Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiTerapi elektrokonvulsif
Artikel Wikipedia

Terapi elektrokonvulsif

Terapi elektrokonvulsif yang disingkat ECT (electroconvulsive therapy) atau yang juga dikenal sebagai terapi kejut listrik (electroshock therapy) merupakan suatu jenis pengobatan untuk gangguan jiwa dengan menggunakan aliran listrik yang dialirkan ke tubuhnya.

Wikipedia article
Diperbarui 17 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

"Elektrosyok" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Elektrosyok (disambiguasi).
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Terapi elektrokonvulsif
Intervensi
ICD-10-PCS
ICD-9-CM94.27
MeSHD004565
Kode OPS-3018-630
MedlinePlus007474
[sunting di Wikidata]

Terapi elektrokonvulsif yang disingkat ECT (electroconvulsive therapy) atau yang juga dikenal sebagai terapi kejut listrik (electroshock therapy) merupakan suatu jenis pengobatan untuk gangguan jiwa dengan menggunakan aliran listrik yang dialirkan ke tubuhnya.

Awalnya, pasien diberi obat bius ringan dan kemudian disuntik dengan penenang otot. Aliran listrik yang sangat lemah dialirkan ke otak melalui elektrode yang dipasang di kedua pelipis atau pada pelipis yang mengandung belahan otak yang tidak dominan. Hanya aliran ringan yang dibutuhkan untuk menghasilkan serangan otak yang diberikan, karena serangan itu sendiri yang bersifat terapis, bukan aliran listriknya. Penenang otot mencegah terjadinya kekejangan otot tubuh dan kemungkinan luka. Pasien bangun beberapa menit dan tidak ingat apa-apa tentang pengobatan yang dilakukan. Kerancuan pikiran dan hilang ingatan tidak terjadi, terutama bila aliran listrik hanya diberikan kepada belahan otak yang tidak dominan. Empat sampai enam kali pengobatan semacam ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu 2 minggu.

ECT telah menjadi pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. Pada masa lalu ECT ini digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk skizofrenia. Namun terapi ini tidak membuahkan hasil yang bermanfaat. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT merupakan pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien sering kali tidak bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan ketidaksadaran sementara, serta sering kali menderita kerancuan pikiran dan hilangnya ingatan setelah itu. Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan otak mengakibatkan berbagai cacat fisik. Namun, sekarang ECT sudah tidak begitu menyakitkan.

Pelaksanaan

Terapi elektrokonvulsif dilaksanakan di rumah sakit untuk pengobatan pasien yang mengalami kegelisahan atau kedaruratan psikiatri. Pasien dengan tingkat kegelisahan yang tinggi harus ditempatkan di dalam instalasi rawat intensif selama satu atau dua hari. Tujuannya untuk menenangkan pasien. Setelah tenang, pasien dapat dipindahkan ke ruangan yang lain. Pemilihan ruangan baru ditentukan oleh klasifikasi kebutuhan perawatan dan pengobatan pasien.[1]

Pelaksanaan terapi elektrokonvulsif hanya dilakukan kepada pasien yang memiliki indikasi gangguan depresif berat, mania dan pada beberapa kasus skizofrenia. Ketiga indikasi tersebut merupakan indikasi yang terjelas untuk dapat mengadakan terapi elektrokonvulsif. Terapi elektrokonvulsif secara umum dilakukan sebanyak 6–12 kali. Dalam sepekan, terapi dilakukan hanya 2–3 kali.[2] Terapi elektrokonvulsif yang diberi modifikasi diterapkan anestesi umum dengan memberikan relaksan otot dan oksigenasi.[3]

Kegunaan

Terapi elektrokonvulsif merupakan salah satu percobaan awal dalam diagnosis pasien dengan gangguan skizoafektif tipe depresif. Terapi ini dilakukan bersama dengan percobaan lain, yaitu percobaan antidepresan. Kedua percobaan ini menjadi prasyarat sebelum pengambilan keputusan atas pasien mengenai kondisi tidak responsif terhadap terapi antidepresan.[4]

Efek samping

Terapi elektrokonvulsif dapat membantu mengatasi gejala skizofrenia yang tidak memberikan tanggapan terhadap psikoterapi atau antidepresan. Namun, terapi ini memiliki beberapa efek samping yaitu konvusi, delirium, gangguan daya ingat, dan aritmia jantung ringan. Efek samping yang menjadi permasalah utama dari terapi elektrokonvulsif adalah kehilangan daya ingat.[5] Besarnya risiko dari terapi elektrokonvulsif membuatnya hanya dipertimbangkan untuk dilakukan jika jenis penanganan lain tidak efektif atau mengandung kontraindikasi. Penggunaan terapi ini juga dapat dipertimbangkan pada penanganan yang memerlukan respons yang cepat.[6]

Referensi

  1. ↑ Chuzaifah, Y., dkk. (2019). Laporan Pemantauan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: “Hukuman Tanpa Kejahatan” Dimensi Penyiksaan dan Daur Kekerasan terhadap Perempuan dengan Disabilitas Psikososial di Lokasi Serupa Tahanan (RSJ dan Pusat Rehabilitasi) (PDF). Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. hlm. 60. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Agustina, Marisca (2018). "Pemberian Terapi Elektrokonvulsif (ECT) Terhadap Peningkatan Fungsi Kognitif Klien GangguanJiwa". Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesi. 8 (3): 444.
  3. ↑ Sharma, Kriti (2016). Hidup di Neraka: Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas Psikososial di Indonesia (PDF). Human Rights Watch. hlm. II. ISBN 978-1-6231-33351. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Surbakti, Ranintha br (2014). "A 30 Years Old Man with Depressed Type of Schizoaffective Disorder" (PDF). Jurnal Medula Unila. 3 (2): 93.
  5. ↑ Nandinanti, I. N., dkk. (2015). "Efek Electro Convulsive Therapy (ECT) terhadap Daya Ingat Pasien Skizofrenia di RSJ Prof. HB. Sa'anin Padang". Jurnal Kesehatan Andalas. 4 (3): 884. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-10. Diakses tanggal 2022-03-22. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  6. ↑ Fadli, F. dkk. (2019). Bunga Rampai Apa Itu Psikopatologi: Rangkaian Catatan Ringkas tentang Gangguan Jiwa (PDF). Lhokseumawe: Unimal Press. hlm. 99–100. ISBN 978-602-464-072-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

  • Position Statement on Electroconvulsive Therapy (ECT) [PDF] – from the American Psychiatric Association.
  • MIND on ECT Diarsipkan 2013-10-19 di Wayback Machine. – information on ECT from MIND (leading mental health charity in England and Wales).
  • About to have ECT? ... Diarsipkan 2009-12-13 di Wayback Machine. – Psychiatric Times article on the portrayal of ECT by Hollywood
  • ECT - information from mental health charity The Royal College of Psychiatrists
  • Diarsipkan 2018-02-13 di Wayback Machine.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Republik Ceko
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pelaksanaan
  2. Kegunaan
  3. Efek samping
  4. Referensi
  5. Pranala luar

Artikel Terkait

Etomidat

senyawa kimia

Requiem for a Dream

Film tahun 2000 oleh Darren Aronofsky

Stimulasi magnetik transkranial

magnetik transkranial merupakan salah satu alternatif terapi yang sejenis dengan terapi elektrokonvulsif. Bentuknya berupa peralatan yang dapat membantu meringankan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026