Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Begini, kasus ini sebetulnya sempat saya majukan pada Wikipedia:Artikel pilihan/Usulan/Piagam Jakarta, tapi saya tergelitik lagi untuk membahasnya ketika bung SV rupa-rupanya membuat dan menerjemahkan artikel en:Oneness Pentecostalism menjadi Pentakosta Keesaan. Nah, yang saya persoalkan apakah tepat "Oneness" bisa diterjemahkan jadi "Keesaan" ? Pasalnya saya jadi ingat dengan pernyataan dari website Bhagavant.com berikut ini:
Mayoritas masyarakat Indonesia percaya bahwa kata “esa” dalam kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” berarti “satu” (mengacu pada bilangan). Jika mengacu pada KBBI, “esa” memang berarti satu, tunggal. Tapi harus diakui bahwa kata “esa” juga kata “maha” diambil dari bahasa Sanskerta, yang kemudian diadopsi oleh KBBI.
Kata “maha” dalam KBBI berarti 1. sangat; amat; teramat; 2. besar. Namun dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa Pali (satu keluarga dengan bahasa Sanskerta), kata “maha” juga berarti “agung”.
Kata “esa” itu sendiri dalam bahasa Sanskerta maupun bahasa Pali bukan berarti “satu” atau “tunggal”, tapi berasal dari kata “etad” yang berarti “ini” (Inggris: this), sebuah kata tunjuk, terutama yang menunjuk pada apa yang paling dekat dengan si pembicara (Sanskrit-English Dictionary, oleh M. Monier William dan Pali-English Dictionary, TW Rhys Davids, William Stede, ). Kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti “tunggal” atau “satu” adalah kata “eka”.
Berikut contoh penerapan kata “esa” yang berarti “ini” dalam bahasa Sanskerta: esa mama sakhi (Skt: एषा मम सखी; baca: esha mam sakhee). Artinya: Ini teman saya.
Penerapan kata “esa” dalam bahasa Pali: “Tasmātihānanda, eseva hetu etaṃ nidānaṃ esa samudayo esa paccayo jarāmaraṇassa, yadidaṃ jāti” (Oleh karena itu Ānanda, ini adalah akar, ini adalah penyebab, asal-mula, kondisi bagi penuaan-dan-kematian—yaitu kelahiran) – Mahānidāna Sutta (Dīgha Nikāya 15. Tipitaka Pali).
Tidak diketahui sejak kapan kata “esa” yang bermakna “ini” menjadi berarti “satu” dalam bahasa Indonesia. Dan pada akhirnya, mengartikan kata “esa” sebagai “satu” yang mengacu pada bilangan, akan menimbulkan kontradiksi.
Ada kemungkinan kata yang dimaksud bukan kata “esa” tetapi sebenarnya adalah kata “eesha” (Skt: ईशा ;baca: isha) dari kata “eesh” (Skt: ईश ;baca: ish) yang terdengar hampir sama dengan kata “esa”. Kata “eesha” sendiri bisa berarti berkuasa, unggul, atau kuat, yang semuanya merupakan kata sifat.
Dari sudut pandang filsafat atau ajaran agama yang meyakini adanya sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak berbentuk, tindakan memberikan atribut “esa” yang diartikan sebagai “satu” dalam pengertian bilangan, tentu merupakan suatu kesalahan tersendiri. Jika sesuatu dapat dihitung jumlahnya maka sesuatu tersebut berarti dapat dilihat dan ini menyalahi ajaran tersebut.
Secara filsafat keagamaan tersebut di atas jelas kata “esa” tidak mengacu pada arti “satu” dalam hal jumlah (bilangan).
Jika mengacu pada arti dalam KBBI maka “maha esa” berarti “sangat/teramat satu/tunggal” atau “sungguh-sungguh/hanya ada satu/tunggal”.
Berbeda jika kata “esa” yang dimaksud adalah kata “eesha” sehingga jika dipasangkan dengan kata “maha” menjadi maha berkuasa (sangat berkuat), maha unggul (sangat unggul), maha kuat (sangat kuat).
Dan jelas dalam bahasa Sanskerta tentu saja “maha esa” bukan berarti “sangat/teramat/sungguh-sungguh/hanya satu”, tetapi menunjuk pada keberadaan apa adanya.
Lalu juga ada ulasan dari Kaskus:
Nah masih banyak yang gagal paham soal pancasila terlebih sila pertama yg berbunyi, "Ketuhanan yang maha esa". Seharusnya, pahami dahulu bagaimana perumusan pancasila ini. Sejarah awalnya bagaimana, dan konteks ketuhanan yg dimaksud itu apa. Lalu arti ESA dalam kalimat tersebut itu maksudnya apa.
Singkatnya, esa dalam pancasila sila pertama bukan lah merujuk pada definisi bilangan yang berarti 1. Melainkan Esa adalah sifat tuhan dengan segala Maha nya. Esa berasal dari bahasa sansekerta yaitu estad atau isa yang berarti mutlak dan maha kuasa yg menunjukkan sifat bukan jumlah / bilangan, nah kalau jumlah itu ika atau eka seperti pada bhinneka tunggal ika yang artinya satu atau tunggal. Definisi Esa sebagai bilangan 1 ini adalah kbbi terbitan pemerintahan Orde Baru.
