Sitt al-Wuzara’ al-Tanukhiyyah adalah seorang ulama hadis asal Suriah. Ia merupakan murid terakhir Husayn ibn al-Mubarak al-Zabidi dan Abu al-Munajja Ibn al-Latti. Bersama dengan pendahulunya yang terkemuka Umm al-Darda dan Fatima bint 'Abd al-Malik ibn Marwan, istri khalifah saleh 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz, ia mewakili apa yang disebut Mohammad Akram Nadwi sebagai ilmu hadis dari al-Sham.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Sitt al-Wuzara' al-Tanukhiyyah | |
|---|---|
| Meninggal | 716 H/1338 M |
| Kebangsaan | Syria |
| Pekerjaan | Cendekiawan |
Sitt al-Wuzara’ al-Tanukhiyyah (wafat 716/1338 M) adalah seorang ulama hadis asal Suriah. Ia merupakan murid terakhir Husayn ibn al-Mubarak al-Zabidi dan Abu al-Munajja Ibn al-Latti. Bersama dengan pendahulunya yang terkemuka Umm al-Darda dan Fatima bint 'Abd al-Malik ibn Marwan, istri khalifah saleh 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz, ia mewakili apa yang disebut Mohammad Akram Nadwi sebagai ilmu hadis dari al-Sham (Suriah Besar).[1]
Kata Arab ‘sitt’ tidak merujuk pada nama pribadi. Istilah ini merupakan sapaan hormat yang biasanya diberikan kepada penguasa perempuan atau perempuan yang memiliki bakat luar biasa di bidang ilmu pengetahuan. Misalnya, ratu dinasti Fatimiyah Mesir pada tahun 980 memegang gelar Sitt al-Mulk. Sitt al-Qudat (secara harfiah, kepala qadis atau hakim) adalah seorang ahli hadis dan fiqh, yang hidup di Damaskus pada abad ke-14. Selain itu, Sitt al-'Arab dan Sitt al-'Ajam, dua ahli hadis terkemuka lainnya, juga hidup pada abad yang sama.[2]
Berkenaan dengan hal itu, dalam sumber lain[3] ia disebut dengan nama yang lebih panjang, Sitt al-Wuzara' bint 'Umar ibn al-Munajja, yang berarti ia adalah putri 'Umar yang merupakan putra al-Munajja.
Sitt al-Wuzara telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa, keteguhan, dan ketahanan dalam mengajar. Dia dikenal luas di Damaskus karena mengajarkan ‘’Sahih Al-Bukhari‘’, kumpulan hadis yang otentik (mencakup lebih dari 7.000 hadis yang secara bulat diterima oleh para ulama Muslim pada zamannya).[4] Bukti peran pentingnya dalam meriwayatkan hadits terlihat pada judul utama di halaman judul yang dihiasi dari ‘'Sahih al-Bukhari’' (berdiri pada abad ke-8), yang menyatakan bahwa riwayat al-Firabri, isnad (rantai perawi hadits) dari Sitt al-Wuzara'. Pencerita mendengarkan rantai perawi beserta hadits-haditsnya dari Sitt al-Wuzara'.[5]
Nadwi dalam ‘'Al-Muhaddithat: Para Ulama Perempuan dalam Islam’' menyoroti sebuah kebetulan menarik mengenai Sitt al-Wuzara' bahwa ia adalah perempuan terakhir di dunia yang meriwayatkan hadits dari Sahih Al-Bukhari dari Al-Zadibi dan wafat pada tahun 716, serta Aishah bint Muhammad ibn ' Abd al-Hadi al-Maqdisiyyah, yang wafat seratus tahun kemudian, bahkan memiliki kualitas yang lebih tinggi sehingga tidak ada seorang pun di antara pria yang mencapai tingkat tersebut.[6]
Sitt al-Wuzara' dikenal karena telah mengajar banyak murid sepanjang hidupnya, baik warga biasa maupun bangsawan. Ia hidup lebih dari sembilan puluh tahun. Ulama Islam Ibn Kathir melaporkan bahwa ia terus mengajar hingga napas terakhirnya, pada hari terakhir hidupnya yang panjang.[7]