Jakarta Aktual – 06 Juni 2026 | Bandung – Potret wajah baru Cicadas yang dirindukan saat ini adalah kala trotoar Bandung kembali bernapas. Trotoar yang dulunya ramai dengan aktivitas toko-toko dan pedagang kaki lima kini terlihat hampir sepi. Namun, tidak semua hal yang terlihat sepi memiliki makna sepi. Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas.
Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas. Papan-papan nama toko yang dulunya terlihat bersinar kini telah pudar. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun, justru di sana lah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Papan-papan nama toko di Cicadas bukan hasil cetak digital. Bukan pula stiker vinil yang bisa dibuat dalam hitungan jam. Inilah hasil karya sign painting, atau yang oleh orang-orang sekarang disebut sebagai vintage sign painting. Huruf-hurufnya dibuat langsung dengan tangan oleh para pelukis reklame masa lalu yang mengandalkan ketelitian tangan dan kepekaan artistik, sebelum mesin cetak digital sekarang ini mengambil alih hampir seluruh wajah kota.
Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas. Papan-papan nama toko yang dulunya terlihat bersinar kini telah pudar. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun, justru di sana lah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas. Papan-papan nama toko yang dulunya terlihat bersinar kini telah pudar. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun, justru di sana lah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas. Papan-papan nama toko yang dulunya terlihat bersinar kini telah pudar. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun, justru di sana lah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas. Papan-papan nama toko yang dulunya terlihat bersinar kini telah pudar. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun, justru di sana lah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Trotoar Cicadas yang dulunya terlihat sibuk telah kembali bernapas. Papan-papan nama toko yang dulunya terlihat bersinar kini telah pudar. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun, justru di sana lah letak pesonanya. Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya.