Anselma Widha Prihandita adalah penulis fiksi Indonesia. Pada 2025, Prihandita memenangkan Penghargaan Nebula untuk kategori novel pendek terbaik dari Science Fiction and Fantasy Writers Association (SFFWA), sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang menerimanya. Karyanya yang berjudul Negative Scholarship on the Fifth State of Being (2024) diumumkan menjadi salah satu pemenang pada Maret 2025. Ia menerima penghargaan secara resmi pada 5-8 Juni 2025 di Kansas City Marriott Country Club Plaza. Dalam karyanya tersebut, Prihandita menyorot peran kecerdasan buatan (AI) yang semakin mendominasi dalam kehidupan manusia, tetapi juga berdampak buruk pada peminggiran pengetahuan. Kecerdasan buatan memperburuk kondisi marjinalisasi, termasuk ketidakmampuan mesin AI memotret utuh pengalaman manusia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Novelette karyanya tersebut bergenre fiksi spekulatif.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Biografi | |
|---|---|
| Data pribadi | |
| Pendidikan | Universitas Indonesia - Sastra Inggris Universitas Washington |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | penulis, dosen |
| Karya kreatif | |
Karya terkenal
| |
Penghargaan
| |
Anselma Widha Prihandita adalah penulis fiksi Indonesia. Pada 2025, Prihandita memenangkan Penghargaan Nebula untuk kategori novel pendek terbaik (best novelette) dari Science Fiction and Fantasy Writers Association (SFFWA), sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang menerimanya.[1][2] Karyanya yang berjudul Negative Scholarship on the Fifth State of Being (2024) diumumkan menjadi salah satu pemenang pada Maret 2025. Ia menerima penghargaan secara resmi pada 5-8 Juni 2025 di Kansas City Marriott Country Club Plaza.[3] Dalam karyanya tersebut, Prihandita menyorot peran kecerdasan buatan (AI) yang semakin mendominasi dalam kehidupan manusia, tetapi juga berdampak buruk pada peminggiran pengetahuan. Kecerdasan buatan memperburuk kondisi marjinalisasi, termasuk ketidakmampuan mesin AI memotret utuh pengalaman manusia dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan.[1] Novelette karyanya tersebut bergenre fiksi spekulatif.
Prihandita merupakan lulusan Sastra Inggris Universitas Indonesia dan menyelesaikan studi S3 dalam bidang bahasa dan retorika dari Universitas Washington.[4] Saat ini, ia juga menjadi tenaga pengajar di kampus yang sama di Amerika. Ia menerima teaching assistantship untuk menjalani perkuliahan S2 dan S3, atau semacam beasiswa pembebasan biaya kuliah. Sebagai syaratnya, Prihandita harus menjadi instruktur di kelas mahasiswa S1.[1] Selama di Amerika, ia juga memperoleh beasiswa kepenulisan, antara lain Octavia Butler (2024) dan Fresh Voices (2023).[5]
Prihandita tumbuh dengan membaca cerita rakyat dan dongeng Indonesia sebelum kemudian beralih ke novel-novel terkenal seperti Harry Potter dan The Lords of The Rings. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk menjadi penulis fiksi. Ia memutuskan kembali serius menulis saat pandemi Covid-19 setelah beberapa waktu disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pengajar.[1]