Sejarah dunia atau sejarah global sebagai bidang kajian sejarah mempelajari sejarah dari sudut pandang global. Bidang ini muncul sejak berabad-abad lalu; beberapa tokoh terkemukanya meliputi Voltaire (1694–1778), Hegel (1770–1831), Karl Marx (1818–1883), Oswald Spengler (1880–1936), dan Arnold J. Toynbee (1889–1975). Bidang ini menjadi jauh lebih aktif pada akhir abad ke-20.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Sejarah dunia atau sejarah global sebagai bidang kajian sejarah mempelajari sejarah dari sudut pandang global. Bidang ini muncul sejak berabad-abad lalu; beberapa tokoh terkemukanya meliputi Voltaire (1694–1778), Hegel (1770–1831), Karl Marx (1818–1883), Oswald Spengler (1880–1936), dan Arnold J. Toynbee (1889–1975). Bidang ini menjadi jauh lebih aktif (dalam hal pengajaran di universitas, penerbitan buku teks, jurnal ilmiah, dan asosiasi akademik) pada akhir abad ke-20.
Bidang ini tidak sama dengan sejarah komparatif, yang juga membahas sejarah berbagai kebudayaan dan bangsa, tetapi tidak dalam skala global. Para sejarawan dunia menggunakan pendekatan tematik, dengan dua fokus utama: integrasi (bagaimana proses sejarah dunia menyatukan berbagai kelompok manusia di dunia) dan perbedaan (bagaimana pola sejarah dunia menampilkan keberagaman pengalaman manusia).[1]
Dalam tradisi Barat, sejarah dunia umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu zaman kuno, zaman pertengahan, dan zaman modern.[2] Pembagian antara periode kuno dan pertengahan kurang tegas atau bahkan tidak ditemukan dalam historiografi Arab dan Asia. Pandangan menyeluruh terhadap sejarah universal mendorong beberapa sarjana, dimulai dengan Karl Jaspers,[3] untuk membedakan Zaman Poros yang sejajar dengan “zaman klasik” dalam tradisi Barat.[4]
Jaspers juga mengusulkan periodisasi yang lebih universal — yaitu prasejarah, sejarah, dan sejarah planet. Semua periode yang dibedakan sebelumnya termasuk dalam periode kedua (sejarah), yang dianggap sebagai fase peralihan yang relatif singkat di antara dua periode lain yang jauh lebih panjang.[3]
"Sejarah dunia bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan sebuah kegiatan, dan berbagai bentuk fisik ekspresinya—seperti kuliah, buku, artikel jurnal, serta pelajaran di kelas—merupakan tolok ukur bagi kegiatan tersebut. Seorang sejarawan, misalnya, dapat menunjuk pada sebuah buku dan berkata ‘itulah sejarah dunia’, meskipun ia tidak dapat menjelaskan alasannya. Karena itu, ‘sejarah dunia’ seharusnya didefinisikan melalui kajian terhadap berbagai bentuk ekspresi yang dijadikan tolok ukurnya, bukan terpisah atau mendahului bentuk-bentuk tersebut."
– Marnie Hughes-Warrington (2005)[5]
Jerry H. Bentley (2011) mengamati bahwa “istilah sejarah dunia tidak pernah menjadi penanda yang jelas dengan acuan yang stabil,” dan bahwa penggunaannya sering tumpang tindih dengan sejarah universal, sejarah komparatif, sejarah global, Sejarah Besar, makrosejarah, serta sejarah transnasional, di antara istilah lainnya.[6] Marnie Hughes-Warrington (2005) berpendapat bahwa “sejarah dunia” sering kali disalahpahami sebagai mencakup seluruh bumi, padahal karya yang mengklaim sebagai “sejarah dunia” dalam praktiknya mungkin memiliki ruang lingkup yang lebih terbatas, tergantung pada sudut pandang penulisnya: “’Dunia’ dalam sejarah dunia (...) tidak merujuk pada bumi secara keseluruhan—baik yang mencakup maupun yang terpisah dari pengalaman manusia—melainkan pada dunia yang dikenal dan bermakna bagi individu atau kelompok tertentu.”[7]
Munculnya sejarah dunia sebagai bidang akademik yang terpisah dapat ditelusuri ke Amerika Serikat pada dekade 1960-an, meskipun perkembangannya meningkat pesat pada 1980-an.[8][9] Langkah penting dalam perkembangan ini adalah berdirinya Ikatan Sejarah Dunia serta program pascasarjana di sejumlah universitas Amerika. Dalam beberapa dekade berikutnya, publikasi ilmiah, organisasi profesional dan akademik, serta program studi pascasarjana dalam bidang Sejarah Dunia berkembang pesat. Sejarah Dunia sering kali menggantikan mata pelajaran Peradaban Barat dalam kurikulum wajib sekolah menengah dan universitas di Amerika Serikat, serta didukung oleh buku teks baru dengan pendekatan sejarah dunia.
Sejarah dunia berupaya mengenali dan menanggapi dua struktur utama yang sangat memengaruhi penulisan sejarah profesional:
Dalam upayanya untuk melepaskan diri dari kerangka negara-bangsa, sejarah global berusaha melampaui batas-batas nasional dengan meninjau skala yang lebih luas dan tidak dibatasi oleh ruang geografis tertentu.[10] Oleh karena itu, sejarah dunia cenderung mempelajari jaringan, hubungan, dan sistem yang melintasi batas-batas tradisional studi sejarah seperti bahasa, budaya, dan negara.
Sejarah dunia sering kali berfokus pada penelusuran dinamika sosial yang menyebabkan perubahan berskala besar dalam masyarakat manusia, seperti industrialisasi dan penyebaran kapitalisme, serta menganalisis bagaimana perubahan besar semacam itu berdampak pada berbagai wilayah dunia. Seperti cabang-cabang penulisan sejarah lainnya pada paruh kedua abad ke-20, sejarah dunia memiliki ruang lingkup yang jauh melampaui fokus tradisional para sejarawan pada politik, peperangan, dan diplomasi—mencakup berbagai topik seperti sejarah gender, sejarah sosial, sejarah budaya, dan sejarah lingkungan.[8]
Kajian mengenai sejarah dunia, yang berbeda dari sejarah nasional, telah ada dalam banyak kebudayaan di dunia. Namun, bentuk awal dari sejarah dunia belum sepenuhnya bersifat global dan masih terbatas pada wilayah-wilayah yang dikenal oleh sang sejarawan.
Di Tiongkok Kuno, penulisan sejarah dunia versi Tiongkok—yakni tentang Tiongkok dan bangsa-bangsa di sekitarnya di kawasan Asia Timur—berdasarkan pada siklus wangsa yang dirumuskan oleh Sima Qian ca 100 BC. Model Sima Qian berlandaskan pada konsep Mandat Langit. Para penguasa naik takhta ketika mereka berhasil mempersatukan Tiongkok, lalu digulingkan ketika dinasti tersebut menjadi korup.[11] Setiap dinasti baru dimulai dengan kebajikan dan kekuatan, tetapi kemudian mengalami kemunduran, yang memicu perpindahan mandat Langit kepada penguasa baru. Ujian atas kebajikan suatu dinasti baru adalah keberhasilannya dalam mendapatkan ketaatan dari rakyat Tiongkok dan bangsa-bangsa “barbar” di sekitarnya. Setelah lebih dari dua ribu tahun, model Sima Qian masih mendominasi kajian ilmiah, meskipun siklus dinasti tidak lagi digunakan dalam penulisan sejarah Tiongkok modern.[12]
Di Yunani Kuno, Herodotos (abad ke-5 SM), sebagai pendiri historiografi Yunani,[13] menulis uraian mengenai adat istiadat, geografi, dan sejarah bangsa-bangsa di kawasan Mediterania, khususnya Mesir. Sejarawan sezamannya, Thukydides, menolak pendekatan Herodotos yang mencakup segala hal, dan sebaliknya menulis karya yang lebih terfokus dan analitis—bukan tentang kekaisaran besar selama berabad-abad, melainkan mengenai perang selama 27 tahun antara Athena dan Sparta. Di Romawi, karya besar dan patriotik tentang sejarah Roma yang ditulis oleh Livy (59 SM – 17 M) mendekati keluasan gaya Herodotos;[14] sedangkan Polybios (ca 200–ca 118 BC) berupaya memadukan ketelitian logis ala Thukydides dengan cakupan luas ala Herodotos.[15]
Rashid-al-Din Hamadani (1247–1318) adalah seorang tabib Muslim dari keluarga penutur bahasa Persia, sekaligus penulis dan sejarawan serbabisa, yang menulis karya sejarah Islam yang sangat besar berjudul Jami al-Tawarikh dalam bahasa Persia. Karya ini sering dianggap sebagai tonggak penting dalam historiografi lintas budaya dan dokumen utama mengenai bangsa Ilkhanid (abad ke-13 dan ke-14).[16] Pengetahuannya yang ensiklopedis tentang berbagai kebudayaan, mulai dari Mongolia hingga Tiongkok, padang rumput Eurasia Tengah, Persia, wilayah berbahasa Arab, hingga Eropa, memberikan akses paling langsung terhadap informasi mengenai masa akhir kekuasaan Mongol. Uraiannya juga menyoroti bagaimana Kekaisaran Mongol, dengan penekanannya pada perdagangan, menciptakan suasana pertukaran budaya dan agama serta kebangkitan intelektual, yang menghasilkan perpindahan berbagai gagasan dari Timur ke Barat dan sebaliknya.
Seorang cendekiawan Muslim lainnya, Ibn Khaldun (1332–1409), memutuskan diri dari tradisionalisme dan menawarkan suatu model perubahan sejarah dalam Muqaddimah, yaitu paparan tentang metodologi sejarah ilmiah. Ibn Khaldun menekankan penyebab naik dan turunnya peradaban, dengan berpendapat bahwa faktor-faktor perubahan harus dicari dalam struktur ekonomi dan sosial masyarakat. Karyanya sebagian besar diabaikan di dunia Islam.[17]
Selama Renaisans di Eropa, sejarah ditulis mengenai negara atau bangsa. Kajian sejarah mengalami perubahan selama Zaman Pencerahan dan Romantisisme. Voltaire menulis sejarah tentang masa-masa tertentu yang ia anggap penting, alih-alih menyajikan peristiwa secara kronologis. Sejarah kemudian menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Ia tidak lagi disebut Philosophia Historiae, melainkan hanya Historia (sejarah). Pada abad ke-18, Voltaire berusaha merevolusi cara mempelajari sejarah dunia. Ia menyimpulkan bahwa pendekatan tradisional dalam penulisan sejarah memiliki kekeliruan. Gereja Kristen, yang pada masanya merupakan salah satu lembaga paling berpengaruh, telah menetapkan kerangka dalam mempelajari sejarah. Namun, ketika menulis Kisah Charles XII (1731) dan Zaman Louis XIV (1751), Voltaire memilih untuk berfokus pada ekonomi, politik, dan kebudayaan.[18] Aspek-aspek sejarah tersebut sebagian besar belum banyak dikaji oleh para sezamannya, dan kemudian berkembang menjadi bidang-bidang tersendiri dalam studi sejarah dunia. Bagi Voltaire, kebenaran merupakan unsur terpenting dalam penulisan sejarah dunia. Nasionalisme dan agama dianggapnya justru mengaburkan objektivitas, sehingga ia berusaha membebaskan diri dari pengaruh keduanya ketika menulis sejarah.[19]
Giambattista Vico (1668–1744) dari Italia menulis Scienza Nuova seconda pada tahun 1725, yang berpendapat bahwa sejarah merupakan ungkapan dari kehendak dan perbuatan manusia. Ia berpandangan bahwa manusia adalah makhluk historis, dan bahwa sifat manusia berubah seiring waktu. Setiap zaman, menurutnya, harus dipandang sebagai satu kesatuan di mana seluruh aspek kebudayaan—seni, agama, filsafat, politik, dan ekonomi—saling berkaitan (gagasan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Oswald Spengler). Vico menunjukkan bahwa mitos, puisi, dan seni merupakan jalan masuk untuk memahami jiwa sejati suatu kebudayaan. Ia juga menguraikan konsep perkembangan sejarah di mana peradaban besar seperti Romawi mengalami siklus pertumbuhan dan kemunduran. Pemikirannya sempat tidak populer pada masa Pencerahan, tetapi kemudian berpengaruh besar pada para sejarawan Romantik setelah tahun 1800.
Landasan teoretis utama bagi sejarah dunia dikemukakan oleh filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang memandang negara Prusia modern sebagai tahap terakhir (meskipun sering disalahartikan sebagai tahap tertinggi) dalam perkembangan dunia.
G.W.F. Hegel mengembangkan tiga lensa atau sudut pandang untuk menelaah sejarah dunia. Dokumen-dokumen yang dihasilkan pada suatu periode sejarah—seperti catatan harian atau perjanjian—disebutnya sebagai bagian dari Original History. Dokumen-dokumen ini ditulis oleh orang yang hidup di dalam kebudayaan tertentu, sehingga menjadi sumber informasi penting tetapi terbatas oleh konteksnya. Dokumen yang termasuk dalam Original History menurut Hegel kini diklasifikasikan para sejarawan modern sebagai sumber primer.[20]
Reflective History, lensa kedua Hegel, mencakup karya yang ditulis dengan jarak waktu tertentu dari peristiwa yang dibahas secara akademik. Keterbatasan lensa ini, menurut Hegel, terletak pada kecenderungan penulis untuk menanamkan nilai-nilai budaya dan pandangan pribadinya ke dalam peristiwa sejarah. Kritik Hegel terhadap Reflective History kemudian diformalkan oleh antropolog Franz Boas dan dikembangkan menjadi konsep relativisme budaya oleh Alain Locke. Kedua lensa tersebut dianggap Hegel masih memiliki kekurangan.[21]
Hegel menamai lensa yang ia anggap paling tepat untuk memahami sejarah dunia sebagai Philosophical History. Melalui lensa ini, peristiwa, peradaban, dan masa harus dianalisis secara objektif. Dengan pendekatan demikian, sejarawan dapat menemukan tema-tema utama dari hasil kajiannya. Lensa ini berbeda karena berupaya menyingkirkan bias budaya dan menggunakan pendekatan yang lebih analitis. Karena sejarah dunia merupakan bidang yang sangat luas, fokus pada penarikan makna penting dari periode tertentu dianggap paling bermanfaat. Ketiga lensa ini, beserta definisi Hegel atasnya, sangat memengaruhi studi sejarah pada masa modern awal hingga masa kini.[22]
Sejarawan modern awal lainnya adalah Adam Ferguson. Kontribusi utama Ferguson terhadap studi sejarah dunia adalah karyanya An Essay on the History of Civil Society (1767).[23] Menurut Ferguson, sejarah dunia merupakan perpaduan antara dua bentuk sejarah: sejarah alam, yakni aspek-aspek dunia ciptaan Tuhan; dan sejarah sosial, yaitu kemajuan manusia menuju perwujudan rencana Tuhan bagi umat manusia. Ia meyakini bahwa kemajuan, yang dapat dicapai melalui upaya individu dalam mengejar keberhasilan ekonomi, akan membawa manusia mendekati masyarakat yang sempurna—meskipun kesempurnaan itu tidak akan pernah tercapai.[24] Namun, Ferguson juga berpendapat bahwa pengabdian mutlak pada kesuksesan komersial dapat menyebabkan kejatuhan moral dan kehancuran masyarakat—seperti yang terjadi pada Romawi. Melalui pandangan ini, ia melihat sejarah dunia sebagai perjuangan umat manusia menuju masyarakat ideal.[25]
Henry Home, Lord Kames adalah seorang filsuf pada masa Pencerahan yang juga memberikan kontribusi terhadap studi sejarah dunia. Dalam karya utamanya, Sketches on the History of Man, Kames menguraikan empat tahap sejarah umat manusia yang ia amati.[26] Tahap pertama, yang paling awal dan primitif, adalah kehidupan dalam kelompok pemburu-pengumpul kecil. Selanjutnya, untuk membentuk kelompok yang lebih besar, manusia memasuki tahap kedua dengan mulai menjinakkan hewan. Tahap ketiga adalah berkembangnya pertanian, yang memungkinkan munculnya perdagangan dan tingkat kerja sama yang lebih tinggi di antara kelompok masyarakat yang besar. Dengan terbentuknya desa-desa pertanian, hukum dan kewajiban sosial perlu diciptakan untuk menjaga ketertiban. Tahap keempat, yang terakhir, terjadi ketika manusia mulai hidup di kota-kota dagang dan pelabuhan di mana pertanian tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Sebaliknya, kegiatan niaga dan bentuk-bentuk pekerjaan lain muncul di masyarakat. Dengan menguraikan tahapan ini, Kames memengaruhi para penerusnya dan berkontribusi terhadap perkembangan bidang lain seperti sosiologi dan antropologi.[27]
Teori Marxis tentang materialisme historis menyatakan bahwa sejarah dunia pada dasarnya ditentukan oleh kondisi material pada setiap waktu tertentu—yakni hubungan antarmanusia dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan bagi diri mereka serta keluarga mereka.[28] Secara umum, Marx dan Engels mengemukakan bahwa terdapat lima tahap berturut-turut dalam perkembangan kondisi material tersebut di Eropa Barat.[29] Teori ini membagi sejarah dunia ke dalam periode-periode berikut:[30][31][32][33][34] Komunisme primitif; masyarakat budak; feodalisme; kapitalisme; dan sosialisme.
Regna Darnell dan Frederic Gleach berpendapat bahwa di Uni Soviet, teori sejarah Marxian menjadi satu-satunya ortodoksi yang diterima, sehingga menghambat penelitian terhadap aliran-aliran pemikiran sejarah lainnya.[35] Namun, banyak pengikut teori Marx berpendapat bahwa Stalin telah menyimpangkan Marxisme.[36]
Sejarah dunia menjadi genre yang populer pada abad ke-20 dengan munculnya sejarah universal. Pada tahun 1920-an, beberapa buku terlaris membahas sejarah dunia, termasuk Sejarah Umat Manusia (1921) karya Hendrik Willem van Loon dan Garis Besar Sejarah (1918) karya Herbert George Wells. Penulis berpengaruh yang berhasil menjangkau khalayak luas antara lain Herbert George Wells, Oswald Spengler, Arnold J. Toynbee, Pitirim Sorokin, Carroll Quigley, Christopher Dawson,[37] dan Lewis Mumford. Para akademisi yang bekerja di bidang ini meliputi Eric Voegelin,[38] William Hardy McNeill dan Michael Mann.[39] Dengan berkembangnya teknologi seperti metode penanggalan dan teknologi survei laser yang disebut LiDAR, sejarawan kontemporer kini memiliki akses terhadap informasi baru yang mengubah cara peradaban masa lalu dipelajari.
Decline of the West karya Spengler (2 jilid, 1919–1922) membandingkan sembilan kebudayaan organik: Mesir (3400–1200 SM), India (1500–1100 SM), Tiongkok (1300 SM–200 M), Klasik (1100–400 SM), Bizantium (300–1100 M), Aztec (1300–1500 M), Arab (300–1250 M), Maya (600–960 M), dan Barat (900–1900 M). Buku ini sukses di kalangan intelektual di seluruh dunia karena memprediksi kehancuran peradaban Eropa dan Amerika setelah “era Caesarisme” yang penuh kekerasan, dengan menggunakan analogi mendetail terhadap peradaban lain. Karya ini memperdalam pesimisme pasca-Perang Dunia I di Eropa dan disambut hangat oleh para intelektual di Tiongkok, India, dan Amerika Latin yang berharap ramalan Spengler tentang runtuhnya kekaisaran Eropa segera terwujud.[40]
Pada tahun 1936–1954, karya sepuluh jilid Toynbee berjudul A Study of History diterbitkan dalam tiga tahap terpisah. Ia mengikuti pendekatan komparatif seperti Spengler terhadap peradaban-peradaban independen. Toynbee menyatakan bahwa peradaban-peradaban tersebut menunjukkan kesamaan mencolok dalam asal-usul, pertumbuhan, dan kemundurannya. Ia menolak model biologis Spengler yang menganggap peradaban sebagai organisme dengan umur sekitar 1.000 tahun. Seperti halnya Sima Qian, Toynbee menjelaskan kemunduran peradaban sebagai akibat dari kegagalan moral. Banyak pembaca bergembira atas implikasinya (dalam jilid 1–6) bahwa hanya dengan kembali pada bentuk Katolik tertentu keruntuhan peradaban Barat yang dimulai sejak Reformasi dapat dihentikan. Jilid 7–10, yang diterbitkan pada 1954, meninggalkan pesan religius tersebut; khalayak umumnya menyusut sementara para akademisi mulai mengkritisi kesalahan-kesalahannya.[41]
McNeill menulis The Rise of the West (1963) untuk menyempurnakan karya Toynbee dengan menunjukkan bagaimana peradaban-peradaban terpisah di Eurasia saling berinteraksi sejak awal sejarah mereka, saling meminjam keterampilan penting, dan dengan demikian memicu perubahan lebih lanjut ketika penyesuaian antara pengetahuan dan praktik lama dengan yang baru menjadi hal yang diperlukan. McNeill mengambil pendekatan luas yang berfokus pada interaksi antarbangsa di seluruh dunia. Interaksi semacam ini semakin sering, terus-menerus, dan signifikan pada masa modern. Sebelum sekitar tahun 1500, jaringan komunikasi antarbudaya terbatas pada wilayah Eurasia. Istilah untuk kawasan interaksi ini berbeda-beda menurut sejarawan dunia — di antaranya disebut sebagai world-system dan ecumene. Pentingnya kontak lintas budaya ini kini mulai diakui oleh banyak ilmuwan.[42]
Sejarah universal sekaligus merupakan sesuatu yang lebih dan kurang daripada kumpulan sejarah nasional yang biasa kita kenal; karena itu, ia harus didekati dengan semangat yang berbeda dan diperlakukan dengan cara yang berbeda
— H. G. Wells, Garis Besar Sejarah
Akar dari historiografi pada abad ke-19 erat kaitannya dengan gagasan bahwa sejarah yang ditulis dengan keterikatan kuat pada sumber primer dapat diintegrasikan dengan “gambaran besar”, yaitu sejarah umum atau universal. Sebagai contoh, Leopold von Ranke—yang mungkin merupakan sejarawan paling berpengaruh pada abad ke-19 dan pendiri dari positivisme historis Rankean,[43]—berusaha menulis sebuah Sejarah Universal di akhir kariernya. Karya para sejarawan dunia seperti Oswald Spengler dan Arnold J. Toynbee merupakan contoh dari upaya untuk mengintegrasikan sejarah berbasis sumber primer dengan penulisan Sejarah Universal. Karya Spengler bersifat lebih umum, sementara Toynbee menciptakan suatu teori yang memungkinkan studi mengenai “peradaban” dilakukan dengan menggabungkan penulisan sejarah berbasis sumber historis dengan penulisan Sejarah Universal.[44] Kedua penulis tersebut berusaha memasukkan teori-teori teleologis ke dalam penyajian sejarah umum. Toynbee menemukan bahwa telos (tujuan) dari sejarah universal adalah munculnya sebuah Negara Dunia tunggal.
Menurut Francis Fukuyama, teori modernisasi adalah “Sejarah Universal signifikan terakhir” yang ditulis pada abad ke-20.[45] Teori ini berakar pada pemikiran Marx, Weber, dan Durkheim. Karya Talcott Parsons berjudul Societies: Evolutionary and Comparative Perspectives (1966) merupakan pernyataan penting dari pandangan ini terhadap sejarah dunia.[46]
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara sejarah Afrika dan sejarah dunia telah bergeser cepat dari sikap saling bertentangan menjadi hubungan yang saling melengkapi dan bersifat sintesis. Reynolds (2007) meninjau hubungan antara sejarah Afrika dan sejarah dunia, dengan menekankan ketegangan antara paradigma kajian kawasan (area studies) dan penekanan sejarah dunia yang semakin berkembang pada hubungan dan pertukaran lintas batas regional. Ia juga menyoroti perdebatan dan pertukaran gagasan terbaru mengenai nilai dari pendekatan ini. Reynolds memandang hubungan antara sejarah Afrika dan sejarah dunia sebagai cerminan dari perubahan sifat penelitian sejarah selama satu abad terakhir.[47]
Marxists sometimes distinguish between 'personal property' and 'private property,' the former consisting in consumer goods directly used by the owner, while the latter is private ownership of the major means of production.