Jakarta Aktual – 16 Juli 2026 | Respons keras China seusai AS kembali serang Iran dan berlakukan blokade di dekat Selat Hormuz menjadi sorotan dunia. Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer ke Iran selama tiga malam berturut-turut, menargetkan sistem pertahanan pantai, rudal, drone, dan fasilitas maritim di berbagai wilayah Iran. Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain serta dua kapal tanker UEA di Selat Hormuz, menewaskan satu awak dan melukai delapan orang lainnya.
AS memberlakukan kembali blokade terhadap Iran dan mengenakan tarif 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai langkah pengendalian jalur pelayaran strategis tersebut. Respons keras China seusai AS kembali serang Iran dan berlakukan blokade di dekat Selat Hormuz ini menunjukkan ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran.
Di tengah eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS), teka-teki mengenai sosok yang memegang kendali penuh atas pemerintahan Teheran terus menjadi sorotan. AS secara agresif berupaya memproyeksikan citra bahwa internal Teheran saat ini tengah didera kekacauan kepemimpinan yang akut. Klaim tersebut muncul setelah pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta deretan pejabat senior lainnya pada fase awal perang.
Respons keras China seusai AS kembali serang Iran dan berlakukan blokade di dekat Selat Hormuz ini juga memperlihatkan posisi defensif yang solid dari pemerintahan Iran, terutama dalam mempertahankan supremasi pengawasan koridor maritim di Selat Hormuz dari gempuran masif militer AS. Roda pemerintahan masa perang Iran saat ini secara de facto digerakkan oleh aliansi komandan militer dan elite keamanan senior.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menegaskan, kapal tanker berbendera Curaçao bernama Belma diserang menggunakan rudal Hellfire saat menuju Pulau Kharg, salah satu terminal ekspor minyak utama Iran, pada Rabu (15/7/2026). Menurut CENTCOM, kapal tersebut tidak membawa muatan saat berlayar dan mengabaikan beberapa kali peringatan ketika berusaha melanggar blokade laut yang kembali diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Respons keras China seusai AS kembali serang Iran dan berlakukan blokade di dekat Selat Hormuz ini menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap perekonomian global. Dalam situasi ini, penting bagi semua pihak untuk menjaga ketenangan dan mencari solusi diplomatik untuk mengurangi ketegangan dan menghindari eskalasi konflik lebih lanjut.
Respons keras China seusai AS kembali serang Iran dan berlakukan blokade di dekat Selat Hormuz ini juga menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah semakin kompleks dan memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional. Dalam menghadapi situasi ini, semua pihak harus bekerja sama untuk mencari solusi yang damai dan berkelanjutan.