugaskan untuk mengajarkan Al Quran di Kufah. Ia pun berangkat dan mengajarkan Al Quran di Masjid Agung Kufah tak kurang dari 20 Tahun, terinspirasi perkataan Muhammad,"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya".[3]
Metode menghafal Quran as-Sulami ia katakan,“Kami mempelajari Al Quran dari generasi (sahabat) yang berkata bahwa tidaklah 10 ayat mereka lewati dan berpindah ke 10 ayat yg lain kecuali setelah memahami isi kandungannya, maka kami pun mempelajari Al Quran sekaligus mengamalkannya” Ashim, Atho, Hasan dan Husein ikut belajar pada as-Sulami.
Ia wafat pada 74 H di usia lebih 80 tahun pada masa awal Hajjaj menguasai Irak.[4]