Jakarta Aktual – 04 Agustus 2026 | Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz ditembak Iran, kerugian militer Amerika kian membengkak menyusul insiden terbaru yang melibatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan militer Amerika Serikat. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara kedua negara setelah serangkaian serangan dan balasan yang terjadi di wilayah strategis Selat Hormuz.
Menurut laporan, IRGC mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone tempur canggih milik Amerika Serikat, MQ-9 Reaper, di atas Selat Hormuz pada Senin (3/8/2026). Kabar penembakan alutsista bernilai jutaan dolar tersebut disiarkan oleh kantor berita resmi Iran, IRNA. IRGC tidak mengungkapkan secara rinci lokasi maupun rincian kronologi insiden tersebut, selain menyebutnya terjadi di jalur perairan strategis itu.
Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz ditembak Iran, kerugian militer Amerika kian membengkak karena ini bukanlah kejadian pertama. Sebelumnya, terdapat laporan bahwa Iran telah menghancurkan lebih dari dua lusin MQ-9 Reaper sejak perang dimulai. Jumlah tersebut setara dengan hampir 20 persen dari total inventaris drone MQ-9 yang dimiliki Pentagon sebelum konflik pecah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengindikasikan bahwa jalur diplomasi antara kedua negara perseteruan ini sebenarnya tidak sepenuhnya terputus, meskipun Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya sempat menepis tegas keberadaan dialog langsung. Trump mengklaim dari Gedung Putih bahwa komunikasi kembali terjalin atas prakarsa Teheran yang disokong oleh kekuatan regional.
Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz ditembak Iran, kerugian militer Amerika kian membengkak karena kerugian ini tidak hanya terbatas pada biaya material, tetapi juga berdampak pada strategi militer dan posisi Amerika Serikat di kawasan. Dengan harga sekitar USD 30 juta per unit, nilai kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai sekitar USD 1 miliar.
Di tengah ketegangan yang meningkat, IRGC juga mengklaim telah mendokumentasikan penghancuran 41 hingga 42 unit MQ-9 Reaper yang ditembak jatuh saat terbang di wilayah Iran, Teluk Persia, maupun ketika berada di pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania. Dalam gelombang terbaru operasi balasan yang mereka sebut Operation Nasr-2, IRGC mengaku menghancurkan delapan unit MQ-9 Reaper yang masih berada di dalam kontainer di Pangkalan Udara King Faisal, Yordania, serta sejumlah pesawat lain yang berada di landasan.
Kesimpulan dari insiden Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz ditembak Iran, kerugian militer Amerika kian membengkak ini menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari penyelesaian. Dengan kerugian yang terus membengkak dan ketegangan yang meningkat, baik Amerika Serikat maupun Iran perlu mencari jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini dan mencegah eskalasi lebih lanjut.