Kedih adalah spesies primata yang tergolong dalam famili Cercopithecidae. Hewan ini merupakan hewan endemik di utara Sumatra, Indonesia. Habitat alaminya adalah hutan tropis kering atau subtropis. Hewan ini terancam oleh pengrusakan habitat. Nama aslinya adalah reungkah di Aceh dan kedih di Alas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kedih[1] | |
|---|---|
| Dewasa di suaka Bukit Lawang. | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Primata |
| Subordo: | Haplorhini |
| Infraordo: | Simiiformes |
| Famili: | Cercopithecidae |
| Genus: | Presbytis |
| Spesies: | P. thomasi |
| Nama binomial | |
| Presbytis thomasi (Collett, 1893) | |
| Peta sebaran spesies | |
Kedih (Presbytis thomasi) adalah spesies primata yang tergolong dalam famili Cercopithecidae. Hewan ini merupakan hewan endemik di utara Sumatra, Indonesia. Habitat alaminya adalah hutan tropis kering atau subtropis. Hewan ini terancam oleh pengrusakan habitat. Nama aslinya adalah reungkah di Aceh dan kedih di Alas.[3][4]
Kedih memiliki ciri fisik menonjol, yaitu keberadaan jambul di kepalanya. Secara visual, wajah bulatnya didominasi oleh warna hitam keabu-abuan, dengan aksen warna putih yang kontras di area sekitar mata dan bagian jambul.[5]
Kedih didominasi bulu hitam keabu-abuan kecuali pada bagian dada yang berwarna putih. Ciri khas utamanya adalah area mulut dan hidung berwarna cokelat yang menonjol, sehingga wajahnya tampak seperti sedang bersedih.[5]
Kedih ekor panjang memiliki dimensi tubuh 420–610 mm dan ekor sepanjang 500–850 mm. Berat tubuhnya berkisar antara 5 sampai 8 kg.[5]
Habitat alami spesies Kedih tersebar di kawasan hutan tropis dan subtropis. Secara ekologis, primata ini tergolong hewan arboreal yang mengorganisir diri dalam kelompok-kelompok sosial di atas pepohonan.[6]
Populasi kedih di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara diperkirakan hanya tersisa sekitar 2.000 ekor. Di Aceh, habitatnya mencakup Ketambe, Simpang Kiri, Aceh Selatan, Sikundur (Taman Nasional Gunung Leuser), hingga Jantho di Aceh Besar. Sementara di Sumatera Utara, primata ini dapat ditemukan di wilayah Langkat, Sungai Wampu, dan Togar Marganda.[6]
Kedih hidup bekelompok, umumnya terdiri dari belasan individu yang dipimpin oleh seekor jantan dominan. Anggota kelompok lainnya meliputi para betina beserta anak-anak mereka.[5]
Pemimpin kelompok kedih ditentukan melalui perilaku pejantan, di mana pejantan yang kalah berisiko diusir. Selain itu, jantan yang memimpin biasanya bertengger di dahan pohon yang tinggi untuk memantau keamanan kelompok dari ancaman predator.[5]
Kedih mengatur tempat tidurnya berdasarkan waktu. Siang hari dihabiskan di kerimbunan pohon, sedangkan malam hari mereka mencari posisi lebih tinggi agar lebih aman.[5]
Makanan utama Kedih adalah tumbuh-tumbuhan seperti buah-buahan, dedaunan, dan bunga. Meski begitu, kedih juga kerap memangsa siput kecil, berkat dukungan struktur gigi yang tajam.[5]
Kedih memenuhi kebutuhan airnya melalui makanan, namun sesekali minum dari sumber air di habitatnya. Kedih juga memiliki kebiasaan makan bersama dalam kelompok.[5]
Berdasarkan jurnal UIN Ar Raniry, kedih (Presbytis thomasi) memegang peranan krusial dalam regenerasi hutan melalui perannya sebagai agen penyebar benih buah, dengan klasifikasi ilmiah meliputi Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Mamalia, Ordo Primata, Subordo Haplorrhini, Infraordo Simiiformes, Superfamili Cercopithecoidea, Famili Cercopithecidae, Subfamili Colobinae, serta Genus Presbytis.[6]

Populasi kedih mengalami penurunan setiap tahunnya. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), kedih diklasifikasikan sebagai spesies rentan dan tercantum dalam Red List yang menandakan status terancam punah.[5]
Populasi Kedih merosot tajam akibat rusaknya habitat alami yang disebabkan oleh penebangan, alih fungsi lahan, serta kebakaran hutan.[5]
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018, pemerintah secara resmi menetapkan Kedih sebagai jenis satwa yang wajib dilindungi di Indonesia.[5]