Jakarta Aktual – 09 Juli 2026 | Konflik AS-Iran kembali memanas, harga minyak mentah dunia melonjak menjadi topik hangat di dunia internasional. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangan militer AS terhadap target militer Iran di sekitar Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Timur Tengah, memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi meluasnya konflik dan ancaman terhadap pasokan energi.
Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia, kembali lumpuh setelah lalu lintas kapal anjlok tajam. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa hanya 14 kapal kargo yang melintas Selat Hormuz dalam sehari, turun drastis sejak kesepakatan damai sementara diteken pada pertengahan Juni. Ketegangan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan, dengan harga minyak Brent naik 3,86 dollar AS atau 5,2 persen menjadi 78,02 dollar AS per barrel, level tertinggi sejak 19 Juni 2026. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,08 dollar AS atau 4,4 persen menjadi 73,52 dollar AS per barrel, tertinggi sejak 22 Juni 2026.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara dengan Iran telah berakhir dan mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran. Pernyataan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur distribusi energi dunia. Rupiah Indonesia melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.014 per dolar AS.
Konflik AS-Iran kembali memanas, harga minyak mentah dunia melonjak, dan rupiah melemah, menjadi bukti bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih sangat tinggi. Konflik ini berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi global dan keamanan energi dunia. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik ini dan mencegah meluasnya ketegangan di kawasan.
Konflik AS-Iran kembali memanas, harga minyak mentah dunia melonjak, dan rupiah melemah, menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah masih sangat tidak stabil. Diperlukan kesabaran dan kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan konflik ini dan mencegah dampak negatif terhadap ekonomi global.