Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili, sering juga sebut Syekh Abdurrauf Singkel, adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam dan tarekat Syattariyah di Sumatra dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelar lainnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala; yang dalam bahasa Aceh artinya "Syekh Ulama di Kuala".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Teungku Syiah Kuala | |
|---|---|
Syaikh Abdurrauf al-singkili alias Syiah Kuala | |
| Gelar | Teungku Syiah Kuala |
| Nama | Aminuddin Abdurrauf |
| Nisbah | as-Singkili |
Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (bahasa Arab: الشيخ عبد الرؤوف بن علي الفنصوري السنكيليcode: ar is deprecated , lahir Singkil, Aceh 1024 H/1615 M - wafat Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M), sering juga sebut Syekh Abdurrauf Singkel, adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal.[1] Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam dan tarekat Syattariyah di Sumatra dan Nusantara pada umumnya.[2] Sebutan gelar lainnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala; yang dalam bahasa Aceh artinya "Syekh Ulama di Kuala".[3]
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Jawi tsuma al-Fansuri as-Singkili.[4] Menurut Ali Hasjmy dan Peunoh Daly, keluarganya diduga berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13.[5] Namun, hal itu belum dapat dipastikan karena minimnya catatan sejarah keluarganya, serta tidak didukung nama keluarga yang mencirikan keturunan Arab ataupun Persia.[6] Terdapat dugaan berdasarkan namanya yang tertulis pada karya-karyanya, bahwa ia keturunan Melayu dari Fansur (Barus);[7] sedangkan menurut riwayat lisan masyarakat Simpang Kanan di Aceh Singkil, ia keturunan Batak yang beragama Islam.[7]
Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri, kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh.[6] Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.[1][8]
Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas,[9] syaikh untuk tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya.[10] Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta'wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.[11]
Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Ulama nusantara yang pernah akrab dengannya selama belajar di Mekkah adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dari Makassar.[8] Sedangkan murid-murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin dari Ulakan, Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Syekh Abdul Malik bin Abdullah (Tok Pulau Manis) dari Trengganu, dan Baba Daud al-Rumi dari Banda Aceh.[8]
Azyumardi Azra menyatakan[8] bahwa banyak karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah:[6]
Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deah Raya, kecamatan Syiah Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.[12] Berkas:Jirat Syiah Kuala.JPG