Jakarta Aktual – 22 Juli 2026 | Presiden Nikaragua Sebut Tidak Akan Ada Lagi Pemilu di Negaranya, hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran bahwa oposisi hanya ingin merebut kekuasaan dan memperkaya diri sendiri. Dalam pidatonya, Daniel Ortega menegaskan bahwa tidak akan ada lagi pemilu di negaranya karena menganggap oposisi hanya ingin merebut kekuasaan dan memperkaya diri sendiri.
Ortega bersama Parlemen Nikaragua berencana membangun sistem yang memblokir oposisi, sementara ia dan istrinya Rosario Murillo telah memperpanjang masa jabatan presiden menjadi enam tahun. Dalam pidatonya, Ortega menyatakan dukungan kepada Nicolas Maduro serta mengecam kebijakan Amerika Serikat di bawah Donald Trump yang dianggapnya merugikan negara-negara Amerika Latin.
Rencana menghapus pemilu disampaikan Presiden Nikaragua Daniel Ortega pada Minggu (19/7). Jika terwujud maka negara di Amerika Tengah itu akan berubah menjadi sistem kekuasaan satu partai. Ortega merupakan eks gerilyawan Nikaragua yang memimpin negara tersebut nyaris dua dekade.
Pada hari Minggu kemarin dia mengancam tak akan ada pemilu, jika ada partai-partai di negaranya terpengaruh atau dikendalikan oleh Washington. Saat bersamaan sejumlah tokoh oposisi Nikaragua meminta AS dan dunia internasional menekan pemerintahan Ortega. Mereka menuntut adanya pergantian pemerintahan yang demokratis di sana.
Rencana Ortega menuai reaksi keras dari Menlu AS Marco Rubio. Ia menyebut pemerintahan Ortega di Nikaragua otoriter. "Presiden AS Donald Trump dan komunitas internasional tidak akan tinggal diam terhadap kediktatoran Murillo-Ortega yang represifnya semakin mendalam di dalam negeri," kata Rubio pada Selasa (21/7) seperti dikutip dari AFP .
"Dia menciptakan instabilitas yang mengancam keamanan nasional Amerika Serikat. Janji Ortega menghapus pemilu menunjukkan sikap pengecutnya serta ketakutannya terhadap keinginan rakyat Nikaragua," sambung dia. Perselisihan AS-Nikaragua bermula pada 2018 saat demo anti-pemerintah pecah di sana. AS terus menerus menekan Ortega dan istrinya Rosario Murillo yang juga Wapres Nikaragua atas tindakan kekerasan dalam demo.
Data PBB demo berujung kekerasan di Nikaragua pada 2018 lalu menewaskan lebih 300 orang. Namun Ortega tidak memberikan penjelasan rinci, apakah dia benar-benar akan menghapus pemilu atau membatasi keikutsertaan partai-partai politik tertentu. Nikaragua sedianya menggelar pemilu berikutnya pada November 2027.
Presiden Nikaragua Sebut Tidak Akan Ada Lagi Pemilu di Negaranya, hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara tersebut akan berubah menjadi sistem kekuasaan satu partai. Ortega dan istrinya Rosario Murillo telah memperpanjang masa jabatan presiden menjadi enam tahun, dan mereka berencana membangun sistem yang memblokir oposisi.
Kesimpulan dari pernyataan Presiden Nikaragua Sebut Tidak Akan Ada Lagi Pemilu di Negaranya adalah bahwa negara tersebut berada dalam situasi yang tidak stabil dan penuh ketegangan. Rencana menghapus pemilu telah menimbulkan reaksi keras dari AS dan dunia internasional, dan menuntut adanya pergantian pemerintahan yang demokratis di Nikaragua.