Beranda » Mengapa KDM Pindahkan Satpam Bundaran HI ke Gedung Sate Seusai Insiden Mobil Alphard?
Posted in

Mengapa KDM Pindahkan Satpam Bundaran HI ke Gedung Sate Seusai Insiden Mobil Alphard?

Jakarta Aktual – 27 Juli 2026 | Mengapa KDM pindahkan satpam Bundaran HI ke Gedung Sate seusai insiden mobil Alphard? Pertanyaan ini menjadi perbincangan hangat setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memutuskan untuk memindahkan satpam Fiktor Harefa ke Gedung Sate setelah insiden intimidasi oleh tiga anggota polisi di Bundaran HI.

Insiden tersebut terjadi pada Rabu, 22 Juli 2026, ketika Fiktor Harefa menegur tiga polisi yang menerobos lampu merah di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Fiktor kemudian mengalami intimidasi dan dipaksa bersujud meminta maaf. Setelah insiden ini viral di media sosial, tiga polisi tersebut akhirnya bersujud meminta maaf kepada Fiktor.

Mengapa KDM pindahkan satpam Bundaran HI ke Gedung Sate seusai insiden mobil Alphard? Keputusan ini diambil setelah Fiktor Harefa bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pekerjaan sebagai petugas keamanan di Bandung. Dedi Mulyadi kemudian menawarkan Fiktor untuk bekerja di Gedung Sate, yang saat ini sedang menjalani proyek penataan lingkungan.

Mengapa KDM pindahkan satpam Bundaran HI ke Gedung Sate seusai insiden mobil Alphard? Menurut Dedi Mulyadi, keputusan ini diambil untuk memberikan kesempatan kepada Fiktor Harefa untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai petugas keamanan di Bandung. Dengan demikian, Fiktor dapat meninggalkan insiden intimidasi di Jakarta dan memulai lembaran baru di Bandung.

📖 Baca juga:
Ini temuan KPK saat menggeledah rumah tersangka dan kadis PUPR Sukoharjo, Dugaan Pemerasan di Sukoharjo

Mengapa KDM pindahkan satpam Bundaran HI ke Gedung Sate seusai insiden mobil Alphard? Pertanyaan ini telah terjawab setelah Fiktor Harefa memutuskan untuk menerima tawaran dari Gubernur Jawa Barat. Dengan demikian, Fiktor dapat melanjutkan pekerjaannya sebagai petugas keamanan di Gedung Sate dan meninggalkan insiden intimidasi di Jakarta.

Hal ini menunjukkan bahwa Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, peduli dengan nasib Fiktor Harefa dan ingin memberikan kesempatan kepada Fiktor untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai petugas keamanan di Bandung. Dengan demikian, Fiktor dapat memulai lembaran baru di Bandung dan meninggalkan insiden intimidasi di Jakarta.

📖 Baca juga:
Kemenkes Buat Aturan Penyeragaman Kemasan, 6 Juta Pekerja Terdampak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *