Suka Damai merupakan salah satu gampong yang ada di kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Barat Daya, provinsi Aceh, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Suka Damai | |
|---|---|
| Negara | |
| Provinsi | Aceh |
| Kabupaten | Aceh Barat Daya |
| Kecamatan | Lembah Sabil |
| Kode Kemendagri | 11.12.09.2002 |
| Luas | ... km² |
| Jumlah penduduk | ... jiwa |
| Kepadatan | ... jiwa/km² |
Suka Damai merupakan salah satu gampong yang ada di kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Barat Daya, provinsi Aceh, Indonesia.
Sejarah terbentuknya Gampong Suka Damai, Kecamatan Lembah Sabil, pada awalnya adalah hutan dan terdapat rawa yang merupakan areal habitatnya itiek ara liar (bebek). Sekelompok kecil Masyarakat berjumlah 12 KK diketuai oleh Fatwa Mak Rani/Geuchik Mak Rani yang berasal dari Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan datang bertujuan membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian, karena arealnya sangat mendukung di mana air cukup dan melimpah termasuk mudahnya mendapatkan itiek ara untuk dikonsumsi, maka tempat ini sangat ideal dijadikan tempat tinggal maka disebut Gampong Paya Itiek, oleh kelompok Fatwa Mak Rani. Tahun 1910 pada masa penjajahan Belanda, Kampung Paya Itiek merupakan bagian dari Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya, di mana salah satu kemukiman sekarang disebut gampong atau desa di Kecamatan Manggeng, yaitu kemukiman Ayah Gading, dan salah satu kemukiman langsung berbatasan dengan Gampong Paya Itiek. Pada Tahun 1965, Gampong Paya Itiek berubah nama menjadi Gampong Suka Damai dan masih bagian dari Kecamatan Manggeng.
Kabupaten Aceh Barat Daya, secara geografis Gampong Suka Damai secara umum kondisinya datar berada di batas hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan hidup, masyarakat gampong mulai memperluas lahan pertanian dan areal permukiman secara gotong royong membukan hutan. Pada Tahun 1975, Gampong Suka Damai mulai membangun fasilitas umum seperti Meunasah atau mushola dan sekolah, dan kemudian terjadi pemekaran kecamatan, di mana Gampong Suka Damai tidak lagi bagian dari Kecamatan Manggeng berpindah bagian dari kecamatan baru yaitu Kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Barat Daya. Jarak gampong dengan ibu kota propinsi + 25 km, sedangkan jarak ibu kota kecamatan dengan gampong + 3 km, batas wilayahnya mencakup
Berdasarkan monografi desa, Gampong Suka Damai secara administrasi memiliki luas + 2000 ha, terdiri dari 30 ha lahan persawahan, 6 ha lahan tambak, 80 ha lahan permukiman, 250 ha lahan perladangan atau perkebunan yang dikelola dan 50 ha lahan perladangan atau perkebunan tidak kelola, dan lebihnya merupakan kawasan TNGL Wilayah SPTN I Blang Pidie termasuk kawasan KPH V Blangkejeren.
Saat ini Gampong Suka Damai terbagi empat dusun, di antaranya adalah, Dusun Cot Manyang, Dusun Bak Balom, Dusun Padang Bak Rem, dan Dusun Ie Tubit. Jumlah penduduk sebanyak 918 Jiwa dengan 255 kepala keluarga. Mata pencarian penduduk setempat, terdiri dari, 650 orang petani, 20 kk peternak, 5 orang ASN, 1 orang TNI, dan 1 orang Polisi. Total jumlah ternak di gampong sebanyak, 50 ekor kerbau dan kambing sebanyak 100 ekor.
Sistem Pemerintahan Gampong Suka Damai berazaskan adat, budaya, dan peraturan formal yang bersifat umum sejak dahulu, PJ kepala desa disebut Geucik yang bernama M. Nasir.
Perangkat Adat yang tersedia untuk melestarikan budaya di Sukadamai terdiri dari Seneubok dan Keujreun Blang. Beberapa Upacara adat di kawasan perkebunan dan areal persawahan juga masih aktif di jalankan. Seperti, Khanduri Bungoeng Kayee, Khanduri Tulak Bala dan masih ada beberapa upacara adat lainnya.
Perangkat adat ini masuk dalam struktur pemerintahan desa/gampong Suka Damai.
Mayoritas warga desa menggantungkan hidup dari pertanian, perkebunan, dan hasil hutan seperti rotan dan damar. Petani mendominasi mata pencaharian, sementara akses pasar masih terbatas akibat infrastruktur jalan yang belum optimal. Ketergantungan pada sumber daya alam tinggi, dan masyarakat mengandalkan strategi bertahan seperti kerja harian saat panen terganggu atau terjadi konflik satwa. Berikut profil penghidupan masyarakat desa suka damai:
Sesuai dengan kondisi Desa yang merupakan daerah agraris maka struktur ekonominya lebih dominan kepada sektor pertanian dan perkebunan, disamping sektor- sektor lainnya baik berupa jasa industri, perkebunan, peternakan, pertukangan dan lain-lainnya. Tingkat Pertumbuhan sektor lainya diluar sektor unggulan/dominan, sangat memungkinkan berkembang apabila adanya perhatian yang lebih dari pemerintah dengan membuka jalur pemasaran serta pembinaan dan bantuan permodalan.
Di sektor pertanian, masyarakat Desa mengandalkan tanaman produktif seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan palawija sebagai sumber penghidupan utama. Keberadaan komoditas ini bukan hanya memberi penghasilan bagi para pemilik lahan, tetapi juga mendukung perekonomian lokal secara keseluruhan. Dalam hal pemasaran, hasil pertanian ini tidak menemui kendala berarti, berkat tingginya permintaan dari pasar lokal yang menjanjikan, serta potensi pemasaran di luar Desa yang cukup luas.
Sementara itu, di sektor perkebunan, tanaman seperti pinang, jengkol, durian, pala, dan palawija menjadi andalan masyarakat Desa dalam menggerakkan roda ekonomi. Hasil dari perkebunan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan warga, baik pemilik lahan maupun masyarakat sekitar. Namun, berbeda dengan sektor pertanian, pemasaran hasil perkebunan menghadapi tantangan tersendiri, terutama karena akses yang cukup jauh dari pusat-pusat kota, sehingga distribusi menjadi lebih sulit.
Di masa lalu, Suka Damai dikenal dengan komoditas unggulan seperti kopi robusta, pala, dan nilam. Namun, seiring waktu, beberapa komoditas tersebut tidak lagi dapat diandalkan. Misalnya, tanaman pala mengalami penurunan produksi akibat serangan hama penggerek batang.
Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, masyarakat mulai beralih ke komoditas yang lebih tahan hama dan memiliki nilai ekonomi yang stabil, seperti serai wangi, pinang, dan jengkol. Ketiga komoditas ini saat ini menjadi pilihan utama petani karena ketahanannya terhadap serangan hama serta peluang pasarnya yang masih terbuka.
Dalam hal pemasaran, hasil kebun masyarakat umumnya dijual melalui dua jalur: sebagian dibeli oleh warga desa sendiri yang berperan sebagai pengepul lokal, dan sebagian lainnya dijual langsung kepada pembeli dari luar desa yang datang secara rutin ke Suka Damai untuk menjemput hasil panen.
Selain lahan pertanian yang luas dan tergolong masih sangat subur, hutan yang masih terjaga keasriannya, keberadaan satwa liar dilindungi, seperti harimau, burung rangkong dan orangutan dan sumber air yang melimpah karena adanya sungai yang bersih mengalir disepanjang pemukiman Desa. Suka Damai kami ibaratkan adalah ”Hidden Gems” atau ”Permata yang Tersembunyi” di mana tempat ini akan disukai oleh siapa saja yang melihatnya mengingat lokasi dari kota ke Lembah Sabil ke tempat ekowisata tidaklah jauh, hanya 6 Km saja dengan akses yang relatif mudah ditempuh dengan berkendara roda empat apalagi roda 2. Penduduk yang memiliki keramahan dan budayanya yang masih terjaga baik akan sangat berpotensi jika dapat dikembangkan menjadi tempat wisata.
Jasa sektor pariwisata secara terpadu belum ada, namun potensi wisata sangat tepat ke depan karena letak geografis dan bentangan alam yang sangat mendukung. Potensi ekowisata di desa Suka Damai yang dapat dikembangkan adalah gua, sungai, orang utan, burung rangkong, bunga anggrek dan masih banyak lain yang dapat dikelola dan dikembang secara terpadu.