Jakarta Aktual – 01 Juli 2026 | Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih setelah Amerika Serikat mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa negaranya telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah sejak blokade dicabut.
Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih karena adanya kesepakatan bilateral antara Iran dan Amerika Serikat pada 17 Juni 2026. Kesepakatan ini membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz dan memulai masa negosiasi menuju perdamaian permanen selama 60 hari.
Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih, menandai pemulihan signifikan pada sektor energi yang menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara tersebut. Perusahaan pelacak kapal tanker TankerTrackers.com memperkirakan bahwa jumlah ekspor minyak Iran bahkan telah mencapai sekitar 50 juta barel sejak blokade dicabut.
Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih, dengan harga jual minyak yang naik sekitar 20 persen dibandingkan sebelum konflik. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan aktivitas ekspor dan penurunan risiko distribusi minyak Iran setelah meredanya ketegangan di kawasan.
Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih, menunjukkan bahwa negara tersebut telah berhasil memulihkan sektor energinya setelah mengalami penurunan akibat blokade. Dalam periode tersebut, Iran membebaskan biaya transit kapal yang melintasi Selat Hormuz, namun tetap menegaskan tidak akan mengurangi kedaulatannya atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Kesimpulan, Iran akui tak bisa ekspor minyak selama blokade AS, kini ekspor melonjak hingga 40 juta barel lebih, menandai pemulihan signifikan pada sektor energi Iran. Hal ini terjadi karena adanya kesepakatan bilateral antara Iran dan Amerika Serikat, yang membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz dan memulai masa negosiasi menuju perdamaian permanen selama 60 hari.