Kelapa adalah anggota dari famili palem-paleman (Arecaceae) dan satu-satunya spesies yang masih hidup dari genus Cocos. Berasal Indo-Pasifik Tengah, kelapa tersebar luas di daerah tropis pesisir.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kelapa Rentang waktu: Awal Eosen – Sekarang | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Monokotil |
| Klad: | Commelinidae |
| Ordo: | Arecales |
| Famili: | Arecaceae |
| Subfamili: | Arecoideae |
| Tribus: | Cocoseae |
| Genus: | Cocos L. |
| Spesies: | C. nucifera |
| Nama binomial | |
| Cocos nucifera L. | |
| Kemungkinan jangkauan sebaran asli sebelum domestikasi | |
| Sinonim[1] | |
| |
Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota dari famili palem-paleman (Arecaceae) dan satu-satunya spesies yang masih hidup dari genus Cocos.[1][2] Berasal Indo-Pasifik Tengah, kelapa tersebar luas di daerah tropis pesisir.
Pohon kelapa menyediakan makanan, bahan bakar, kosmetik, obat tradisional, dan bahan bangunan. Daging bagian dalam dari buah yang matang menjadi bagian rutin dari menu makanan banyak orang di daerah tropis dan subtropis. Endosperma kelapa mengandung cairan dalam jumlah besar yang dikenal sebagai "air kelapa". Kelapa yang sudah matang dapat diolah untuk menghasilkan minyak dan santan dari dagingnya, arang dari tempurungnya yang keras, dan sabut dari kulit luarnya yang berserat. Daging kelapa yang dikeringkan disebut kopra, dan minyak serta santan yang dihasilkan darinya umumnya digunakan dalam memasak serta pembuatan sabun dan kosmetik. Nira kelapa yang manis dapat dijadikan minuman atau difermentasi menjadi tuak atau cuka kelapa. Tempurung yang keras, sabut yang berserat, dan daun menyirip yang panjang digunakan untuk membuat berbagai produk perabotan dan dekorasi.
Kelapa memiliki arti penting secara budaya dan agama bagi masyarakat Austronesia, yang muncul dalam mitologi, lagu, dan tradisi lisan mereka. Pohon ini juga memiliki signifikansi keagamaan dalam budaya Asia Selatan, di mana ia digunakan dalam berbagai ritual agama Hindu, termasuk pernikahan dan pemujaan.
Spesies ini berevolusi di Indo-Pasifik tengah. Tanaman ini didomestikasi oleh masyarakat Austronesia di Asia Tenggara Maritim dan menyebar selama zaman Neolitikum melalui migrasi jalur laut mereka hingga sejauh Kepulauan Pasifik di sebelah timur, dan sejauh Madagaskar di sebelah barat. Spesies ini memainkan peran penting dalam pelayaran laut jarak jauh mereka dengan menyediakan sumber makanan dan air yang mudah dibawa, serta bahan bangunan untuk perahu cadik. Jauh setelahnya, kelapa disebarkan di sepanjang pesisir Samudra Hindia dan Atlantik oleh pelaut Asia Selatan, Arab, dan semenjak abad ke-16 oleh pelaut Eropa. Berdasarkan perkenalan ini, spesies kelapa dapat dibagi menjadi tipe Pasifik dan Indo-Atlantik. Tipe Indo-Atlantik diperkenalkan ke Amerika selama era kolonial dalam Pertukaran Columbus, sementara para pelaut Austronesia tampaknya telah memperkenalkan kelapa Pasifik ke Panama pada masa pra-Columbus.
Pohon kelapa dapat tumbuh setinggi 30 meter (100 kaki) dan dapat menghasilkan hingga 75 buah per tahun, meskipun umumnya memproduksi kurang dari 30 buah. Pohon ini tidak tahan terhadap suhu dingin dan lebih menyukai curah hujan yang melimpah serta paparan sinar matahari penuh. Banyak hama serangga dan penyakit yang memengaruhi produksi komersialnya. Pada tahun 2023, produksi kelapa dunia mencapai 65 juta ton, dengan 73% dari total produksinya dihasilkan oleh Indonesia, India, dan Filipina.
