13 Days, 13 Nights adalah film triler politik yang disutradarai oleh Martin Bourboulon, dari skenario yang ditulis Bourboulon bersama Alexandre Smia berdasarkan novel non-fiksi berjudul sama karya Mohamed Bida. Film ini dibintangi oleh Roschdy Zem, Lyna Khoudri dan Sidse Babett Knudsen, dan mengangkat peristiwa evakuasi Kedutaan Besar Prancis di Kabul pada tahun 2021, ketika kota tersebut diambil alih oleh Taliban.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| 13 Days, 13 Nights | |
|---|---|
Poster rilis | |
| Nama lain | |
| Prancis | 13 jours, 13 nuits |
| Sutradara | Martin Bourboulon |
| Produser |
|
| Ditulis oleh |
|
Berdasarkan | 13 jours, 13 nuits dans l’enfer de Kaboul by Mohamed Bida |
| Pemeran |
|
| Penata musik | Guillaume Roussel |
| Sinematografer | Nicolas Bolduc |
| Penyunting | Stan Collet |
Perusahaan produksi | |
| Distributor | Pathé |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 112 menit |
| Negara |
|
| Bahasa |
|
| Anggaran | €30 juta[1] |
Pendapatan kotor | $4 juta |
13 Days, 13 Nights (Prancis: 13 Jours, 13 Nuits) adalah film triler politik yang disutradarai oleh Martin Bourboulon, dari skenario yang ditulis Bourboulon bersama Alexandre Smia berdasarkan novel non-fiksi berjudul sama karya Mohamed Bida. Film ini dibintangi oleh Roschdy Zem, Lyna Khoudri dan Sidse Babett Knudsen, dan mengangkat peristiwa evakuasi Kedutaan Besar Prancis di Kabul pada tahun 2021, ketika kota tersebut diambil alih oleh Taliban.
Film ini pertama kali ditayangkan secara perdana di luar kompetisi pada Festival Film Cannes 2025 pada 23 Mei. Penayangan di bioskop Prancis dilakukan pada 27 Juni oleh Pathé. Secara umum, film ini mendapat ulasan positif, dengan penampilan Roschdy Zem yang banyak menuai pujian dari kritikus. Namun demikian, film ini tidak berhasil meraih kesuksesan komersial di box office Prancis, meskipun diproduksi dengan anggaran sebesar €30 juta.
Pada 15 Agustus 2021, ketika pasukan Amerika Serikat menarik diri dari Afghanistan dan Kabul jatuh ke tangan Taliban, ratusan warga Afghanistan berkumpul di gerbang Kedutaan Besar Prancis di Afghanistan untuk mencoba melarikan diri bersama pasukan NATO. Martinon, Duta Besar Prancis, dievakuasi dengan helikopter ke markas pasukan Amerika Serikat di Bandara Kabul, sementara sejumlah personel DGSE (badan intelijen luar negeri Prancis) dan staf kedutaan tetap bertahan di lokasi.
Sementara itu, Mohamed Bida menyusuri kota untuk mencari Sediqi, seorang penerjemah Afghanistan yang pernah bekerja sama dengan pasukan pendudukan. Dalam perjalanannya, ia menyaksikan Kate, seorang jurnalis yang kameranya ditembak setelah mempertanyakan penindasan brutal Taliban terhadap perempuan. Meski Martin dan anggota DGSE lainnya menunjukkan keraguan, Bida berhasil meyakinkan Martinon untuk mengizinkan masuknya seluruh warga sipil ke dalam kompleks kedutaan. Di antara mereka terdapat Eva, seorang pekerja bantuan kemanusiaan keturunan Prancis-Afghanistan, serta ibunya, Amina.
Rencana evakuasi pertama gagal setelah helikopter Amerika diserang oleh pasukan Taliban di luar area kedutaan. Saat melakukan negosiasi dengan Taliban, frustrasi Bida semakin meningkat ketika para pemberontak merendahkan Eva—yang bertindak sebagai penerjemah dari bahasa Dari ke bahasa Prancis—serta mengajukan berbagai hambatan untuk mengizinkan perjalanan aman bagi sekitar 400 pengungsi. Di dalam kedutaan, Kate menentang keputusan DGSE untuk meninggalkan sejumlah pria tak dikenal, dengan menyatakan bahwa mereka adalah seniman lokal. Tanpa menunggu persetujuan resmi dari Martinon, Bida memutuskan untuk mengevakuasi seluruh warga sipil menggunakan konvoi enam bus.
Dalam perjalanan, konvoi tersebut dikepung oleh anggota Taliban yang menuntut pemeriksaan identitas tambahan terhadap para penumpang. Bida kembali berusaha bernegosiasi, sementara Kate dan beberapa warga sipil mendapat ancaman dari pemberontak bersenjata. Mendekati Bandara Kabul, konvoi kembali dihentikan dan diperiksa, kali ini oleh sekelompok kecil Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan yang menjaga jalur bersama pasukan Amerika. Mendekati bandara, bus terakhir terjebak di sebuah gerbang akibat tinggi bus yang melewati tinggi pagar pembatas, memaksa Kate dan Amina melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju gerbang yang dipenuhi ribuan warga Afghanistan yang berusaha melarikan diri.
Di dalam bandara, Martinon dan Bida menerima informasi dari CIA mengenai rencana serangan teroris ISIS-K yang menarget gerbang bandara. Bida dan Eva menuju pos evakuasi utama dengan harapan dapat menyelamatkan Amina dan rombongan bus, sementara militer Amerika Serikat berupaya menahan kemungkinan penyerbuan massal. Bida berhasil menyelamatkan sebagian besar penumpang bus sebelum gerbang ditutup, namun Kate dan Amina tertinggal di tengah kerumunan yang semakin tidak terkendali. Melalui sambungan telepon, Eva mengarahkan ibunya menuju pos evakuasi terakhir yang masih dibuka. Di lokasi tersebut, seorang marinir Amerika bernama Nicole Gee memperkenalkan diri kepada Bida sambil mengeluhkan kurangnya pelatihan yang memadai bagi timnya.
Bida berpamitan dengan Sediqi, yang meminta bendera Republik Islam Afghanistan, lalu bergegas menuju pos evakuasi terakhir, tempat pasukan Amerika kesulitan menjaga ketertiban. Eva berhasil menyelamatkan Aminda yang terluka dari kerumunan yang kacau, tetapi Nicole menyadari keberadaan seorang pelaku bom bunuh diri di tengah massa. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 11 anggota militer Amerika Serikat, termasuk Nicole, serta melukai Bida, Eva, Aminda, dan Kate. Saat salah satu pesawat terakhir bersiap lepas landas, Bida meengambil sebuah bendera Republik Islam Afghanistan dan segenggam tanah sebagai kenang-kenangan.

Bourboulon menemukan novel karya Bida ketika sedang mengerjakan penyuntingan film The Three Musketeers: Milady (2023). Ia tertarik pada detail operasi yang digambarkan secara “teliti” serta pada dimensi emosional yang menyertainya.[2] Proyek ini menandai peralihan Bourboulon dari film berlatar periode sejarah menuju drama kontemporer.
Pengambilan gambar utama dilakukan di Morocco, dengan beberapa adegan tambahan direkam di Prancis. Adegan laga melibatkan para pemeran lokal serta penasihat militer untuk merekonstruksi suasana kacau di Kabul.
Film ini ditayangkan perdana di luar kompetisi pada Festival Film Cannes 2025 pada 23 Mei.
Film ini mulai diputar di 526 bioskop Prancis pada 27 Juni 2025. Hingga akhir penayangan, film tersebut mencatat 468.533 penonton di box office Prancis,[3][1] dengan pendapatan global sebesar 4 juta dolar AS, berbanding dengan anggaran produksi sebesar €30 juta.[4]
Hak distribusi di Amerika Serikat diperoleh oleh Samuel Goldwyn Films tak lama sebelum penyelenggaraan American French Film Festival pada bulan Oktober.[5]