Padahal, definisi kata Esa dalam pancasila mengambil dari bahasa sansekerta bukan dari kbbi. Jika yang dimaksud tuhan dengan bilangan maksudnya 1 tuhan, maka seharusnya yang dipakai adalah Eka bukannya Esa.
— Kaskus
Nah, yang jadi pertanyaannya, apakah perlu judul Pentakosta Keesaan perlu diubah misalnya jadi "Pentakosta Kesatuan" atau "Pentakosta Manunggal" --Glorious Engine (bicara) 9 Agustus 2022 05.29 (UTC)
Lha, kalo KBBI "hanya mengikuti pergeseran makna", maka ini apa: Ternyata Masih Banyak yang Salah Mengartikan Kata-Kata Ini, Gan!. Ada istilah "canggih" yang tetap diartikan dalam KBBI sebagai "rumit" (karena jaman dulu komputer "canggih" itu rumit) tapi tidak diganti "modern" dalam pengartian saat ini, ada juga kata "acuh" yang tetap diartikan dalam KBBI sebagai "peduli" tapi tidak diganti jadi "tidak peduli" (antonimnya malah) dalam pengartian saat ini, dan masih banyak lagi --Glorious Engine (bicara) 9 Agustus 2022 11.11 (UTC)
Firman.Nst ✉ 9 Agustus 2022 12.35 (UTC)
| kita tidak bisa mengubah apa yang sudah dipahami oleh tidak hanya khalayak ramai, tetapi juga oleh lembaga resmi bahasa seenak hati. |
– komentar tanpa tanda tangan oleh aris riyanto (b • k). 9 Agustus 2022 22.32 (UTC)
Saya bingung mana yang lebih tepat untuk penerjemahan "Grenadier Guards", "Pengawal Penggranat" atau "Penggranat Pengawal". Saya ada kawan yang mengatakan "guards" itu bisa dimaknai sebagai "pasukan", tetapi kenyataannya Grenadier Guards itu berasal dari gabungan pasukan pengawal, sehingga disebut "pengawal". Istilah "penggranat" dari peng- (orang) dan granat, karena itu memang terjemahan langsung untuk istilah "grenadier", kalau memang sudah ada padanannya mohon diberitahukan. Kembali kepada masalah pokok, saya ragu menerjemahkannya ke "Pengawal Penggranat" karena bisa disalahpahami sebagai pengawalnya penggranat, karena "pengawal presiden" dipahami sebagai pengawalnya presiden.
Firman.Nst ✉ 9 Agustus 2022 12.49 (UTC)
"Guards" itu kata jamak dari "Guardian" yang berarti penjaga sedangkan "grenadiers" artinya granat maka kalau kita rangkai menjadi penjaga granat. Bagaimana menurutmu bung? Urang Depok 🏠 9 Agustus 2022 13.01 (UTC)
@Firman.Nst: bagaimana kalau kita menerjemahkan "grenadiers guards" menjadi pasukan pengawal atau penjaga istana? Urang Depok 🏠 15 Agustus 2022 04.09 (UTC)
Kata guards sepengetahuan saya bisa diterjemahkan menjadi garda sebagaimana Swiss Guard menjadi Garda Swiss, untuk grenadier sampai sekarang memang belum ada padanannya, tapi bagaimana jika diterjemahkan menjadi pelempar granat? Ekirahardian (bicara) 19 Agustus 2022 07.40 (UTC)
@Firman.Nst dan Ekirahardian: untuk sementara kalimat grenadiers guards tidak dipadankan dulu karena belum ada kata padanan yang tepat Urang Depok 🏠 19 Agustus 2022 13.55 (UTC)
Setelah dipikir-pikir saya mengartikan grenadiers guards sebagai pasukan penggranat. Bagaimana menurut kalian @Agus Damanik, Firman.Nst, dan Ekirahardian:? Urang Depok 🏠 21 Agustus 2022 14.29 (UTC)
Kalau begitu saya setuju untuk memadankan grenadiers guards sebagai garda penggranat seperti usulan @Agus Damanik dan Firman.Nst: UrangDepok Monggo mampir 22 Agustus 2022 14.22 (UTC)
A yellow-back or yellowback is a cheap novel which was published in Britain in the second half of the 19th century. Setelah saya membaca ini, saya memikirkan padanan bahasa Indonesia untuk kata "yellowback". Namun sayangnya, saya tidak dapat menemukan padanan di mesin penelusur. Dedhert.Jr (bicara) 15 Agustus 2022 03.44 (UTC)
Dedhert.Jr Saya beranggapan bahwa yellow-back istilah bagi buku yang diterbitkan dengan dijual murah pada paruh kedua abad ke-19 sesuai dengan sebutan bahasa inggris yang anda jelaskan bung Urang Depok 🏠 21 Agustus 2022 14.34 (UTC)
Saya mulai mempertanyakan tentang padanan kata "numeral". Biasanya numeral system dipadankan sebagai "sistem bilangan", tetapi untuk numeral yang terdapat asal-usul daerah (katakan Sundanese numerals = angka Sunda). Pertanyaan saya, apakah untuk kasus ini juga dipadankan sebagai "bilangan Sunda"? Atau contoh lain, "Cistertian numerals" sebagai "bilangan Sistersien"? Dedhert.Jr (bicara) 16 Agustus 2022 10.08 (UTC)
| Bilangan (Number) | Angka (Numeral) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Hindu-Arab | Devanagari | Tionghoa | Romawi | Jawa | |
| Sembilan | 9 | ९ | 九 | IX | ꧙ |
Demikian. -- Adiputra बिचर -- 22 Agustus 2022 13.58 (UTC)
@M. Adiputra: maaf saya tidak setuju dengan anda karena seharusnya numeral dapat diartikan dengan bilangan, number adalah angka dan numeral system adalah sistem bilangan UrangDepok Monggo mampir 23 Agustus 2022 04.28 (UTC)
Halo, jadi saat saya menyunting artikel, saya menemukan bahwa terdapat satu bahasa yang antara "sulit" atau "tidak ada" untuk diterjemahkan berdasarkan Eyd. Kata tersebut adalah "autopilot", kata tersebut jika diterjemahkan menjadi "pilot automatis" ataupun "pilot otomatis", tetapi kata tersebut mungkin tidak sesuai dengan Eyd. Jadi saya meminta pendapat apakah saya harus menulis tersebut dengan bahasa aslinya atau dengan bahasa terjemahannya?, atau memungkinkan ada bahasa alternatifnya, terima kasih :)
Judul yang dipermasalahkan: https://en.wikipedia.org/wiki/Tesla_Autopilot
Pinkie Hangout 23 Agustus 2022 04.14 (UTC)
Bagaimana jika kita artikan menjadi "pilot otomatis"? UrangDepok Monggo mampir 23 Agustus 2022 04.24 (UTC)
Pertama, saya setuju dengan Bung RianHS: judul tidak perlu diterjemahkan karena termasuk nama produk. Misalnya, Biore Pore Pack Black dan Biore Pore Pack Cherry Blossom. Di BPOM , mereka terdaftar sebagai "Pore Pack ...", demikian mereka tertera di kemasan (silakan google sendiri hehe) dan demikian mereka tertera di media yang ditinjau oleh nakes meskipun ada istilah "plester pengangkat komedo".
Kedua, saya tidak setuju dengan "pilot otomatis", saya menyarankan penggunaan "pengendara otomatis" (kalau perlu) dalam tubuh artikel seperti di atau "pengendara otonom" dari "kendaraan otonom" seperti di . Mengapa? Konteks yang ada yaitu produk itu adalah robot untuk mobil hehe (pilot berkonotasi dengan penerbang pesawat). Handarii (bicara) 24 Agustus 2022 13.30 (UTC)
Bisakah Wikipedia Bahasa Indonesia melarang penggunaan kata "beliau" dan menggunakan bot untuk menggantinya dengan kata panggil "ia"? "Beliau" menandakan penghormatan, sedangkan Wikipedia wajib bersikap netral terhadap konten setiap artikelnya. Penggunaan kata "beliau" juga menunjukkan bahwa pembuat artikel adalah penggemar tokoh terkait. Ditambah lagi, di beberapa tempat musim kampanye sedang berlangsung dan hal ini dapat memicu kecurigaan media massa daerah bahwa Wikipedia mendukung tokoh tertentu. Terima kasih. Hysocc, Let's talk 23 Agustus 2022 07.35 (UTC)
Tidak setuju untuk pemblokiran dan pelarangan kata tersebut. Selain mengusung konsep "kenetralan", Wikipedia juga mengusung konsep "kebebasan" dalam artian selama tidak merusak; maka tidak perlu dilakukan pelarangan dan pemblokiran. Karena jika hal-hal seperti ini saja diblokir, maka ke depan akan muncul pemblokiran kata-kata serupa yang justru akan merusak dan "mencoreng" citra Wikipedia sebagai ensiklopedia bebas. Usul saya, cukup dirapikan kosmetikanya menggunakan bot untuk mengganti kata "beliau" dengan "ia" atau dengan kata sejenisnya, tanpa perlu dilakukan pelarangan dan pemblokiran. – komentar tanpa tanda tangan oleh aris riyanto (b • k). 23 Agustus 2022 10.30 (UTC)
Ganti aja kalo lagi jalan2 ketemu beliau WP:BELIAU DennyRG (bicara) 25 Agustus 2022 16.20 (UTC)
Saya berencana untuk membuat artikel mengenai pengembang dari kawasan Bumi Serpong Damai, yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk. Nah, berhubung namanya sama persis, bagaimana sebaiknya untuk membedakan nama dari artikelnya? Apakah Bumi Serpong Damai (perusahaan) cukup baik untuk digunakan? Ardfeb (bicara) 27 Agustus 2022 11.51 (UTC)