Abdul Djalil Pirous dikenal sebagai A.D. Pirous adalah seniman seni rupa Indonesia. Ia merupakan perintis pendidikan desain grafis di Seni Rupa ITB dan pendiri studio seni dan desain bernama Decenta (1973-1983).
Abdul Djalil Pirous[2] dikenal sebagai A.D. Pirous (11 Maret 1932–16 April 2024)[3][4] adalah seniman seni rupa Indonesia. Ia merupakan perintis pendidikan desain grafis di Seni Rupa ITB dan pendiri studio seni dan desain bernama Decenta (1973-1983).[5]
Tahun 1968 - 1982 menjadi anggota Komisi Nasional Indonesia untuk International Association of Art (IAA) di Bandung.[8]
Pirous pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain di ITB pada 1984.[9] Sumber yang lain menyebutkan bahwa pada tahun 1988 Abdul Djalil Pirous menjabat sebagai Dekan Departemen Seni Rupa ITB.[10] Pada tahun 1993, ia dikukuhkan sebagai salah satu guru besar di ITB; kemudian menjadi guru besar emeritus dari perguruan tinggi yang sama pada 2005.[7]
A.D. Pirous menikah dengan Erna Garnasih Pirous, yang juga seorang pelukis. Erna kuliah di ITB dan juga di Perancis, dan dia termasuk generasi ke-2 seniman perempuan Indonesia. Pirous dan Erna Pirous memiliki tiga orang anak, Mida Meutia, Iwan Meulia, dan Rihan Meurila.[11]
Pada tahun 2003, pasangan ini mulai membangun rumah impian mereka di Bandung, yang mereka selesaikan pada tahun 2004. Masih berjuang di usia 80-an, mereka menambahkan Gelleri bernama "Serambi Pirous" pada tahun 2017, tempat mereka bekerja dan menampilkan karya seni mereka.[12][13]
Karya
Abdul Djalil Pirous memilki pengalaman berkarya sejak tahun 1960-an sampai akhir hayat tahun 2024. Karya-karya awal Pirous merupakan lukisan abstrak dan etsa yang mulai dikerjakan sejak 1970-an. Pirous dapat dianggap sebagai seniman pembaharu seni lukis modern dengan ciri abstrak yang khas dikembangkan oleh generasinya di Fakultas Seni Rupa ITB. Medan seni rupa Indonesia menganggap Pirous sebagai perintis "seni rupa modern Indonesia bernafaskan Islam" karena membawa unsur kaligrafi Arab sebagai bahasa visualnya dan menjawab kebutuhan politik kebudayaan pemerintah Republik Indonesia untuk identitas nasional terutama pada saat Festival Istiqlal I (1991).[14][15]Namun tidak semua karya Pirous membawa unsur kaligrafi Arab karena dia tidak pernah merasa sebagai seorang pendakwah.[16]
Sebagai pelukis, perjalanan kariernya dimulai sejak 1960. Karya-karyanya telah dipamerkan dalam ratusan kali pameran berskala nasional maupun internasional.[17] Pameran tunggalnya telah dilaksanakan lima kali termasuk di antaranya: Pameran Retrospektif I untuk karya 1960-1985, di TIM pada tahun 1985 dan Retrospektif II untuk karya 1985-2002, di Galeri Nasional, Jakarta pada tahun 2002.
Gaya lukisnya mudah dikenal adalah tekstur dan warna-warna akrilik dibuat sangat terkomposisi dan sabar. Cara melukisnya pun dibuat dengan cara melapisi warna dengan pasta pualam dan pisau palet. Pembeda pameran itu yaitu Ayat-ayat Semesta yang berfokus pada gaya karya Pirous.[18]
Sejak sekitar tahun 2010, minat internasional yang meningkat pada seni modern dan abstrak Asia Tenggara membawa pelukis seperti A.D. Pirous, Ahmad Sadali, Fadjar Sidik dan Umi Dachlan ke pasar seni internasional.[19]
Kaligrafi Islam
Dari beragam pokok pembahasan Pirous dalam berkarya selain benda alam, lansekap, kehidupan sehari-hari, figur binatang, abstrak dan yang lainnya karya kaligrafi yang menyita waktu, tenaga dan pikiran Pirous. Pertama kali setelah lahirnya karya cetak etsa Pirous menampilkan kaligrafi Arab, Surah Al-Ikhlas: Pure Faith (1970), istilah 'kaligrafi' 'Islam' di Indonesia (dua istilah yang berdiri sendiri dan mengiringi 'seni' maupun 'lukisan' 'modern' ) yang melekat dengan Pirous.[20]
Awal Pirous memulai berkarya Kaligrafi ketika Pirous melihat pameran Fragmen Keramik, manuskrip Kuno Islam, Kaligrafi Al-Qur'an dan lukisan miniatur yang telah dipamerkan di Metropolitan Museum of Art, New York Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Dari melihat objek-objek tersebut membuat Pirous mengingat kampung halamannnya di Aceh dan memberikan pengaruh kepada karya-karya Pirous.