Cocos nucifera adalah palem berukuran besar, tumbuh setinggi 30 meter (100 kaki), dengan daun menyirip sepanjang 4–6 m (13–20 ft), dan anak daun sepanjang 60–90 sentimeter (2–3 ft); daun tua akan lepas dengan rapi, membuat batangnya tampak halus.[3] Di tanah yang subur, pohon kelapa yang tinggi menghasilkan sekitar 80 buah per tahun; varietas baru mungkin dapat menghasilkan hingga 150 buah per tahun.[4] Di India, rata-rata produksi mencapai lebih dari 8.000 butir per hektar per tahun.[5] Varietas tinggi menghasilkan buah pertamanya dalam 6 hingga 10 tahun, dan hidup selama 60 hingga 100 tahun; varietas genjah menjadi produktif lebih cepat, tetapi memiliki umur yang lebih pendek.[6]
Kelapa bersifat berumah satu, yang berarti bunga jantan dan betina tumbuh pada pohon yang sama, yang dalam hal ini berada pada perbungaan yang sama.[7][8] Ada kemungkinan bahwa selain itu spesies ini sesekali memiliki bunga biseksual.[9] Bunga betina berukuran jauh lebih besar daripada bunga jantan.[8] Pohon dewasa tumbuh secara terus-menerus, menghasilkan daun, bunga, dan buah sepanjang tahun. Dibutuhkan sekitar 14 bulan bagi setiap primordium bunga untuk berkembang menjadi sebuah perbungaan, yang secara botani merupakan sebuah tongkol bunga di dalam seludang bunga. Pohon yang sehat dapat menghasilkan hingga 15 perbungaan per tahun, yang tumbuh berselang-seling sehingga selalu ada satu perbungaan yang matang bersama dengan perbungaan lainnya dalam tahap perkembangan yang berbeda.[10][11] Dibutuhkan waktu 11 bulan dari mekarnya bunga betina hingga masa panen.[12] Pohon kelapa sebagian besar mengalami penyerbukan silang, meskipun sebagian besar varietas genjah menyerbuk sendiri.[13]
| Komponen | Massa/kg | ||
|---|---|---|---|
| Sabut | 2.033 | ||
| Biji | 1.125 | ||
| terdiri dari | Tempurung | 0.359 | |
| Air kelapa | 0.492 | ||
| Daging buah | 0.477 | ||
| Total | 3.158 | ||
Secara botani, buah kelapa adalah buah batu, bukan kacang sejati.[15] Seperti buah lainnya, kelapa memiliki tiga lapisan: eksokarp, mesokarp, dan endokarp. Eksokarp adalah kulit luar yang mengilap, biasanya berwarna kuning kehijauan hingga kuning kecokelatan. Mesokarp tersusun atas serat, yang disebut sabut, yang memiliki banyak kegunaan tradisional dan komersial. Eksokarp dan mesokarp membentuk "sabut" pelindung kelapa, sedangkan endokarp membentuk "tempurung" kelapa yang keras. Endokarp memiliki ketebalan sekitar 4 milimeter (1⁄8 inci) dan memiliki tiga pori perkecambahan (mikropil) yang khas pada ujung distalnya. Dua dari pori-pori tersebut tersumbat ("mata"), sementara satu pori berfungsi normal.[16][17]
Bagian dalam endokarp berongga dan dilapisi oleh kulit biji tipis berwarna cokelat, dengan ketebalan sekitar 02 mm (5⁄64 in). Pada awalnya, endokarp berisi cairan endosperma (air kelapa). Cairan ini mengandung banyak inti sel bebas (bersifat multinukleat) yang membelah secara mitosis, tanpa adanya batas sel. Seiring dengan perkembangannya, lapisan seluler endosperma mengendap di sepanjang dinding endokarp dengan ketebalan hingga 11 mm (3⁄8 in), dimulai dari bagian ujung terjauh. Lapisan ini pada akhirnya membentuk endosperma padat yang dapat dimakan ("daging kelapa") yang mengeras seiring berjalannya waktu. Embrio kecil berbentuk silinder tertanam di dalam endosperma padat tepat di bawah pori yang berfungsi. Selama perkecambahan, embrio mendesak keluar dari pori yang berfungsi dan membentuk haustorium di dalam rongga tengah.
