Sekolah Minggu yang dikenal sebagai sekolah Sabat dalam beberapa denominasi Kristen Sabat, adalah lembaga pendidikan atau kegiatan mingguan di tempat ibadah, biasanya bernuansa Kristen dan sering ditujukan untuk anak-anak atau orang yang baru mengenal agama. Banyak denominasi Kristen yang mengajarkan kisah-kisah Alkitab di dalam Sekolah Minggu. Biasanya kegiatan Sekolah Minggu diadakan di dalam sebuah Gereja atau dirumah jemaat dengan sebuatan diluar kata "Sekolah Minggu". Guru yang mengajar biasanya terdiri dari orang-orang Kristen yang sudah mengerti Alkitab. Biasanya diadakan pelatihan atau penataran sebelum bisa menjadi guru Sekolah minggu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia




Sekolah Minggu yang dikenal sebagai sekolah Sabat dalam beberapa denominasi Kristen Sabat, adalah lembaga pendidikan atau kegiatan mingguan di tempat ibadah, biasanya bernuansa Kristen dan sering ditujukan untuk anak-anak atau orang yang baru mengenal agama. Banyak denominasi Kristen yang mengajarkan kisah-kisah Alkitab di dalam Sekolah Minggu. Biasanya kegiatan Sekolah Minggu diadakan di dalam sebuah Gereja atau dirumah jemaat dengan sebuatan diluar kata "Sekolah Minggu". Guru yang mengajar biasanya terdiri dari orang-orang Kristen yang sudah mengerti Alkitab. Biasanya diadakan pelatihan atau penataran sebelum bisa menjadi guru Sekolah minggu.
Kelas sekolah Minggu biasanya mendahului ibadah Minggu dan digunakan untuk memberikan katekese kepada umat Kristen, terutama anak-anak dan remaja, dan terkadang juga orang dewasa. Gereja-gereja dari berbagai denominasi Kristen memiliki ruang kelas yang terhubung dengan gereja untuk tujuan ini. Banyak kelas sekolah Minggu beroperasi dengan kurikulum yang ditetapkan, dengan beberapa mengajarkan katekismus kepada peserta. Anggota sering menerima sertifikat dan penghargaan atas partisipasi, serta kehadiran.
Kelas sekolah Minggu dapat menyediakan sarapan ringan. Namun, pada hari-hari ketika Komuni Kudus dirayakan, beberapa denominasi Kristen menganjurkan puasa sebelum menerima unsur-unsur Ekaristi.[1]

Dimulai dari krisis ekonomi di Inggris pada abad ke-18. Robert Raikes yang adalah wartawan surat kabar di Inggris meliput berita mengenai keadaan tersebut. Dalam tugasnya tersebut, Raikes menemui banyak anak-anak yang harus menjadi tenaga kerja di pabrik-pabrik sebagai buruh kasar. Mereka bekerja dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Pada hari Minggu mereka libur.
Anak-anak tersebut memiliki uang sendiri untuk mereka belanjakan, hasil dari upah mereka sebagai buruh. Hari Minggu mereka habiskan untuk bersenang-senang. Minum-minuman keras, berjudi, bertingkah liar, dan tindakan-tindakan yang tidak terpuji lainnya.
Hati Raikes tergerak. Dia lantas membuka sebuah kelas yang terletak di sebuah dapur kecil milik Meredith di kota Scooty Alley. Kelas tersebut dibuka setiap hari Minggu. Awalnya anak-anak diajarkan sopan santun, kebersihan, membaca, menulis, dan sebagainya. Perkembangan selanjutnya mulai diajarkan ajaran-ajaran Alkitab.
Kelas ini berkembang. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadakan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.
Ketika Robert Raikes meninggal dunia pada tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Gerakan di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika.
Berikut ini dasar Alkitab dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai pelayanan sekolah minggu.[2]
Dari para misionaris yang pergi melayani ke negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui Sekolah Minggu juga hadir di Indonesia.
Berikut beberapa dugaan perkembangan pelayanan sekolah minggu di Indonesia. Masih dugaan karena memang tidak ada catatan resminya bagaimana sekolah minggu di Indonesia mulai berkembang.[3]