Galago kerdil rondo atau bayi semak Rondo adalah sebuah spesies primata dalam keluarga Galagidae. Galago kerdil adalah anggota terkecil dari genus Galagoides. Hewan tersebut memiliki berat kurang dari 100 gram, membuatnya menjadi galago terkecil yang diketahui. Hewan tersebut adalah endemik di Tanzania dimana habitat alaminya adalah hutan kering tropis atau subtropis. Hewan tersebut hidup di sebuah kawasan yang dikabarkan pada 2012 kurang dari 100 kilometer persegi dan terancam kehilangan habitat karena penebangan. Saat ditemukan pada 1950an, galago kerdil Rondo memiliki data yang kurang sampai 1996. Pada 1996, bayi semak Rondo secara penuh dideskripsikan sebagai sebuah spesies. Hewan tersebut sekarang menjadi salah satu dari "25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia." Pada 2010, hewan tersebut juga ditambahkan pada daftar mamalia terancam punah dan memiliki genetik yang berbeda oleh Zoological Society of London.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Galago kerdil rondo[1] | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Primata |
| Subordo: | Strepsirrhini |
| Famili: | Galagidae |
| Genus: | Paragalago |
| Spesies: | P. rondoensis |
| Nama binomial | |
| Paragalago rondoensis Honess, 1997 | |
| Sebaran spesies | |
| Sinonim | |
|
Galago rondoensis Honess in Kingdon, 1997 | |
Galago kerdil rondo (Paragalago rondoensis) atau bayi semak Rondo [3] adalah sebuah spesies primata dalam keluarga Galagidae. Galago kerdil adalah anggota terkecil dari genus Galagoides.[4] Hewan tersebut memiliki berat kurang dari 100 gram, membuatnya menjadi galago terkecil yang diketahui.[5] Hewan tersebut adalah endemik di Tanzania dimana habitat alaminya adalah hutan kering tropis atau subtropis. Hewan tersebut hidup di sebuah kawasan yang dikabarkan pada 2012 kurang dari 100 kilometer persegi[5] dan terancam kehilangan habitat karena penebangan.[3] Saat ditemukan pada 1950an, galago kerdil Rondo memiliki data yang kurang sampai 1996. Pada 1996, bayi semak Rondo secara penuh dideskripsikan sebagai sebuah spesies.[3] Hewan tersebut sekarang menjadi salah satu dari "25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia."[6] Pada 2010, hewan tersebut juga ditambahkan pada daftar mamalia terancam punah dan memiliki genetik yang berbeda oleh Zoological Society of London.[7]