Haustorium ini menyerap endosperma padat untuk memberi nutrisi pada bibit tanaman.[16][18][19]
Buah kelapa memiliki dua bentuk yang khas. Kelapa liar niu kafa memiliki buah berbentuk segitiga memanjang dengan sabut yang lebih tebal dan jumlah endosperma yang lebih sedikit. Hal ini membuat buahnya lebih mudah mengapung, ideal untuk pemencaran melalui laut. Kelapa Pasifik niu vai yang telah didomestikasi berbentuk membulat dengan sabut yang lebih tipis, endosperma yang lebih banyak, dan kandungan air kelapa yang lebih banyak.[13][20][21]
Buah berukuran penuh memiliki berat sekitar 14 kilogram (30 pon 14 ons) tergantung varietasnya.[22][23] Varietas Bido abad ke-21 dari Indonesia memiliki berat rata-rata 3.158 kilogram (6.962 pon 3 ons) per buah.[14]

Kelapa diekspor tanpa sabut; kelapa tanpa sabut dari Pantai Gading memiliki berat rata-rata sekitar 575 gram, sedangkan kelapa tanpa sabut dari Republik Dominika rata-rata hampir 700 gram.[24] Kelapa yang dijual di dalam negeri di negara-negara penghasil kelapa biasanya tidak dikupas sabutnya. Kelapa muda (6 hingga 8 bulan setelah berbunga) dijual untuk diambil airnya serta daging kelapanya yang lebih lembut dan mirip jeli (dikenal sebagai "kelapa hijau", "kelapa muda", atau "kelapa air"), yang mana pewarnaan asli buahnya tampak lebih menarik.[22][23]
Namun, kelapa tua utuh (11 hingga 13 bulan setelah berbunga) yang dijual untuk ekspor biasanya dikupas sabutnya guna mengurangi berat dan volume untuk pengangkutan. Hal ini menyisakan "tempurung" kelapa telanjang dengan tiga pori, yang merupakan sisa dari tiga daun buah (karpel) bunganya, bentuk yang lebih lazim dijumpai di negara-negara yang tidak menanam kelapa secara lokal. Kelapa tanpa sabut lebih mudah dibuka oleh konsumen, tetapi memiliki masa simpan pascapanen yang lebih singkat, yaitu sekitar dua hingga tiga minggu pada suhu 12 hingga 15 °C (54 hingga 59 °F) atau hingga 2 bulan pada suhu 0 hingga 15 °C (32 hingga 59 °F). Sebagai perbandingan, kelapa tua yang masih bersabut dapat disimpan selama tiga hingga lima bulan pada suhu ruangan.[22][23]
Pohon palem tidak memiliki akar tunggang maupun rambut akar, melainkan memiliki sistem perakaran serabut.[7] Sistem ini terdiri dari banyak akar tipis yang tumbuh menyebar dari tanaman di dekat permukaan tanah. Hanya sedikit akar yang menembus jauh ke dalam tanah untuk menjaga kestabilan. Ini dikenal sebagai sistem akar serabut atau adventif, dan merupakan karakteristik dari spesies rumput-rumputan. Sebanyak 2.000–4.000 akar adventif dapat tumbuh, dengan masing-masing akar memiliki diameter sekitar 1 cm (1⁄2 in). Akar yang membusuk akan diganti secara berkala seiring dengan tumbuhnya akar baru pada pohon.[25]
Ahli botani dan taksonomi asal Swedia, Carl Linnaeus, secara formal mendeskripsikan spesies Cocos nucifera dalam bukunya yang berjudul Species Plantarum pada tahun 1753.[26] Nama ini diterima oleh para ahli botani.[1] Pada tahun 1768, dalam bukunya The Gardeners Dictionary, ahli botani Inggris Philip Miller mendeskripsikan ulang tanaman tersebut sebagai Palma cocos, sebuah nama yang diperlakukan sebagai sinonim.[1][27] Pada tahun 1891, ahli botani Jerman Otto Kuntze memberinya nama Calappa nucifera dalam karyanya Revisio Generum Plantarum, yang juga diperlakukan sebagai sinonim.[1][28]
