Abies sachalinensis atau cemara sakhalin merupakan spesies tumbuhan runjung dari famili Pinaceae yang berasal dari Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril bagian selatan di Rusia, serta Hokkaido bagian utara di Jepang. Spesies ini pertama kali ditemukan oleh ahli botani Jerman Baltik, Carl Friedrich Schmidt, di Pulau Sakhalin pada tahun 1866, meskipun ia tidak memperkenalkannya ke Eropa. Kemudian, pada tahun 1877, kolektor tanaman asal Inggris, Charles Maries, menemukan kembali spesies ini di dekat Aomori di Pulau Honshū, Jepang, dan awalnya mengira bahwa tanaman tersebut merupakan varietas dari Abies veitchii. Kerabat terdekatnya adalah Abies nephrolepis atau cemara khingan, yang tumbuh di daratan sebelah barat wilayah pegunungan cemara Sakhalin.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Abies sachalinensis | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Gymnospermae |
| Divisi: | Pinophyta |
| Kelas: | Pinopsida |
| Ordo: | Pinales |
| Famili: | Pinaceae |
| Genus: | Abies |
| Spesies: | A. sachalinensis |
| Nama binomial | |
| Abies sachalinensis | |
Abies sachalinensis atau cemara sakhalin merupakan spesies tumbuhan runjung dari famili Pinaceae yang berasal dari Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril bagian selatan di Rusia, serta Hokkaido bagian utara di Jepang.[2] Spesies ini pertama kali ditemukan oleh ahli botani Jerman Baltik, Carl Friedrich Schmidt, di Pulau Sakhalin pada tahun 1866, meskipun ia tidak memperkenalkannya ke Eropa. Kemudian, pada tahun 1877, kolektor tanaman asal Inggris, Charles Maries, menemukan kembali spesies ini di dekat Aomori di Pulau Honshū, Jepang, dan awalnya mengira bahwa tanaman tersebut merupakan varietas dari Abies veitchii.[3] Kerabat terdekatnya adalah Abies nephrolepis atau cemara khingan, yang tumbuh di daratan sebelah barat wilayah pegunungan cemara Sakhalin.[4]
Pohon ini dapat tumbuh hingga sekitar 30 meter dengan batang berdiameter mencapai 1 meter. Mahkotanya berbentuk piramidal pada usia muda, tetapi cenderung merata seiring bertambahnya umur. Cabang-cabangnya panjang dan ramping, dan semakin ke utara habitatnya, pertumbuhannya cenderung lebih pendek.[5] Spesies ini termasuk dalam zona tahan banting 5, yang berarti mampu bertahan pada suhu dingin ekstrem.[4] Kulit kayunya berwarna putih keabu-abuan dan menjadi kasar seiring usia. Daun jarumnya menutupi bagian atas dan samping pucuk seperti pada Abies veitchii, berukuran sekitar 1,2–3,5 cm panjang dan 1–1,2 mm lebar, bertekstur lembut dengan warna hijau mengilap.[2] Buah bijinya berbentuk silinder, berwarna coklat hingga ungu tua saat muda, kemudian berubah menjadi biru-hitam atau coklat kehitaman ketika matang.[5] Pohon ini memiliki sistem akar yang umumnya menyebar di permukaan tanah lembap, tetapi dapat membentuk akar tunggang kuat jika tumbuh di tanah yang sangat jenuh air.[6]
Spesies ini dapat ditemukan mulai dari daerah pesisir hingga ketinggian sekitar 1.650 meter, tergantung wilayahnya. Di Pulau Sakhalin, pohon ini tumbuh pada ketinggian antara 800 hingga 1.100 meter, baik sebagai tegakan murni maupun dalam hutan campuran bersama Picea jezoensis (cemara yezo) dan Picea glehnii di dekat batas pepohonan. Selain itu, ia juga tumbuh di dataran rendah yang didominasi pohon berdaun lebar seperti Betula ermanii (burja erman), Castanea crenulata, Kalopanax septemlobus (kastor aralia), dan Magnolia hypoleuca.[4]
Tanaman ini tumbuh baik di daerah dengan musim panas yang sejuk, musim dingin ringan, dan curah hujan tahunan sekitar 1.500 mm yang sebagian besar hujan turun pada musim dingin.[7] Tanah tempatnya tumbuh umumnya lembap tetapi memiliki drainase yang baik, karena spesies ini tidak tahan terhadap genangan air.[4] Saat masih muda, pohon ini cukup toleran terhadap naungan meskipun pertumbuhannya menjadi lebih lambat di tempat yang terlalu teduh. Ia juga lebih menyukai tanah yang agak asam dengan pH sekitar 5.[8]