Sajen atau semahan adalah persembahan yang berupa panganan, kembang dan sebagainya, yang disajikan dalam upacara keagamaan atau adat lainnya, yang dilakukan secara simbolis dengan tujuan simbol konektivitas dengan kekuatan gaib. Kekuatan yang dimaksud bisa merupakan kekuatan tertinggi yang telah memberi kehidupan dan menjadi pusat harapan atas berbagai keinginan positif masyarakat, maupun kekuatan yang dipercayai telah menjauhkan masyarakat dari sentuhan hal-hal negatif. Benda-benda yang dipersembahkan adalah simbol dari harapan dan wujud syukur. Kegiatan mempersembahkan sajian ini disebut dengan bersaji.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Sajen (disebut pula sesajen) atau semahan[1] adalah persembahan yang berupa panganan, kembang dan sebagainya, yang disajikan dalam upacara keagamaan atau adat lainnya, yang dilakukan secara simbolis dengan tujuan simbol konektivitas dengan kekuatan gaib.[2][3] Kekuatan yang dimaksud bisa merupakan kekuatan tertinggi yang telah memberi kehidupan dan menjadi pusat harapan atas berbagai keinginan positif masyarakat,[4] maupun kekuatan yang dipercayai telah menjauhkan masyarakat dari sentuhan hal-hal negatif.[5] Benda-benda yang dipersembahkan adalah simbol dari harapan dan wujud syukur. Kegiatan mempersembahkan sajian ini disebut dengan bersaji.[2]
Sesajen pada dasarnya adalah bentuk penghormatan dan syukur dalam konteks keagamaan dan adat istiadat, dan tidak selalu terkait dengan praktik mistis atau negatif.[6]
Kata "sajen" dan "sajian" merupakan serapan dari bahasa Jawa Kuno saji, yang berarti 'apa yang telah disiapkan untuk dipakai atau disajikan, keperluan, kebutuhan, khususnya untuk ritual dan upacara'.[7] Kata saji itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta सज्ज् (sajj), suatu kata kerja yang berarti 'berpegang teguh, patuh, mengencangkan, memperbaiki, mengikuti, mengikat secara personal'.[8]