Dalam bahasa Indonesia, kata "kelapa" sering dikaitkan dengan istilah dari bahasa Sanskerta kalpa (dari kalpavriksha atau kalpataru), yang bermakna "pohon kehidupan" atau "pohon yang menyediakan segala kebutuhan", merujuk pada tumbuhan yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia.[29] Sementara itu, sinonimnya yaitu "nyiur", berakar dari bahasa Proto-Austronesia *niuR. Kata ini telah digunakan sejak zaman kuno, dan secara tertulis tercatat sebagai ñīyur dalam bahasa Melayu Kuno pada Prasasti Talang Tuo yang berangka tahun 684 M.[30]
Nama generik Cocos, beserta nama umumnya dalam bahasa Inggris (coconut), berasal dari kata bahasa Portugis abad ke-16 coco, yang berarti 'kepala' atau 'tengkorak' merujuk pada tiga lekukan pada tempurung kelapa yang memberikan kesan seperti wajah.[31][32][33][34]
Hal ini tampaknya berawal dari pertemuan pada tahun 1521 oleh penjelajah Portugis dan Spanyol dengan Penduduk Kepulauan Pasifik, ketika tempurung kelapa mengingatkan mereka pada hantu dalam cerita rakyat Portugis yang disebut coco atau côca.[34][35] Di Dunia Barat, buah ini pada awalnya disebut nux indica, sebuah nama yang digunakan oleh Marco Polo pada tahun 1280 ketika ia berada di Sumatra. Istilah yang digunakannya merupakan terjemahan dari bahasa Arab pada masa itu, di mana kelapa disebut جوز هنديcode: ar is deprecated jawz hindīcode: ar is deprecated , "kacang India".[6] Thenga, namanya dalam Tamil/Malayalam, digunakan dalam deskripsi terperinci mengenai kelapa yang ditemukan dalam karya Itinerario oleh Ludovico di Varthema yang diterbitkan pada tahun 1510 dan dalam karya selanjutnya Hortus Indicus Malabaricus.[36]
Nama spesifik nucifera berarti "pembawa kacang", yang berasal dari kata Latin nuxcode: la is deprecated (kacang) dan feracode: la is deprecated (membawa/menghasilkan).[37]

Sebagian besar fosil yang menyerupai Cocos hanya ditemukan di dua wilayah di dunia: Selandia Baru dan bagian tengah-barat India. Namun, fosil-fosil yang menyerupai Cocos ini masih bersifat dugaan (putatif), karena sulit untuk diidentifikasi.[38] Fosil menyerupai Cocos paling awal yang ditemukan adalah C. zeylandica, sebuah spesies fosil dengan buah berukuran kecil, sekitar 35 cm (13+3⁄4 in) × 13 hingga 25 cm (5+1⁄8 hingga 9+7⁄8 in), dari zaman Miosen (~23 hingga 5,3 juta tahun yang lalu) di Selandia Baru. Sejak saat itu, banyak fosil buah serupa lainnya dengan kekerabatan yang belum pasti telah ditemukan di Selandia Baru dari zaman Eosen, Oligosen, dan mungkin Holosen.[38][39] Di Perangkap Dekkan (Deccan Traps) di bagian tengah-barat India, banyak fosil buah, daun, dan batang yang menyerupai Cocos telah ditemukan. Fosil-fosil tersebut mencakup morfotaksa seperti Palmoxylon sundaran, Palmoxylon insignae, dan Palmocarpon cocoides. Fosil buah yang menyerupai Cocos meliputi Cocos intertrappeansis, Cocos pantii, dan Cocos sahnii. Beberapa di antaranya untuk sementara waktu diidentifikasi sebagai C. nucifera modern. Ini mencakup dua spesimen yang dinamai C. palaeonucifera dan C. binoriensis, yang keduanya oleh para penemunya diperkirakan berasal dari zaman Maastrichtium–Danium pada periode Tersier awal (70 hingga 62 juta tahun yang lalu). C. binoriensis telah diklaim sebagai fosil paling awal yang diketahui dari C. nucifera.[38][40][41]
Hanya dua wilayah lain yang telah melaporkan keberadaan fosil menyerupai Cocos, yaitu Australia dan Kolombia. Di Australia, sebuah fosil buah yang menyerupai Cocos, berukuran 10 cm × 95 cm (3+7⁄8 in × 37+3⁄8 in), ditemukan di Formasi Pasir Chinchilla yang diperkirakan berasal dari akhir zaman Pliosen atau awal Pleistosen. Rigby (1995) mengelompokkannya ke dalam Cocos nucifera modern berdasarkan ukurannya.[38][40] Di Kolombia, satu buah fosil yang menyerupai Cocos ditemukan di Formasi Cerrejón pada Paleosen pertengahan hingga akhir. Namun, buah tersebut terkompresi selama proses fosilisasi sehingga tidak memungkinkan untuk menentukan apakah buah tersebut memiliki ciri khas tiga pori yang mengkarakterisasi anggota tribus Cocoseae. Meskipun demikian, sebuah penelitian mengklasifikasikannya ke dalam Cocos berdasarkan ukuran dan bentuk buahnya yang bergelombang.[42]
