Hakikat manusia mencakup watak dasar dan ciri-ciri mendasar—termasuk cara berpikir, merasakan, dan bertindak—yang diyakini melekat secara alami pada diri manusia. Istilah ini kerap digunakan untuk menunjuk pada hakikat dari kemanusiaan, atau pada pertanyaan: apa makna sejati menjadi manusia. Namun, pemahaman semacam itu senantiasa memunculkan perdebatan, sebab tidak semua orang sepakat apakah hakikat yang tunggal itu benar-benar ada.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Hakikat manusia mencakup watak dasar dan ciri-ciri mendasar—termasuk cara berpikir, merasakan, dan bertindak—yang diyakini melekat secara alami pada diri manusia. Istilah ini kerap digunakan untuk menunjuk pada hakikat dari kemanusiaan, atau pada pertanyaan: apa makna sejati menjadi manusia. Namun, pemahaman semacam itu senantiasa memunculkan perdebatan, sebab tidak semua orang sepakat apakah hakikat yang tunggal itu benar-benar ada.
Perdebatan tentang hakikat manusia telah menjadi pusat perhatian filsafat selama berabad-abad, dan hingga kini masih menyalakan api diskusi yang hangat.[1][2][3] Walau keduanya berbeda, perbincangan tentang hakikat manusia biasanya tak terpisahkan dari perdebatan klasik tentang peranan gen dan lingkungan sosial dalam pertumbuhan manusia—yang kerap diringkas dalam istilah nature versus nurture. Karena itu, gagasan ini tetap hidup dalam ranah akademik, baik dalam ilmu alam, ilmu sosial, maupun filsafat, di mana berbagai pemikir berupaya menyingkap tabir mengenai hakikat manusia.[4][5][6][7] Hakikat manusia secara tradisional kerap dipertentangkan dengan sifat-sifat manusia yang berubah-ubah sesuai masyarakat, misalnya yang melekat pada suatu budaya tertentu.
Gagasan tentang "alam" sebagai tolok ukur penilaian diyakini bermula dari filsafat Yunani, terutama karena pengaruh besarnya terhadap bahasa dan pandangan Barat maupun Timur Tengah.[8] Menjelang zaman kuno akhir dan abad pertengahan, pendekatan yang kemudian dominan adalah teleologi Aristoteles, yang melihat hakikat manusia sebagai sesuatu yang berada di luar individu, tetapi menentukan apa yang pada akhirnya manusia menjadi. Pemahaman ini pun dipandang menghubungkan hakikat manusia dengan ketuhanan, karena dianggap memiliki tujuan akhir dan bentuk yang tertanam dalam semesta. Dalam pandangan ini, alam—atau Sang Pencipta alam—dipahami memiliki maksud, termasuk maksud agar manusia hidup sesuai kodratnya. Dengan demikian, hakikat manusia dipandang sebagai suatu "gagasan", atau "bentuk" dari manusia.[9] Namun, keberadaan hakikat manusia yang tetap dan bersifat metafisis ini telah lama menjadi bahan perdebatan, bahkan hingga zaman modern.
Berlawanan dengan gagasan Aristoteles tentang hakikat manusia yang tetap, sejak berabad-abad lalu banyak pemikir menekankan kelenturan manusia—khususnya para modernis awal seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau. Dalam Émile, atau Tentang Pendidikan, Rousseau menulis: "Kita tidak tahu apa yang memungkinkan kodrat kita untuk menjadi."[10] Sejak abad ke-19, pemikir seperti Darwin, Freud, Marx, Kierkegaard, Nietzsche, hingga Sartre, juga aliran strukturalisme maupun postmodernisme, kerap menolak gagasan tentang hakikat manusia yang tunggal atau bawaan lahir.
Teori evolusi Charles Darwin secara khusus mengubah lanskap perdebatan ini, dengan menegaskan bahwa nenek moyang manusia modern tidaklah sama dengan manusia sekarang. Sebagaimana dalam sains modern pada umumnya, teori ini berupaya menjelaskan asal-usul hakikat manusia tanpa merujuk pada penyebab-penyebab metafisika.[11] Teori tersebut bisa digunakan untuk menyingkap mekanisme dasar hakikat manusia, atau untuk menunjukkan kemampuan manusia untuk berubah dan beragam—kemampuan yang, bisa jadi, meruntuhkan gagasan tentang hakikat manusia yang tetap.[12]