Ketulian (tunarungu) memiliki definisi yang bervariasi ditinjau dari konteks budaya maupun medis. Dalam ranah medis, makna ketulian adalah gangguan pendengaran yang menghalangi kemampuan seseorang untuk memahami bahasa lisan, sebuah kondisi audiologis. Dalam konteks ini, istilah tersebut ditulis dengan huruf kecil d dalam bahasa Inggris atau t dalam bahasa Indonesia. Istilah ini kemudian digunakan dalam konteks budaya untuk merujuk pada mereka yang berkomunikasi utamanya menggunakan alat bantu dengar atau melalui bahasa isyarat terlepas dari kemampuan pendengaran mereka; kelompok ini sering kali ditulis dengan huruf kapital sebagai Deaf dan disebut sebagai "big D Deaf" dalam percakapan maupun isyarat. Kedua definisi tersebut saling beririsan namun tidak identik, mengingat gangguan pendengaran mencakup kasus-kasus yang tidak cukup parah untuk memengaruhi pemahaman bahasa lisan, sedangkan Ketulian secara budaya mencakup orang-orang yang dapat mendengar namun menggunakan bahasa isyarat, seperti anak-anak dari orang dewasa tuli.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Ketulian (tunarungu) memiliki definisi yang bervariasi ditinjau dari konteks budaya maupun medis. Dalam ranah medis, makna ketulian adalah gangguan pendengaran yang menghalangi kemampuan seseorang untuk memahami bahasa lisan, sebuah kondisi audiologis.[1] Dalam konteks ini, istilah tersebut ditulis dengan huruf kecil d dalam bahasa Inggris atau t dalam bahasa Indonesia. Istilah ini kemudian digunakan dalam konteks budaya untuk merujuk pada mereka yang berkomunikasi utamanya menggunakan alat bantu dengar atau melalui bahasa isyarat terlepas dari kemampuan pendengaran mereka; kelompok ini sering kali ditulis dengan huruf kapital sebagai Deaf dan disebut sebagai "big D Deaf" (Tuli dengan T besar) dalam percakapan maupun isyarat.[2][3] Kedua definisi tersebut saling beririsan namun tidak identik, mengingat gangguan pendengaran mencakup kasus-kasus yang tidak cukup parah untuk memengaruhi pemahaman bahasa lisan, sedangkan Ketulian secara budaya mencakup orang-orang yang dapat mendengar namun menggunakan bahasa isyarat, seperti anak-anak dari orang dewasa tuli.

Dalam konteks medis, ketulian didefinisikan sebagai tingkat kesulitan mendengar di mana seseorang tidak mampu memahami percakapan, bahkan dengan adanya amplifikasi.[1] Pada ketulian sangat berat, suara terkeras sekalipun yang dihasilkan oleh audiometer (instrumen yang digunakan untuk mengukur pendengaran dengan menghasilkan bunyi nada murni melalui rentang frekuensi) mungkin tidak dapat dipersepsikan oleh orang tersebut. Pada ketulian total, tidak ada suara sama sekali yang dapat didengar, terlepas dari amplifikasi atau metode produksinya.
Secara neurologis, bahasa diproses di area otak yang sama, baik pada orang tuli maupun yang dapat mendengar. Belahan otak kiri memproses pola linguistik baik melalui bahasa isyarat maupun bahasa lisan.[5]
Ketulian dapat dikategorikan menjadi empat jenis gangguan pendengaran:
Semua bentuk gangguan pendengaran ini menghambat pendengaran seseorang sehingga mereka tidak mampu mempersepsikan atau menafsirkan suara dengan benar. Berbagai jenis gangguan pendengaran ini terjadi di bagian telinga yang berbeda, yang menyulitkan informasi yang didengar untuk dikirim ke otak dengan semestinya.

Untuk setiap jenis ini, terdapat empat tingkatan atau kadar gangguan pendengaran yang berbeda. Tingkat pertama adalah gangguan pendengaran ringan. Ini terjadi ketika seseorang masih mampu mendengar suara, tetapi lebih sulit untuk mendengar suara yang lebih pelan. Tingkat kedua adalah gangguan pendengaran sedang, dan ini terjadi ketika seseorang hampir tidak dapat mendengar apa pun ketika orang lain berbicara kepada mereka dengan volume normal. Tingkat selanjutnya adalah gangguan pendengaran berat. Gangguan pendengaran berat adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat mendengar suara apa pun yang dihasilkan pada tingkat normal, dan mereka hanya dapat mendengar suara minimal yang dihasilkan pada tingkat keras. Tingkat terakhir adalah gangguan pendengaran sangat berat, yaitu ketika seseorang tidak mampu mendengar suara apa pun kecuali suara yang sangat keras.[6]
Jutaan orang di seluruh dunia hidup dengan ketulian atau gangguan pendengaran. Survei Pendapatan dan Partisipasi Program (SIPP) tahun 2005 menunjukkan bahwa kurang dari 1 dari 20 orang Amerika mengalami tuli atau kurang dengar pada tingkat yang membuat percakapan normal sulit didengar; lebih dari separuh orang-orang ini berada di atas usia pensiun.[7]

Beberapa solusi tersedia bagi banyak orang dengan gangguan pendengaran. Alat bantu dengar adalah perangkat yang umum digunakan. Selain itu, orang dapat menggunakan perangkat yang menggunakan lampu berkedip alih-alih suara untuk jam alarm atau pemberitahuan lainnya.

Implan koklea merupakan opsi bagi anak-anak dan orang dewasa dengan gangguan pendengaran berat atau sangat berat. Implan koklea adalah perangkat yang dipasang melalui pembedahan untuk menstimulasi saraf koklea guna membantu seseorang mendengar. Implan koklea digunakan sebagai pengganti alat bantu dengar untuk membantu ketika seseorang mengalami kesulitan memahami percakapan.[8] Bagi anak-anak, semakin muda usia mereka pada saat implantasi, semakin baik keterampilan auditori dan persepsi mereka.[9] Bayi yang terkonfirmasi mengalami gangguan pendengaran sensorineural sangat berat bilateral dapat memulai proses evaluasi bedah untuk implantasi sejak usia enam bulan, di mana AS secara resmi mengizinkan operasi dilakukan sejak usia sembilan bulan.[9] Anak-anak dengan masalah medis lain atau jenis gangguan pendengaran lainnya mungkin dipertimbangkan pada usia yang sedikit lebih tua.[9] Orang tua terkadang mengalami kesulitan dalam memutuskan untuk memasang implan koklea bagi anak mereka. Banyak yang merasakan adanya urgensi, dan pada akhirnya, sebagian besar orang tua merasa hal itu bermanfaat bagi anak mereka.[10]