Sebuah analisis filogenomik molekuler terhadap palem-paleman pada tahun 2016 menempatkan genus Cocos ke dalam tribus Cocoseae:[43]
| Cocoseae |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

Studi genetik mengidentifikasi pusat asal-usul kelapa berada di Indo-Pasifik Tengah, di mana tanaman ini memiliki keanekaragaman genetik tertingginya.[25][47][48][49] Budi daya dan persebarannya sangat erat kaitannya dengan migrasi masyarakat Austronesia yang membawa kelapa ke pulau-pulau yang mereka tempati.[48][49][50][51] Bukti linguistik, arkeologi, dan genetik semuanya menunjuk pada domestikasi kelapa Pasifik oleh bangsa Austronesia di Asia Tenggara selama masa ekspansi Austronesia (sekitar 3000 hingga 1500 SM).[48][49][52][53] Model pergerakan yang didasarkan pada angin dan arus laut menunjukkan bahwa kelapa tidak mungkin hanyut melintasi Pasifik tanpa bantuan, yang menyiratkan bahwa persebarannya dibantu oleh manusia.[54][55]
Kelapa dibagi menjadi dua subpopulasi, yaitu kelompok Pasifik dari Asia Tenggara Maritim dan kelompok Indo-Atlantik dari bagian selatan Anak benua India. Kelompok Pasifik jelas merupakan hasil domestikasi, dengan perawakan genjah (kerdil), penyerbukan sendiri, dan buah tipe niu vai yang memiliki rasio endosperma terhadap sabut yang besar. Distribusi kelapa Pasifik selaras dengan wilayah-wilayah yang didiami oleh pelaut Austronesia, khususnya Madagaskar. Kelapa di pulau tersebut menunjukkan adanya percampuran genetik antara kedua subpopulasi, yang mengindikasikan bahwa kelapa Pasifik kawin silang dengan kelapa Indo-Atlantik di sana.[49][50] Meskipun sisa-sisa arkeologis dari tahun 1000 hingga 500 SM menunjukkan bahwa kelapa Indo-Atlantik di kemudian hari dibudidayakan secara independen oleh Bangsa Dravida, hanya kelapa Pasifik yang menunjukkan ciri-ciri domestikasi yang jelas seperti perawakan genjah, penyerbukan sendiri, dan buah yang membulat. Sebaliknya, kelapa Indo-Atlantik memiliki sifat-sifat leluhurnya, yaitu perawakan yang tinggi dan buah berbentuk segitiga memanjang.[48][49][52][53]
Studi genetik telah mengonfirmasi populasi kelapa pada masa pra-Columbus di Panama. Namun, kelapa tersebut bukanlah tanaman asli setempat dan menunjukkan leher botol genetik (bottleneck) yang diakibatkan oleh efek pendiri. Kelapa di Benua Amerika memiliki kekerabatan paling dekat dengan kelapa yang ada di Filipina, yang menandakan bahwa kelapa tersebut tidak masuk secara alami, seperti melalui arus laut, melainkan dibawa oleh pelaut Austronesia awal ke Benua Amerika setidaknya sejak 4250 SM.[48][51][54] Selama era kolonial, kelapa Pasifik selanjutnya diperkenalkan ke Meksiko dari Hindia Timur Spanyol melalui Galiung Manila, yang dimulai pada abad ke-16. Sebaliknya, kelapa Indo-Atlantik disebarkan oleh pedagang Arab dan Persia ke pesisir Afrika Timur. Kelapa Indo-Atlantik kemudian diperkenalkan ke Samudra Atlantik oleh kapal-kapal Portugis dari koloni mereka di India dan Sri Lanka, yang juga dimulai pada abad ke-16: pertama-tama ke pesisir Afrika Barat, dan kemudian ke Karibia dan Brasil.[49]
Kelapa secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe buah – bentuk leluhurnya yaitu niu kafa dengan buah bersudut dan bersabut tebal, dan bentuk niu vai dengan buah bulat, bersabut tipis, dan memiliki proporsi endosperma yang lebih tinggi. Istilah-istilah ini berasal dari bahasa Samoa.[20][49][56]
Bentuk niu kafa adalah tipe leluhur liar, dengan sabut tebal untuk melindungi biji, dan bentuk yang sangat bergelombang dan bersudut untuk membantunya mengapung selama pemencaran di laut. Tipe ini adalah bentuk yang dominan pada kelapa Indo-Atlantik.[20][49] Namun, tanaman ini mungkin telah mengalami seleksi pada tingkat tertentu untuk menghasilkan sabut yang lebih tebal untuk produksi sabut, yang penting dalam budaya material Austronesia sebagai sumber tali-temali untuk membangun rumah dan perahu.[52]
Bentuk niu vai adalah bentuk terdomestikasi yang dominan pada kelapa Pasifik. Kelapa ini diseleksi secara buatan oleh bangsa Austronesia untuk mendapatkan rasio endosperma terhadap sabut yang lebih besar dan kandungan air kelapa yang lebih tinggi, sehingga lebih berguna sebagai cadangan makanan dan air untuk pelayaran laut. Daya apung yang berkurang dan meningkatnya kerapuhan buah bulat bersabut tipis ini tidak menjadi masalah bagi spesies yang telah mulai disebarkan oleh manusia dan ditanam di perkebunan.[20][21] Fragmen endokarp Niu vai telah ditemukan di situs-situs arkeologi di Kepulauan St. Matthias di Kepulauan Bismarck. Fragmen-fragmen tersebut diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1000 SM, yang menunjukkan bahwa budi daya dan seleksi buatan kelapa telah dipraktikkan oleh masyarakat Lapita Austronesia.[52]
Kelapa secara umum dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan perawakannya: varietas "Dalam" (var. typica) dan varietas "Genjah" (var. nana).[57] Kedua kelompok ini secara genetik berbeda, di mana varietas genjah menunjukkan tingkat seleksi buatan yang lebih besar untuk sifat-sifat hias serta untuk perkecambahan dan pembuahan awal.[56][58] Varietas dalam melakukan persilangan luar sedangkan palem genjah melakukan penyerbukan sendiri, yang telah menyebabkan tingkat keanekaragaman genetik yang jauh lebih besar di dalam kelompok kelapa dalam.[59]
Kultivar kelapa genjah sepenuhnya terdomestikasi, tidak seperti kultivar kelapa dalam yang lebih beragam.[59][60] Kelapa genjah berbagi tiga penanda genetik dari tiga belas penanda yang ada (hal yang langka pada kultivar dalam), sehingga kemungkinan besar mereka berasal dari satu populasi terdomestikasi tunggal. Kelapa genjah Filipina dan Malaya berpisah sejak awal menjadi dua tipe yang berbeda. Mereka biasanya tetap terisolasi secara genetik ketika diperkenalkan ke daerah-daerah baru. Banyak kultivar genjah lainnya berkembang setelah perkenalan tersebut, dengan berhibridisasi bersama kultivar dalam. Asal-usul varietas genjah adalah Asia Tenggara, yang memiliki kultivar kelapa dalam yang secara genetik paling dekat dengan kelapa genjah.[49][59][60][61]
Pengurutan genom dari varietas dalam dan genjah mengungkapkan bahwa keduanya berpisah 2 hingga 8 juta tahun yang lalu dan bahwa varietas genjah muncul melalui perubahan pada gen metabolisme hormon tumbuhan giberelin.[62]
Varietas leluhur lainnya adalah niu leka dari Polinesia ("Genjah Kompak"). Meskipun menyerupai kelapa genjah (termasuk pertumbuhannya yang lambat), kelapa ini secara genetik berbeda dan didomestikasi secara independen, kemungkinan di Tonga. Kultivar lain dari niu leka mungkin ada di pulau-pulau Pasifik lainnya, dan beberapa di antaranya mungkin merupakan keturunan dari persilangan tingkat lanjut antara tipe Genjah Kompak dan tipe Genjah Asia Tenggara.[60][61]
