Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPutri Mardika
Artikel Wikipedia

Putri Mardika

Poetri Mardika adalah organisasi pergerakan kaum perempuan yang berdiri pada tahun 1912 di Batavia. Pendirian organisasi ini diprakarsai oleh sejumlah perempuan terpelajar Indonesia diantaranya, R.A Theresia Sabaroedin, R.A. Sutinah Joyopranoto, dan R.K. Rukmini.

Wikipedia article
Diperbarui 20 April 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (April 2025)

Poetri Mardika adalah organisasi pergerakan kaum perempuan yang berdiri pada tahun 1912 di Batavia (sekarang dikenal dengan nama Jakarta). Pendirian organisasi ini diprakarsai oleh sejumlah perempuan terpelajar Indonesia diantaranya, R.A Theresia Sabaroedin, R.A. Sutinah Joyopranoto, dan R.K. Rukmini.

Pada tahun 1915, mereka menerbitkan surat kabar Poetri Mardika dengan nama percetakannya yaitu NV. Drukkerij Boedi Oetomo Surakarta dan mengandalkan pembiayaan dari penjualan surat kabar tersebut. Surat kabar ini mengusung semboyan “soerat kabar memperhatikan keadaanja pihak perempoan boemi poetra di Insulinde”.

Dalam sidang besar tanggal 6 Juni 1915 di Bogor, presiden perkumpulan Poetri Mardika Teongkoe Sabaroeddin mengatakan organisasi ini bergerak di bidang politik dan peduli terhadap kemerdekaan perempuan.

Sejarah Pendirian

Gerakan perempuan Poetri Mardika mendapat dukungan penuh dari organisasi Budi Oetomo yang pada 3 Oktober 1908 dalam kongres pertama di Yogyakarta, mengusulkan upaya peningkatan derajat perempuan. Pada tahun 1912 sejumlah perempuan kemudian memprakarsai pembentukan Poetri Mardika, organisasi perempuan yang berada di bawah naungan Boedi Oetomo. Organisasi ini terbentuk atas prakarsa Tengkoe Theresia Sabaroedin, Sadikoen Tondokoesoemo, Soetinah Djoyopranoto, dan Roekmini.

Tahun pertama berdirinya Poetri Mardika, R.A Theresia Sabaroedin terpilih sebagai ketua. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Soetinah (1915), Asiah Koesrin (1916), dan Siti Katidjah Abdoerachman (1918). Gagasan-gagasan R.A Kartini terkait kesetaraan dan emansipasi perempuan menjadi fondasi pergerakan organisasi ini. Mereka aktif menentang praktik pernikahan usia dini dan kawin paksa bagi perempuan pribumi.

Poetri Mardika terdiri dari dua kata yaitu "Poetri" yang berarti perempuan dan "Mardika" artinya merdeka. Poetri Mardika bertujuan membantu gadis bumiputra untuk memperoleh pendidikan dan menghapus diskriminasi yang dialami perempuan pribumi. Oleh karena itu, mereka aktif memberikan bantuan dana beasiswa bagi anak-anak perempuan, membantu mendirikan sekolah, dan kesempatan untuk memiliki keterampilan lewat kelas menjahit, membatik, serta merenda.

Pada 11 Juli 1915, Poetri Mardika menyelenggarakan acara propaganda yang diadakan di daerah Madiun dan di Surabaya pada 18 Juli 1915. Adapun tujuan kegiatan propaganda ini untuk memberikan pemahaman, memperkuat serta memajukan perhimpunan perempuan agar memiliki banyak relasi.

Kegiatan propaganda ini menghasilkan pengadaan kerja sama antara Poetri Mardika dengan para nyonya Belanda untuk mendirikan kongres perempuan dengan tujuan menguatkan serta memperkenalkan perhimpunan Poetri Mardika ke berbagai pelosok Indonesia. Dalam laporan surat kabar Poetri Mardika di katakan bahwa Poetri Mardika pada tahun 1918 masuk menjadi bagian dari anggota Nederlandsh Indisch Kongres Voor Opvoeding En Onderwijs (NIOK).

Beasiswa

Pada tahun 1915 Poetri Mardika membiayai sekitar tujuh orang anak, tujuh orang anak pada tahun 1916, sembilan orang anak pada tahun 1917, sembilan orang anak pada tahun 1918 dan enam orang anak pada tahun 1919. Jumlah penerima bantuan dana pendidikan semakin berkurang dikarenakan beberapa anak tanggungan Poetri Mardika melanjutkan ke MULO secara gratis dan ada juga yang memutuskan untuk berhenti dan menikah.

Dalam majalah Poetri Mardika terdapat laporan bahwa mereka menerima dua anak murid kartini di Batavia pada bulan juli 1915, kemudian pada bulan agustus tahun 1916. Poetri Mardika memberikan beasiswa kepada dua anak perempuan di sekolah H.B.S, satu anak di Semarang, satu anak di Batavia, satu anak perempuan di sekolah Belanda gouverment, tiga anak perempuan di Bataviasche kartini school dan satu anak sekolah swasta.

Masa-masa Akhir

Pada tahun 1920 organisasi perempuan pertama Poetri Mardika dinyatakan berakhir karena kekurangan dana untuk memberikan beasiswa kepada gadis bumiputra. Hingga akhir keberadaannya anggota Poetri Mardika sebanyak 123 orang yang terdiri dari anggota perempuan dan laki-laki.

Referensi

  1. https://vm36.upi.edu/index.php/historia/article/viewFile/23001/12356
  2. https://www.jalastoria.id/poetri-mardika-iringi-gerakan-boedi-oetomo/
  3. https://www.senibudayabetawi.com/7350/poetri-mardika-organisasi-perempuan-pertama-di-batavia.html
  4. https://kumparan.com/carissa-budita/putri-mardika-menilik-peran-perempuan-dalam-perjuangan-kemerdekaan-1z9IoQVXrnZ/3
Pengguna ini menulis bersama dalam
Tantangan WikiPerempuan di Wikipedia 2025.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah Pendirian
  2. Beasiswa
  3. Masa-masa Akhir
  4. Referensi

Artikel Terkait

Sejarah perempuan di Indonesia

pada masa kolonial, termasuk organisasi perempuan seperti Istri Sedar, Putri Mardika, dan Perikatan Perempuan Indonesia. Pemerintah militer kemudian mendirikan

Cinta Mati (seri televisi)

seri televisi Indonesia tahun 2025

Gelar kebangsawanan Jawa

Nama gelar

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026