Abdurrahman bin Aqil adalah salah satu anggota Bani Hasyim yang menjadi pendukung sepupunya, Husain bin Ali, dalam Pertempuran Karbala. Ia merupakan putra dari Aqil bin Abi Thalib dan ibunya merupakan budak-selir. Ia merupakan menantu Ali bin Abi Thalib karena menikah dengan putrinya yang bernama Khadijah binti Ali. Mereka dikaruniai anak-anak yang bernama Sa'id dan Aqil.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Abdurrahman bin Aqil | |
|---|---|
| Nama asal | عبد الرحمن بن عقيلcode: ar is deprecated |
| Meninggal | 680 Karbala |
| Kebangsaan | Bani Hasyim |
| Suami/istri | Khadijah binti Ali |
| Anak | Sa'id Aqil |
| Orang tua |
|
Abdurrahman bin Aqil (bahasa Arab: عبد الرحمن بن عقيلcode: ar is deprecated ) adalah salah satu anggota Bani Hasyim yang menjadi pendukung sepupunya, Husain bin Ali, dalam Pertempuran Karbala.[1][2] Ia merupakan putra dari Aqil bin Abi Thalib dan ibunya merupakan budak-selir (أم ولد).[3] Ia merupakan menantu Ali bin Abi Thalib karena menikah dengan putrinya yang bernama Khadijah binti Ali.[4] Mereka dikaruniai anak-anak yang bernama Sa'id dan Aqil.[5][6]
Abdurrahman bin Aqil turut serta bersama Husain dalam Pertempuran Karbala pada tahun 680 dan terbunuh bersamanya.[7] Ia juga didampingi keturunan Aqil lainnya seperti saudaranya, Abdullah bin Aqil dan Ja'far bin Aqil,[8][9] serta keponakannya, Muhammad bin Abi Sa'id bin Aqil dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.[8][9] Abdurrahman dibunuh oleh salah satu pasukan Umar bin Sa'ad yang bernama Utsman bin Khalid al-Juhani.[9]