Bobotoh adalah sebutan kolektif untuk pendukung atau suporter klub sepak bola Persib Bandung yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Nama tersebut berasal dari bahasa Sunda yang secara harfiah berarti “membangkitkan semangat” atau “memberikan dorongan”. Penggunaan istilah ini tercatat pada 4 April 1938 di koran Sipatahoenan. Basis utama mereka di Jawa Barat serta tersebar di berbagai daerah sebagai bagian dari budaya Sunda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bobotoh | |
|---|---|
| Didirikan | 1938 (1938)[1] |
| Jenis | Suporter klub sepak bola |
| Klub kebanggaan | Persib Bandung |
| Slogan | Persib Juara |
| Lokasi | Bandung, Jawa Barat |
| Stadion | Gelora Bandung Lautan Api |
| Tribun | Semua tribun |
| Tokoh penting | Ayi Beutik |
| Sub Kelompok | Viking Persib Club (VPC), Northern Wall (NW), Southside Terrace (SS), Bobotoh Famiglia (BF), Bomber. |
| Warna Kebesaran | Biru, Putih |
| Afiliasi | Semua suporter |
| Website | bobotoh |
Bobotoh adalah sebutan kolektif untuk pendukung atau suporter klub sepak bola Persib Bandung yang berbasis di Bandung, Jawa Barat.[2] Nama tersebut berasal dari bahasa Sunda yang secara harfiah berarti “membangkitkan semangat” atau “memberikan dorongan”.[3] Penggunaan istilah ini tercatat pada 4 April 1938 di koran Sipatahoenan. Basis utama mereka di Jawa Barat serta tersebar di berbagai daerah sebagai bagian dari budaya Sunda.[4]
Bobotoh tidak ada struktur organisasi formal, mereka terbentuk secara tradisional berdasarkan fanatisme mendukung sebuah klub. Terdapat subkelompok yang memiliki struktur formal tersebut seperti Viking Persib Club (VPC) dan Bomber Persib, meskipun beberapa subkelompok juga tidak memiliki struktur formal seperti Northern Wall (NW), Bobotoh Famiglia (BF) dan Southside Terrace (SS).[5]
Istilah Bobotoh dalam kamus bahasa Sunda karya R. Satjadibrata (2011) berarti “orang yang menghidupkan semangat kepada orang yang hendak berkelahi (atau binatang yang hendak diadu), suporter”.[6] Pada tahun 2022 kata Bobotoh terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “sebutan untuk pendukung sepak bola”.[7][8]
Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nama Bobotoh berasal dari bahasa Sunda yang digunakan secara umum, karena perkelahian atau persaingan tidak hanya terjadi dalam konteks sepak bola.[9]

Sejarah Bobotoh dimulai pada era kolonial, ketika sepak bola menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah serta bagian dari budaya masyarakat Sunda. Pada 1923, klub masih bernama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) telah mendapat dukungan langsung dari penonton di pinggir Lapangan Tegallega. Pada 1933, Persib telah bergabung dengan kompetisi Perserikatan, meskipun kalah di pertandingan final melawan VIJ Jakarta (sekarang Persija Jakarta).
Media cetak tulisan Oto Iskandar di Nata, mencatat kehadiran pendukung Persib di Lapangan Tegallega beserta klub meraih gelar juara pertama pada tahun 1937, pertandingan ini melawan Persis Solo di Stadion Sriwedari, Solo. Mereka melakukan perjalanan ke Solo untuk memberikan dukungan secara langsung, ketika para pemain tiba kembali di Bandung, mereka turut menyambut dengan berteriak Persib Kampionen yang memulai parade kemenangan. Ini menjadi awal fanatisme mereka.[10]
Pasca-juara, dukungan mereka semakin masif. Pada edisi 4 April 1938 koran Sipatahoenan, tercatat militansi pendukung Persib yang tetap hadir di Lapangan Tegallega meskipun diguyur hujan deras. Ini menjadi catatan pertama penggunaan istilah Bobotoh secara eksplisit untuk menyebut pendukung Persib yang otentik. Sekitar tahun 1938-1939, Persib mengalami krisis internal terkait kepemimpinan dan manajemen klub, yang membuat klub terpecah dan kurang fokus pada sepak bola. Seorang pengamat sebagai Bobotoh vokal, menggunakan nama pena Persibman (artinya orang Persib atau pembela Persib) menulis surat terbuka di koran Berita Priangan. Tulisan paling terkenal muncul di edisi 16 Januari 1939, berjudul "Persib Crisis, tapi masih ada harapan".[11]
Pasca-kemerdekaan Indonesia, istilah Bobotoh semakin spesifik merujuk pada pendukung Persib Bandung, yang mencerminkan semangat nasionalisme dan loyalitas masyarakat terhadap klub tersebut. Pada 1950, klub memenangkan turnamen PSSI dengan mengalahkan Persebaya 2–0 di Bandung, di mana mereka turun ke lapangan untuk merayakan bersama tim, menunjukkan euforia nasionalisme pasca-revolusi. Enam tahun kemudian, Koran Algemeen Indisch Dagblad edisi 28 Juni 1956, dalam pertandingan Persib melawan Stade de Reims di Stadion Siliwangi dihadiri sekitar 30.000 Bobotoh, yang menunjukkan gairah mereka dalam mendukung tim secara massal dengan menghadapi tim internasional, hingga mereka memenuhi pinggiran lapangan.[12] Berlanjut pada 1961, ketika klub menjadi juara Kejuaraan Nasional PSSI pada pertandingan final di Semarang. Mereka menyambut tim pulang menggunakan kereta, ribuan Bobotoh berbaris di sepanjang jalan raya utama untuk menyambut kepulangan tim, euforia juga diekspresikan melalui kidung Sunda klasik yang dilaporkan dalam media cetak seperti Pikiran Rakyat edisi 4 Juli 1961.[13][14]
Fanatisme Bobotoh mencapai puncak pada dekade 1980-an, ditunjukkan oleh perjalanan massal ribuan suporter dari Bandung ke Jakarta untuk final Perserikatan 1983 dan 1985 melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, yang keduanya berakhir kekalahan Persib lewat adu penalti.[15] Media seperti Kompas dan Pikiran Rakyat (1985) melaporkan Bobotoh berangkat dini hari dengan berbagai kendaraan, disertai klakson riuh dan nyanyian "Halo-Halo Bandung" yang terdengar hingga ke dalam stadion.[16] Pada final 23 Februari 1985, sekitar 150.000 penonton (melebihi kapasitas stadion ~120.000) memadati venue hingga meluber ke pinggir lapangan, memicu protes massal terhadap keputusan wasit.[17] Pertandingan ini dianggap sebagai salah satu dengan kehadiran terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia dan pertandingan amatir terbesar dunia menurut buku AFC 1987, meskipun menimbulkan tantangan keamanan signifikan bagi PSSI.[18]
Kesuksesan Persib Bandung pada kompetisi Perserikatan 1986 menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Bobotoh. Pada pertandingan final melawan Perseman Manokwari di Stadion Utama Senayan, Jakarta, tanggal 11 Maret 1986, Persib menang dengan skor 1–0 berkat gol tunggal Djajang Nurjaman pada menit ke-77, mengakhiri puasa gelar selama 25 tahun sejak 1961.[19] Kemenangan ini disambut antusiasme besar oleh Bobotoh, dengan ribuan pendukung memadati stadion dan sekitarnya, serta perayaan meriah saat trofi dibawa ke Bandung melalui konvoi di jalan protokol dan Stadion Siliwangi, di mana slogan "Hidup Persib" mulai menggema secara massal di tribun dan spanduk.[20][21]
Periode pasca-juara 1986 juga menjadi awal munculnya wadah dukungan suporter yang lebih terorganisir, termasuk Persib Fans Club sebagai respons terhadap euforia kemenangan tersebut, meskipun kelompok ini kemudian tidak aktif lagi. Pada dekade 1980an juga mereka menyebut klub tersebut sebagai Usab Perning yang berasal dari bahasa prokem sebagai kode atau sebutan rahasia di kalangan sesama Bobotoh.[22]
Pada Divisi Utama PSSI musim 1989–1990, Persib kembali menjadi juara nasional setelah mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 2–0 di final pada 11 Maret 1990 di Stadion Utama Senayan.[23] Di awal musim, Bobotoh menunjukkan protes terhadap performa tim yang dianggap kurang maksimal, yang kemudian memicu respons positif dari pemain dan mempererat ikatan antara suporter dengan klub. Setelah kemenangan final, nyanyian "Halo, Halo Bandung" bergemuruh di stadion, diikuti konvoi besar-besaran menggunakan bus dan kereta api menuju Bandung.[22]
Akhir era kompetisi Perserikatan ditandai dengan gelar juara Persib pada Divisi Utama PSSI 1993–1994, setelah mengalahkan PSM Makassar (saat itu PSM Ujungpandang) dengan skor 2–0 di final pada 17 April 1994 di Stadion Utama Senayan.[24][25] Pertandingan ini dihadiri ribuan Bobotoh yang memadati tribun, dengan nyanyian "Halo Halo Bandung" bergema kuat, sebelum dilanjutkan konvoi besar ke Jakarta sebagai bagian transisi menuju kompetisi Liga Indonesia.[26]
Musim berikutnya, Persib mempertahankan yang menjuarai Liga Indonesia 1994–1995 di final pada 30 Juli 1995 di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Pertandingan ini disaksikan sekitar 90.000 penonton, sementara laporan kontemporer Pikiran Rakyat edisi 31 Juli 1995 mencatat sekitar 120.000 penonton dengan mayoritas Bobotoh (hanya sekitar 10.000 pendukung Petrokimia), menciptakan atmosfer euforia luar biasa hingga penonton meluber ke pinggir lapangan, menandai transisi sukses ke format liga modern.[27][28][29]
Nama Bobotoh semakin populer di media nasional, dan pada era 1990-an mulai terbentuk kelompok-kelompok dengan identitas sendiri, dipengaruhi tren suporter Eropa. Salah satu yang masih aktif adalah Viking Persib Club (dibentuk 17 Juli 1993). Kelompok lain termasuk ABCD (Anak Bandung Cinta Damai), Jurig Persib, Stone Lovers, Robokop, BFT, Provost Persib, Suporter Forever, Vorib, Casper, Tiger Fortune, Zadex, Balad Persib dan lainnya di Stadion Siliwangi terutama di tribun selatan, mereka tergabung dan berafiliasi sebagai kelompok Bomber Persib.[30]

Struktur organisasi Bobotoh relatif terdesentralisasi yang diatur setiap subkelompok, terdiri dari beberapa basis di tribun timur, selatan dan utara. Jumlah, pengaruh, dan visibilitas subkelompok ini bervariasi dari waktu ke waktu.
Subkelompok saat ini adalah :
Sementara itu, para penonton lain di tribun barat berasal dari pendukung yang tidak terorganisir atau Bobotoh yang tidak terkait dengan subkelompok tersebut. Selama tandang mereka relatif varietas.[31]
Pada era Perserikatan sebelum tahun 2000, Bobotoh selalu memenuhi Stadion Senayan (GBK), Jakarta pada setiap final atau laga tandang yang digelar di Stadion Senayan (GBK). Namun karena keterbatasan keamanan dan rivalitas yang semakin memanas dengan pendukung Persija Jakarta akhirnya Bobotoh tidak diperbolehkan untuk melakukan tandang, hingga yang terakhir pada tahun 2015 ketika Persib melawan Sriwijaya FC di final Piala Presiden.[32]
Persib Bandung vs PSMS Medan, Stadion Senayan, Jakarta. Pendukung mereka pernah menciptakan rekor jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah sepak bola indonesia ketika memenuhi Senayan, Jakarta pada final Perserikatan 1985. Menurut dokumen majalah Tempo, kala itu sebanyak 150.000 penonton hadir di Senayan dan mayoritas di antaranya adalah pendukung Persib, bahkan pertandingan tersebut tercatat di AFC sebagai pertandingan amatir terbesar dan paling banyak di tonton di dunia.[33]
Persib Bandung vs Petrokimia, Senayan, Jakarta. Pada Liga Indonesia mereka pernah memenuhi Senayan, Jakarta dengan penonton terbesar sepanjang era sepak bola profesional indonesia, kejadian itu terjadi pada tahun 1995 saat final Liga Indonesia Persib Bandung bertemu dengan Petrokimia Putra di Stadion Senayan, total sekitar 120.000 penonton hadir memenuhi stadion terbesar di Indonesia tersebut.[34]
Persib Bandung vs. Persipura Jayapura, Stadion Jakabaring, Palembang. Pertandingan final ini merupakan gelar penting bagi pendukungnya setelah 19 tahun tidak mengangkat trofi, Bobotoh memenuhi tribun timur Stadion Jakabaring juga beberapa di tribun lainnya, mereka berangkat dari kota Bandung dan berbagai daerah di Jawa Barat menggunakan bus beriringan, juga tidak sedikit menggunakan transportasi pesawat terbang, sekitar 685.3 km dari Bandung menuju Palembang melintasi Selat Sunda pembatas pulau Jawa dan Sumatera, hingga kepulangan mereka terjadinya bus hancur dan beberapa orang terluka karena bentrokan atau penyerangan yang di lakukan di Jakarta oleh basis pendukung rival mereka.
Persib Bandung vs. Sriwijaya FC di Stadion Gelora Bung Karno setelah menjuarai Liga Super Indonesia 2014, Persib kembali melaju ke babak final di Piala Presiden, laga tersebut merupakan pertandingan pramusim dengan penonton terbanyak yaitu 75.000 penonton hadir dan mayoritas pendukung Persib.[35]
Persaingan terlama dan terdalam Persib Bandung adalah dengan tetangga terdekat mereka Persija Jakarta juga dengan pendukung The Jakmania, pertandingan antara keduanya disebut sebagai El Classico Indonesia. Persaingan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta selalu menjadi pertemuan sengit, dan sangat ditunggu di sepak bola Indonesia.
Persib Bandung juga mempunyai rivalitas melawan PSMS Medan (Derbi Indonesia Klasik), PSM Makassar dan Persebaya Surabaya sejak Perserikatan, yang juga dianggap sebagai derby besar. Selain itu, Persib Bandung dengan PSMS Medan memiliki persaingan yang kuat di lapangan sejak akhir 1980-an, yang semakin intensif pada 1990-an karena kedua klub mulai sering bersaing memperebutkan gelar Perserikatan, tetapi para pendukung mereka tidak pernah terjadi kerusuhan.
Pada Perserikatan kedua suporter tersebut merupakan musuh terbesar karena persaingan klub, kerusuhan yang pernah terjadi pada babak final Persib vs Persebaya Divisi Utama PSSI 1989-90 di Stadion Utama Senayan, Jakarta. Pada saat itu Persebaya tertinggal 2-0 dari Persib Bandung di mana permainan Persebaya sangat membosankan yang membuat Bonek menjadi agresif, tidak diketahui dari mana yang memulai tetapi acungan kepalan tangan dari Bonek mengarah ke pendukung Persib berkali kali, terdapat bahwa sepanduk Persebaya juga di turunkan membuat Bonek semakin agresif, hingga akhirnya kedua pendukung membongkar tribun kayu sebagai alat pukul dan lantai sebagai batu untuk di lempar kepada lawan, Bobotoh tidak kalah agresif bahkan mengepung suporter Persebaya hingga 2000 personil Polisi mengamankan pada pertandingan tersebut. Pertandingan dimenangkan oleh Persib hingga nyanyian Halo, Halo Bandung dan bendera Biru Putih berkibar di dalam Stadion Senayan.
Pada babak Play-off Divisi Utama Liga Indonesia 2003 di Stadion Manahan, Solo. Pada saat itu ada ikrar suporter untuk bersatu, ikrar tersebut di ikuti oleh Viking, Bonek, Pasoepati, La Mania dan Brajamusti. Ketika itu Bobotoh di temani oleh Bonek saat berjalan jalan ke kota Solo, pada saat itu kedua kelompok suporter tersebut akrab. Kejadian di pertandingan Persib melawan Perseden Denpasar membuat hubungan Bobotoh dan Bonek semakin erat, Bobotoh yang di dampingi oleh Bonek dan suporter Perseden di bantu oleh Pasoepati. Pada saat itu hubungan mereka sangat erat sampai sekarang dan mereka bisa membuktikan, bahwa suporter yang sama kuatnya bisa bersatu di Stadion dan memberikan contoh untuk suporter lain di Indonesia. Kini hubungan Bobotoh dan Bonek kembali memanas sejak Maret 2023 perselisihan antara FCC vs GN serta gesekan lainnya.
Selain dengan Bonek, mereka juga turut menjalin hubungan baik dengan beberapa suporter di Indonesia di antaranya dengan pendukung Persikabo Bogor, Persita Tangerang, PSS Sleman dan Arema Malang
Para pendukung Persib Bandung memiliki tradisi yang mewariskan kepada anak dan cucu mereka untuk mendukung Persib Bandung sejak Perserikatan, sering kali di stadion mereka membawa anak laki laki untuk melihat pertandingan Persib.
Tokoh penting dari seorang Bobotoh juga memiliki julukan panglima yaitu alm. Ayi Beutik yang memberikan nama kepada anak mereka dengan nama Jayalah Persibku yaitu seorang laki-laki dan Usab Perning (sebutan nama Persib pada jaman 1980an) sebagai seorang perempuan.
Hal ini membuat tokoh penting dari The Maczman (kelompok suporter PSM Makassar) yaitu Daeng Uki turut memberikan anaknya Jayalah PSM Rizki Ilahi yang terinspirasi dari sosok Ayi Beutik dan Ayi Beutik berkeinginan kedua anaknya bisa bertemu dan menjadi persahabatan yang abadi.[36] kini Bandung dan Makassar menjalin persahabatan melalui kelompok garis kerasnya yaitu PSM Fans 1915 dan Northern Wall.
Salah satu seorang Bobotoh dari Tasikmalaya juga turut memberi nama anaknya yaitu Persib Satu Sembilan Tiga Tiga karena rasa cinta mereka terhadap klub kebanggaan Jawa Barat.[37]
Pada tahun 1985 sebuah pertandingan yang besar yang mengacu pada reputasi pertandingan Persib vs PSMS Medan pada tahun 1985 di Stadion Senayan (GBK) membuat terikan "Wasit Goblog" terlontar oleh Bobotoh hingga sampai saat ini jika pertandingan yang merugikan klub mereka karena keadilan wasit, hingga kini banyak kelompok suporter Indonesia lainnya yang juga turut meniru teriakan tersebut.
Di era 1980-an (misalnya Perserikatan 1986), dokumentasi menyebut Bobotoh meneriakkan "Hidup Persib" di jalanan protokol Bandung saat konvoi, dan spanduk mulai umum digunakan di tribun selatan Stadion Siliwangi atau saat perayaan. "Hidup Persib" sebagai slogan langsung dan berulang muncul kuat di era 1980-an ke atas, terutama saat Persib juara 1986, 1990.
Para pendukung Persib pada jaman Perserikatan atau mereka sebut Ngabobotohan secara tradisional yaitu dengan ciri khasnya menggunakan ikat kepala, bendera, dan sepanduk dukungan, tetapi karena berkembangnya jaman setelah akhir tahun 1990an mulai berubah.
Kota Bandung terkenal paling kreatif di Indonesia, banyak musisi tokoh/artis yang lahir di Bandung, pada pertengahan tahun 80-an musisi asal Bandung memberikan karyanya sebuah penghormatan terhadap Persib. Mulai pada tahun 1985-86 musisi legendaris asal Bandung membawakan lagu "Kami Cinta Persib" karya Dion Hutabarat, lagu tersebut sangat populer dan selalu di putar awal dan jeda pertandingan di Stadion Silliwangi. Setelah itu muncul beberapa musisi lainnya, seperti Bimbo yang membawakan lagu Jayalah Persibku dan yang fenomenal adalah seniman besar Kang Ibing yang membawakan lagu "Maung Bandung", dari lagu tersebut juga Persib Bandung mempunyai julukan baru selain Pangeran Biru yang memang sudah ada.
Pada tahun 2002, Viking Persib sebuah organisasi dari Bobotoh membuat gerakan dengan membuat album kompilasi untuk Persib, beberapa band besar seperti Koil, Harapan Jaya turut menyumbangkan karyanya, sementara Pas Band juga turut menyumbangkan karyanya yang sebelumnya pernah di muat di album mereka sendiri, di album pertama ini cenderung banyak mengandalkan jenis musik keras dan membakar semangat selerea anak muda pada saat itu
Beberapa tahun kemudian Viking Persib Club merilis kembali album Viking Compilation Jilid 2, dalam album ini banyak varian jenis musik yang beragam, seniman besarpun turut berperan seperti Mocca yang mewakili jenis musik anak muda dan seniman legendaris Sunda seperti Kang Ibing dan Doel Sumbang. Di luar album kompilasi Viking, masih banyak musisi lain yang membuat lagu tentang Persib, baik yang di sisipkan di album mereka atau yang di rilis secara single.
Berikut beberapa musisi/band yang membuat lagu tentang Persib : Kuburan Band - We Will Stay Behind You, Pas Band - Aing Pendukung Persib, Andi /Rif - Viva Persib, Seurius - Sihung Maung Bandung, Pascodex - Persib Juara.
Tidak hanya kelompok dari Viking Persib Club namun juga Flowers City Casuals juga turut membuat 2 album kompilasi dari anggota penggemar mereka.
"Kebangaan Bandung"
Terimakasih tuhan, Bandung tempat kelahiranku, punya tim kebanggaan Persib Bandung, dengan sejarah yang melambung.
Pangeran Biru, Maung Bandung, bangga teriak julukanmu, Pangeran Biru, Persib Bandung, tim kebangaan kota Bandung.[38]