Sistem Identifikasi Otomatis atau Automatic Identification System (AIS) adalah sebuah sistem pelacakan otomatis digunakan pada kapal dan dengan pelayanan lalu lintas kapal (VTS) untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya, BTS AIS, dan satelit.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Sistem Identifikasi Otomatis atau Automatic Identification System (AIS) adalah sebuah sistem pelacakan otomatis digunakan pada kapal dan dengan pelayanan lalu lintas kapal (VTS) untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya, BTS AIS, dan satelit.



Ketika satelit digunakan untuk mendeteksi tanda tangan AIS maka istilah Satellite-AIS (S-AIS) digunakan. Informasi AIS melengkapi radar laut, yang terus menjadi metode utama menghindari tabrakan untuk transportasi air.
Informasi yang disediakan oleh peralatan AIS, seperti identifikasi yang unik, posisi, arah dan kecepatan, dapat ditampilkan pada layar atau ECDIS. AIS dimaksudkan untuk membantu petugas watchstanding kapal dan memungkinkan otoritas maritim untuk melacak dan memantau pergerakan kapal. AIS mengintegrasikan VHF transceiver standar dengan positioning system seperti GPS atau penerima LORAN-C, dengan sensor navigasi elektronik lainnya, seperti girokompas atau tingkat indikator gilirannya. Kapal dilengkapi dengan pemancar-penerima AIS dan transponder dapat dilacak oleh BTS AIS terletak di sepanjang garis pantai atau, ketika keluar dari jangkauan jaringan terestrial, melalui semakin banyak satelit yang dilengkapi dengan penerima AIS khusus yang mampu deconflicting sejumlah besar tanda tangan.

Slot AIS memiliki panjang 26,66 ms. Modulasi datanya adalah 9600 bit/dtk, sehingga setiap slot memiliki kapasitas maksimum 256 bit. Pembingkaiannya berasal dari standar HDLC, yang dijelaskan dalam ISO/IEC 13239:2002.
Setiap slot disusun sebagai berikut:
<8 bit ramp up><24 bit preamble><8 bit start flag><168 bit payload><16 bit CRC><8 bit stop flag><24 bit buffer>

Perhatikan bahwa sinyal pada pembawa VHF dikodekan NRZI dan menggunakan bit-stuffing untuk menghindari stop-flag yang tidak disengaja yang mungkin terjadi pada data. Oleh karena itu, bit mentah harus didekode terlebih dahulu, dan bit stuffing harus dihilangkan, untuk mendapatkan format pesan yang sebenarnya dapat digunakan seperti yang dijelaskan di atas.