Reformasi Gregorian adalah serangkaian reformasi yang diinisiasikan oleh Paus Gregorius VII dan lingkup yang ia bentuk dalam kuria kepausan pada sekitar tahun 1050–80, yang menyepakati integritas moral dan independensi rohaniwan. Reformasi tersebut mengambil nama dari Paus Gregorius VII (1073–85), meskipun ia sendiri menyangkalnya dan mengklaim bahwa reformasinya, seperti nama regnalnya, menghormati Paus Gregorius I.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Reformasi Gregorian adalah serangkaian perubahan besar yang dilakukan dalam Gereja Katolik Roma dan sistem penanggalan pada abad pertengahan hingga awal modern. Istilah ini mencakup dua aspek utama: Reformasi Gereja Gregorian yang dimulai pada abad ke-11 di bawah kepemimpinan Paus Gregorius VII, serta Reformasi Kalender Gregorian yang diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582 untuk memperbaiki kalender Julian.
Pada abad ke-11, Gereja Katolik menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal. Salah satu masalah utama adalah praktik simoni, yaitu penjualan jabatan gerejawi, serta nikah para klerus (clerical marriage), yang dianggap merusak integritas spiritual gereja. Selain itu, konflik antara kekuasaan gereja dan negara, terutama dalam bentuk investiture (pengangkatan pejabat gereja oleh penguasa sekuler), menjadi isu penting.
Reformasi Gereja Gregorian bertujuan untuk:
Paus Gregorius VII (kepausan 1073–1085) adalah tokoh sentral dalam reformasi ini. Ia menerbitkan dekrit yang melarang simoni dan nikah klerus, serta menegaskan bahwa hanya gereja yang memiliki hak untuk mengangkat uskup-uskup. Konfliknya dengan Kaisar Romawi Suci Heinrich IV mengenai masalah investiture mencapai puncaknya dalam "Perang Investiture" yang berlangsung selama beberapa dekade.
Reformasi Gereja Gregorian berhasil memperkuat otoritas gereja dan mengurangi campur tangan sekuler dalam urusan gerejawi. Namun, reformasi ini juga memicu ketegangan antara gereja dan negara yang berlangsung hingga berabad-abad kemudian. Selain itu, reformasi ini meletakkan dasar bagi struktur gereja modern yang lebih terorganisasi dan independen.
Kalender Julian, yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM, telah digunakan selama lebih dari 1.500 tahun. Namun, karena adanya kesalahan kecil dalam perhitungan panjang tahun (365,25 hari dibandingkan dengan panjang tahun matahari sebenarnya, yaitu 365,2425 hari), kalender ini mulai bergeser dari siklus musim. Pada abad ke-16, pergeseran ini telah mencapai 10 hari, sehingga tanggal vernal equinox tidak lagi sesuai dengan tanggal yang ditetapkan oleh Konsili Nicaea untuk perayaan Paskah.
Reformasi Kalender Gregorian bertujuan untuk:
Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII mengumumkan reformasi kalender yang dirancang oleh ahli astronomi Aloysius Lilius dan Christopher Clavius. Reformasi ini melibatkan dua perubahan utama:
Meskipun reformasi ini diterima dengan cepat oleh negara-negara Katolik seperti Italia, Prancis, dan Spanyol, banyak negara Protestan dan Ortodoks yang menolak untuk mengadopsinya hingga berabad-abad kemudian. Inggris, misalnya, baru beralih ke kalender Gregorian pada tahun 1752, sementara Rusia baru mengadopsinya setelah Revolusi Bolshevik pada tahun 1918.
Reformasi Kalender Gregorian berhasil menciptakan sistem penanggalan yang jauh lebih akurat daripada pendahulunya. Saat ini, kalender Gregorian adalah sistem penanggalan yang paling banyak digunakan di dunia, baik dalam konteks sipil maupun agama.