Syekh Abdul Hamid Khatib adalah seorang diplomat yang menjadi duta besar pertama Kerajaan Arab Saudi untuk Pakistan. Ia dikenal pula sebagai penulis tafsir Alquran dan penyair. Ia merupakan putra dari Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam dan khatib di Masjidil Haram sekaligus mufti Mazhab Syafi'i.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

![]() | |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 13 Juli 1898 Makkah |
| Kematian | 29 Agustus 1961 Damaskus |
| Ambassador of Saudi Arabia to Pakistan (en) | |
| 1953 – 1954 | |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | diplomat, mufasir |
| Keluarga | |
| Anak | Fuad Abdul Hamid Khatib, Lutfiah Al-Khatib |
| Orang tua | Ahmad Khatib Al-Minangkabawi |
| Saudara | Abdul Malik al-Khathib |
Syekh Abdul Hamid Khatib (13 Juli 1898 – 29 Agustus 1961) adalah seorang diplomat yang menjadi duta besar pertama Kerajaan Arab Saudi untuk Pakistan.[1] Ia dikenal pula sebagai penulis tafsir Alquran dan penyair.[2] Ia merupakan putra dari Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam dan khatib di Masjidil Haram sekaligus mufti Mazhab Syafi'i.
Semasa hidupnya, Abdul Hamid menulis beberapa buku, yakni Tafsir Al-Khatib Al-Makki dan buku biografi ayahnya berjudul Ahmad Khatib Ba'its Nahdhah Islamiyah Taharruriyah fi Indunisiya.[3][4] Anaknya, Fuad Abdul Hamid Khatib, mengikuti jejaknya sebagai diplomat.
Lahir pada 13 Juli 1898 [Kalender Hijriyah: 24 Safar 1316], Abdul Hamid merupakan anak ketiga Ahmad Khatib. Dua anak Ahmad Khatib yang lebih tua yakni, Abdul Karim dan Abdul Malik Khatib.[5] Abdul Hamid belajar Alquran pertama kali kepada kepada ayahnya. Setelah itu, ia belajar kepada ulama-ulama di Masjidil Haram, seperti Muhammad Said bin Muhammad al-Yamani dan Umar bin Abi Bakr Bajunid. Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dalam autobiografi yang selesai ditulisnya pada tahun 1334 H mencurahkan harapannya pada Abdul Hamid agar kelak menjadi "penerus" setelah dirinya wafat.[3]
Sebelum menjadi diplomat, ia pernah menjadi staf pengajar di Masjidil Haram dan anggota parlemen dari sekitar tahun 1936 sampai 1946. Ia pernah mengunjungi Ampek Angkek, kampung kelahiran ayahnya pada Oktober 1937. Setelah Indonesia merdeka, Raja Abdul Aziz menunjuknya untuk memimpin delegasi mewakili kerajaan pada upacara serah terima kekuasaan Belanda ke Indonesia.
Pada 1954, ia mengundurkan diri sebagai duta besar Kerajaan Arab Saudi untuk Pakistan setelah menderita penyakit jantung. Ia menghabiskan sisa umurnya di Al-Zabadani, salah satu desa di Damaskus, dan meninggal pada 29 Agustus 1961 [Kalender Hijriyah: 18 Rabiulawal 1381].
Abdul Hamid diketahui memiliki 14 karya tulis, baik yang telah tercetak maupun yang masih dalam bentuk manuskrip, di antaranya: