Syaikh Ahmad Zaini Dahlan adalah Mufti Agung mazhab Syafi'i di Mekah, dan Syaikhul Islam di wilayah Hijaz, Kesultanan Utsmaniyyah, dan Imam al-Haramain, serta menjadi sejarawan dan teolog Asy'ari. Ia dikenal karena kritiknya terhadap Wahhabisme dan kecenderungannya terhadap tasawuf. Dalam risalahnya menentang pengaruh Wahhabi, Dahlan dengan jelas memandang tasawuf sebagai bagian hukum dan integral dari praktik Islam – termasuk aspek-aspek seperti tawassul, tabarruk, dan ziarah kubur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
| Sayid Ahmad Zaini Dahlan | |
|---|---|
| Nama | Ahmad Zaini Dahlan |
| Lahir | 1232 H Mekkah |
| Meninggal | 4 Safar 1304 H Madinah |
| Dimakamkan di | Jannatul Baqi |
| Kebangsaan | Arab |
| Zaman | 12 Hijriyah |
| Pekerjaan | Pengajar di Masjidil Haram |
| Denominasi | Sunni |
| Mazhab Fikih | As-Syafi'i |
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan (bahasa Arab: أحمد زَيْني دَحْلانcode: ar is deprecated ) adalah Mufti Agung mazhab Syafi'i di Mekah,[1][2] dan Syaikhul Islam (otoritas agama tertinggi di wilayah Utsmaniyah) di wilayah Hijaz, Kesultanan Utsmaniyyah,[3] dan Imam al-Haramain (Imam dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah),[4] serta menjadi sejarawan dan teolog Asy'ari. Ia dikenal karena kritiknya terhadap Wahhabisme dan kecenderungannya terhadap tasawuf.[5] Dalam risalahnya menentang pengaruh Wahhabi, Dahlan dengan jelas memandang tasawuf sebagai bagian hukum dan integral dari praktik Islam – termasuk aspek-aspek seperti tawassul (syafaat, atau berdoa melalu perantara),[Note 1] tabarruk (mencari berkah melalui orang atau benda), dan ziarah kubur (kunjungan makam).[6][7][8]
Dia adalah keturunan Abdul Qadir al-Jailani. Dia menulis, dan secara pribadi menerbitkan banyak karya tentang sejarah, fikih, dan ilmu-ilmu Islam pada umumnya.
Ahmad bin Zaini Dahlan adalah seorang mufti, ahli fikih, dan sejarawan. Ia lahir di Mekkah dan tumbuh serta belajar di sana. Sejak kecil ia telah menghafal Al-Qur’an dan belajar kepada sejumlah ulama terkenal pada masanya. Setelah memperoleh berbagai ijazah keilmuan dari para gurunya, ia diangkat menjadi mufti serta pemimpin para ulama di Mekkah pada tahun 1288 H (1871 M), sekaligus aktif mengajar.
Pada tahun 1304 H (1886 M), ia terpaksa meninggalkan Mekkah bersama pemimpin besar setempat, Syarif ‘Aun, menuju Madinah, akibat perselisihannya dengan seorang pejabat bernama Utsman Pasha. Tidak lama setelah tiba di Madinah, kurang dari satu tahun, ia wafat di sana.
Pada masa hidupnya di Mekkah, ia menyaksikan munculnya percetakan modern pertama di kota tersebut, dan ia memanfaatkannya untuk mencetak sebagian karya-karyanya.[9]
Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan bin Ahmad Dahlan bin ‘Utsman Dahlan bin Ni’matullah bin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Athoya bin Faaris bin Musthofa bin Muhammad bin Ahmad bin Zaini bin Qaadir bin ‘Abdul Wahhaab bin Muhammad bin ‘Abdur Razzaaq bin ‘Ali bin Ahmad bin Ahmad (Mutsanna) bin Muhammad bin Zakariyya bin Yahya bin Muhammad bin Abi ‘Abdillah bin al-Hasan bin Sayyidina ‘Abdul Qaadir al-Jilani, Sulthanul Awliya` bin Abi Sholeh Musa bin Janki Dausat Haq bin Yahya az-Zaahid bin Muhammad bin Daud bin Muusa al-Juun bin ‘Abdullah al-Mahd bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan as-Sibth bin Sayyidinal-Imam ‘Ali dan Sayyidatina Fathimah al-Batuul, puteri Rasulullah ﷺ.”[10]
Dia adalah cucu ke-38 dari Rasulullah ﷺ , dalam garis keturunannya.
Dia lahir di Mekah al-Mukarramah pada tahun 1232 H (1817 M), tumbuh dan dibesarkan di sana. Dia menghafal Al-Qur'an serta banyak matan (teks dasar ilmu agama), dan tekun menuntut ilmu yang mulia di Masjidil Haram bersama banyak syeikh, di antaranya Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi al-Azhari.
Dia telah menyusun banyak buku dalam berbagai cabang pengetahuan syariah, bayan , nahwu , sejarah, dan matematika, di antaranya:
Dia pindah ke Madinah pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 1303 H, dan menetap di sana untuk menyebarkan ilmu dan beribadah hingga wafat pada malam terakhir hari Ahad, tanggal 4 bulan Shafar tahun 1304 H. Dia dimakamkan di Baqi'.
Beliau memiliki banyak murid, antara lain:
, *Syekh Abdul Karim bin Abdul Qohar Sidayu