Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni, , atau lahir pada 3 Dzulhijah 362 H, merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli geografi, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Nama dalam bahasa asli | (fa) ابوریحان محمد بن احمد البیرونی |
|---|---|
| Biografi | |
| Kelahiran | (ar) محمد بن أحمد البِيرُونيِّ 4 September 973 Kath (Keamiran Samaniyah) |
| Kematian | 9 Desember 1048 Ghazni (Ghaznawiyah) |
| Data pribadi | |
| Kebangsaan | Iran |
| Agama | Islam dan Islam Sunni |
| Kegiatan | |
| Spesialisasi | Fisika, matematika, astronomi, ilmu alam, sejarah, Kronologi, laborer (en) |
| Pekerjaan | filsuf, sejarawan, astrologer (en) |
| Periode | Zaman Kejayaan Islam dan Abad Syi'ah |
| Murid dari | Abu Nashr Mansur |
| Karya kreatif | |
Karya terkenal | |
Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni (juga, Abu Raihan al-Biruni Biruni, al-Biruni), (bahasa Persia: ابوریحان محمد بن احمد بیرونی ; bahasa Arab: أبو الريحان محمد بن أحمد البيروني), (4 September 973 – 13 Desember 1048) atau lahir pada 3 Dzulhijah 362 H, merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli geografi, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.[1]
Al-Biruni dilahirkan di Khawarizmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.
Al-Biruni merupakan teman filusuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain bin Abdullah bin Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma'mun Khawarazmshah, namun pada 1017 ia dikudeta, dalam kondisi kacau datanglah pasukan Sultan Mahmud dari Ghazni menaklukan. Abu Raihan Al-Biruni ikut mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani dia dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya.[1]
Buku Al-Biruni tentang sejarah India ditulis pada 1030 dan diterjemahkan pada 1888 ke dalam bahasa Inggris menjadi buku terlengkap tentang sejarah India. Dia juga menguasai beberapa bahasa diantaranya bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber, bahasa Sanskerta.
Ia juga membahas tentang geografi India. Menurutnya, lembah Sungai Hindus dan India pada umumnya, awalnya terbenam dalam laut dan kemudian secara bertahap menjadi penuh endapan yang dibawa air sungai (alluvium).

Beberapa tahun kemudian, al-Biruni menulis buku tentang masalah-masalah geometri, aritmetika, astronomi dan astrologi berjudul Tafhim li Awa'il Sina'atut Tanjim. Selain itu, khusus di bidang astronomi, ia menulis al-Qanun al-Mas'udi fil Hai'ah wan Nujum. Buku ini juga memperoleh penghargaan di Barat dan menjadi bacaan standar di berbagai universitas Barat selama beberapa abad. Sementara dalam bidang pertambangan ia menulis al-Jamahir fi Ma'rifatil Jawahir pada 1041. Sedangkan di bidang kedokteran al-Biruni menulis as-Saydala fit Thib. Buku ini bisa dibilang ensiklopedi kedokteran lengkap yang merangkum informasi tentang kedokteran dan pengobatan pada masanya.
Al-Biruni juga pembuat instrumen yang kompeten. Dia membuat sebuah astrolab yang dapat menentukan waktu terbit dan terbenam matahari dan bintang serta menemukan posisi benda-benda langit pada saat tertentu. Selain itu ia juga membuat kalender mekanik yang dapat menunjukkan posisi matahari dan bulan pada hari-hari tertentu. Al-Biruni juga menguasai berbagai bahasa secara aktif, seperti bahasa Arab, Turki, Sanskerta, Yahudi dan Suryani.
Pada tahun 1050/442H al-Biruni meninggal dunia dalam usia 77 tahun (Masehi) atau 80 tahun dalam hitungan tahun Hijriyah.

Al-Biruni menulis banyak buku dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab.
Berikut karya-karya Al-Biruni ialah:
Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.

Sumbangannya pada bidang matematika yakni: