Mayor Jenderal Tunku Mahkota Ismail Ibni Sultan Ibrahim, Pemangku Sultan Johor Tunku Mahkota Johor. Tunku Ismail saat ini menjabat sebagai seorang perwira dari Angkatan Darat tentara diraja malaysia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Tunku Mahkota Ismail | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pemangku Sultan Johor Tunku Mahkota Johor | |||||||||||||||
| Pemangku Sultan Johor | |||||||||||||||
| Masa jabatan | 31 Januari 2024 – sekarang | ||||||||||||||
| Proklamasi | 28 Januari 2024[1] | ||||||||||||||
| Pendahulu | Tunku Ibrahim, Tunku Idris | ||||||||||||||
| Penerus | - | ||||||||||||||
| Menteri Besar | Onn Hafiz Ghazi | ||||||||||||||
| Putra Mahkota Johor | |||||||||||||||
| Masa jabatan | 28 Januari 2010 – sekarang | ||||||||||||||
| Proklamasi | 28 Januari 2010 | ||||||||||||||
| Pendahulu | Tunku Ibrahim | ||||||||||||||
| Wakil Putra Mahkota | Tunku Iskandar | ||||||||||||||
| Kelahiran | Tunku Ismail Idris Abdul Majid Abu Bakar Iskandar ibni Tunku Ibrahim Ismail[2][3] 30 Juni 1984 Istana Besar, Johor Bahru, Johor, Malaysia | ||||||||||||||
| Pasangan | |||||||||||||||
| Keturunan |
| ||||||||||||||
| |||||||||||||||
| Wangsa | Temenggong[4] | ||||||||||||||
| Ayah | Sultan Ibrahim Iskandar | ||||||||||||||
| Ibu | Raja Zarith Sofia | ||||||||||||||
| Agama | Islam Sunni | ||||||||||||||
| |||||||||||||||
Mayor Jenderal Tunku Mahkota Ismail Ibni Sultan Ibrahim, Pemangku Sultan Johor[5] (lahir 30 Juni 1984)[2] Tunku Mahkota (Putra Mahkota) Johor. Tunku Ismail saat ini menjabat sebagai seorang perwira dari Angkatan Darat tentara diraja malaysia.
Ia merupakan putra Sulung dari Sultan Johor saat ini, Sultan Ibrahim Ismail.
Hubungan antara Tunku Ismail dan anggota parlemen Muar, Syed Saddiq, telah diwarnai ketegangan sejak Syed Saddiq memenangkan kursinya dalam pemilihan umum 2018. Pada April 2019, Syed Saddiq mengklaim bahwa Tunku Ismail telah mengajukan tuntutan politik sebelum dan sesudah pemilihan, termasuk permintaan untuk membatalkan pertandingan tinju Manny Pacquiao pada Juli 2018, yang menurut Syed Saddiq tidak dapat dipenuhinya.[6] Pada bulan Desember 2018, Tunku Ismail secara terbuka mengkritik Syed Saddiq karena mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada saudaranya, dengan mengatakan kepadanya untuk "menyimpan pujianmu untuk orang lain".[7]
Konflik berlanjut hingga tahun 2021, dengan Tunku Ismail menggambarkan Syed Saddiq sebagai politisi populis pada bulan Juni tahun itu. Tunku Ismail menyatakan bahwa negara membutuhkan politisi yang jujur, inovatif, dan berdedikasi, menyiratkan bahwa Syed Saddiq tidak memenuhi kriteria tersebut.[8] Menanggapi hal tersebut, Syed Saddiq mengucapkan terima kasih kepada Tunku Ismail atas perhatiannya terhadap warga Muar dan menyatakan bahwa dirinya terbuka terhadap kritik dan saran.[9]
Situasi memanas pada September 2021 ketika Tunku Ismail membuat pernyataan yang menyarankan Syed Saddiq untuk "melompat dari KLCC tanpa parasut" untuk menarik perhatiannya. Komentar ini dibuat saat sesi tanya jawab di Instagram.[10] Sebelumnya, Tunku Ismail menuduh Syed Saddiq sebagai "ratu drama" ketika Saddiq memulai kampanye penggalangan dana untuk menutupi biaya hukumnya pada Juli 2021.[11]
Tunku Ismail Idris di Twitter mencuitkan kekesalannya atas keputusan FIFA untuk menjatuhkan hukuman kepada Persatuan Sepak Bola Malaysia (FAM) dan 7 pemain naturalisasi, menyinggung ada pihak luar yang bermain karena menurutnya pihak tersebut takut dengan "kebangkitan" tim nasional sepak bola Malaysia.[12] Ia kemudian menyatakan bahwa pihak tersebut sedang di New York untuk membujuk Gianni Infantino untuk menghukum FAM[12] dan kemudian mengunggah cuplikan berita yang menyeret nama Erick Thohir dan Prabowo Subianto.[12] Selain itu, ia juga menuduh seorang anggota Komite Disiplin FIFA berkebangsaan Vietnam[13] karena larangan tersebut bertetapan setelah kemenangan Malaysia melawan tim nasional Vietnam.[14] Tuduhan ini ikut digaungkan oleh Menteri Komunikasi Malaysia Ahmad Fahmi Mohamed Fadzil yang menyebut bahwa beberapa negara melihat kebangkitan Malaysia dengan iri dan keprihatinan.[15]
Walaupun FAM sendiri mengakui bahwa ada kekeliruan dalam proses naturalisasi,[16] tuduhan dari Tunku Ismail Idris disindir oleh suporter asal Thailand karena menyinggung Erick Thohir seakan-akan ingin mendeklarasikan perang.[17] Sementara pendukung Vietnam menyindir FAM dan Tunku Ismail Idris karena memberikan data yang tidak kredibel.[18] Erick Thohir yang disinggung telah mengintervensi keputusan FIFA membantah tuduhan Tunku Ismail Idris menyatakan bahwa Indonesia tidak ikut campur urusan FIFA.[19]