Suku Yaghai adalah salah satu suku yang tinggal di Kabupaten Mappi. Mereka tinggal di seberang barat Sungai Mappi, pembatas wilayah mereka dengan suku Awyu. Wilayah mereka adalah rawa-rawa gambut (Mbambur) di sepanjang Sungai Oba, Bapei, Miwamon, Mabur, Nambeomon, beserta anak-anak sungainya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 21.025 (2010)[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Papua Selatan (Kabupaten Mappi) | |
| Bahasa | |
| Yaghai | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Boazi · Warkay-Bipim · Marind |
Suku Yaghai (Yaqay, Yah'ray) adalah salah satu suku yang tinggal di Kabupaten Mappi. Mereka tinggal di seberang barat Sungai Mappi, pembatas wilayah mereka dengan suku Awyu. Wilayah mereka adalah rawa-rawa gambut (Mbambur) di sepanjang Sungai Oba, Bapei, Miwamon, Mabur, Nambeomon, beserta anak-anak sungainya.
Nama Yaghai dibaca Ya'hry, pertama kali ditulis oleh Pater Cornelis Meuwese, m.s.c. sebagai nama yang dipakai oleh suku Awyu untuk menyebut lawan mereka di Sungai Mappi. Tetapi nama tersebut merupakan endonim. Berdasarkan penjelasan panglima perang dan tokoh adat bernama Jaende dari Kepi, nama itu berarti "manusia". Dalam menceritakan asal muasal suku Yaghai ia menyebut 'Babae Jaqajre, Tapaq Kandire' artinya "Nenek moyang suku Yaghai (babae) adalah manusia, matahari (tapaq) berbeda sendiri."
Pandangan tentang babae ini bermacam-macam berdasarkan Drabbe, cuma ada satu Babae yang adalah tuhan yang pencipta segalanya. Sedangkan menurut Maturbongs ada beberapa babae yang berhubungan satu sama lainnya di bawah tanah, tetapi ada satu yang disebut babae-tapaq (babae matahari), pandangan yang tidak disetujui oleh Jaende.
Bahasa asli suku Yaghai adalah bahasa Yaghai yang merupakan anggota rumpun bahasa Yaqayik, bersama bahasa Warkay-Bipim, dan lebih jauh lagi serumpun dengan bahasa Marind dan bahasa Boazi di Papua Nugini .