Arsitektur
Gedung Bank Indonesia di Padang. Abdul Djalil Pirous ikut terlibat dalam menggarap dekorasi dan ornamen-ornamennya.
A.D. Pirous desain ornamen untuk gedung Bank Indonesia di Padang.
Decenta Design Studio
Pada tahun 1973, A.D. Pirous mendirikan Decenta Design Studio, singkatan dari Design Center Association bersama dengan Adriaan Palar, T. Sutanto dan G. Sidharta. Anggota biro desain diketahui menggunakan sablon sebagai media ekspansi seni grafis Indonesia. Grup ini merupakan perpanjangan dari karya bersama pertama mereka dari tahun 1971, folio 18 sablon dari seniman-seniman terkemuka di ITB yang diterbitkan dengan judul Grup 18.[21] Mereka cukup intensif bereksperimen dengan teknik sablon atau sablon untuk mencari diri identitas dalam seni rupa modern Indonesia.[22] Studio Decenta ditutup pada tahun 1983.[23]
Pirous adalah salah satu pelukis terkemuka Indonesia, dan lukisannya dipajang di koleksi Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.[24]
Pameran
Karya-karya A.D. Pirous telah dipamerkan di ratusan pameran nasional dan internasional.[25][26]
Pameran tunggal
Pameran Seni Lukis Kaligrafi Islam dalam Chase Manhattan Art Program, Jakarta, 1972
Pameran Seni Grafis Islam dalam Chase Manhattan Art Program, Jakarta, 1976
Retrospektif I untuk karya-karya 1960-1985, di Taman Izmail Marzuki, 1985
Retrospektif II untuk karya-karya 1985-2002, di Galeri Nasional, Jakarta, 2002
Ja'u Timu di Selasar Sunaryo Art Space, 2012
Verses of the Universe di Kuala Lumpur, Malaysia, 2015
A.D Pirous: Spiritual Calligraphy. World Trade Center, Jakarta, 2016[27]
Suaka - Modernist Series #1, Art Agenda S.E.A, Jakarta, 2022[28]
↑George, Kenneth M (2012). Melukis Islam Amal dan Etika Seni Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. ISBN978-979-433-698-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Cetak Saring Kelompok Decenta 1973–1983: Infrastruktur Seni dan Identitas Keindonesiaan*. Chabib Duta Hapsoro, 20 Februari 2016
↑Periode Decenta Seni Grafis Indonesia Di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta. Ninin Rahayu Sari, 30. January 2018. Home.co.id Diarsipkan 2021-11-22 di Wayback Machine.
A.D. Pirous: Vision, faith, and a journey in Indonesian art, 1955-2002. by K.M. George & Mamannoor. (Yayasan Serambi Pirous, 2002 - 255 halaman) ISBN978-9799677402
A.D. Pirous: Melukis itu Menulis. ny Dudy Wiyancoko, Editor. (ITB, Bandung, 2003 - 252 halaman) ISBN9799299489
Melukis Islam: Amal dan Etika Seni Islam di Indonesia. by Kenneth M. George, Hawe Setiawan (Translator), Dudy Wiyancoko (Editor) dan A.D. Pirous (Yayasan Serambi Pirous, 2009 - 250 halaman) ISBN978-9794336984
Notes of a collector: A.D. Pirous' spiritual message. by Wahyuni Bahar. (PT Telaga Ilmu Indonesia, 2012 - 87 halaman) ISBN978-9791980081