Kelapa memiliki persebaran yang hampir kosmopolitan berkat budi daya dan pemencaran oleh manusia. Namun, sebaran aslinya berada di Indo-Pasifik Tengah, di wilayah Asia Tenggara Maritim dan Melanesia.[47]
Pohon kelapa tumbuh subur di tanah berpasir dan sangat toleran terhadap salinitas (kadar garam). Pohon ini menyukai daerah dengan sinar matahari yang melimpah dan curah hujan teratur antara 1.500 mm hingga 2.500 mm per tahun. Kelapa juga lebih menyukai kelembapan di atas 60%. Jika curah hujannya kurang dari jumlah tersebut, pohon ini masih dapat bertahan hidup asalkan akarnya dapat mencapai muka air tanah, tetapi ia tidak dapat menoleransi genangan air. Di daerah tropis, kelapa tumbuh dari permukaan laut hingga ketinggian 600 meter (2.000 ft). Pohon ini mampu bertahan menghadapi musim kemarau selama satu bulan di tanah berpasir pedalaman, dan hingga tiga bulan di tanah yang lebih padat (berat), asalkan tanah tersebut memiliki drainase yang baik. Kelapa tumbuh di tanah dengan pH 4,5 hingga 8 (yang terakhir ini banyak ditemukan di atol karang), tetapi lebih menyukai kisaran 5,5 hingga 7. Pertumbuhannya akan sangat terhambat jika berada di tempat teduh. Pohon kelapa dapat menahan angin sekuat badai asalkan telah mengembangkan sistem perakaran yang baik.[63]
Kelapa liar terbatas pada daerah pesisir dengan tanah berpasir dan bersalinitas tinggi. Buahnya beradaptasi untuk pemencaran melalui laut. Kelapa tidak akan dapat mencapai lokasi pedalaman tanpa campur tangan manusia yang membawa biji kelapa dan menanam bibitnya.[64]

Pohon kelapa pada umumnya dibudidayakan di iklim tropis yang panas dan basah. Pohon ini membutuhkan kehangatan dan kelembapan sepanjang tahun untuk dapat tumbuh dan berbuah dengan baik. Pohon kelapa sulit dikembangkan di iklim kering, dan tidak dapat tumbuh di sana tanpa pengairan yang sering. Dalam kondisi kekeringan, daun-daun baru tidak dapat mekar dengan baik, daun-daun yang lebih tua dapat mengering, dan buahnya mungkin akan gugur.[63]
Meluasnya budi daya kelapa di daerah tropis mengancam sejumlah habitat, seperti hutan bakau; salah satu contoh kerusakan pada ekoregion semacam itu terjadi di hutan bakau Petenes di wilayah Yucatán.[65] Cukup unik jika dibandingkan dengan pohon lainnya, pohon kelapa dapat diairi dengan air laut.[66]

Kelapa rentan terhadap penyakit fitoplasma, yakni penyakit kuning mematikan. Penyakit menguning ini berdampak pada perkebunan di Afrika, India, Meksiko, Karibia, dan Wilayah Pasifik.[67]
Pohon kelapa dirusak oleh larva dari banyak spesies Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat) yang memakannya, termasuk ulat grayak afrika (Spodoptera exempta) dan Batrachedra spp.: B. arenosella, B. atriloqua (memakan C. nucifera secara eksklusif), B. mathesoni (memakan C. nucifera secara eksklusif), dan B. nuciferae.[68]
Kumbang daun kelapa Brontispa longissima memakan daun muda, dan merusak baik bibit maupun pohon kelapa yang sudah dewasa. Pada tahun 2007, Filipina memberlakukan karantina di Metro Manila dan 26 provinsi untuk menghentikan penyebaran hama tersebut dan melindungi industri kelapa Filipina yang dikelola oleh sekitar 3,5 juta petani.[69]
Buahnya dapat dirusak oleh tungau kelapa eriofid (Aceria guerreronis). Tungau ini menyerang perkebunan kelapa, dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 60% dari produksi kelapa.[70] Biji yang belum matang diserang dan dirusak oleh larva.[71] Pengendalian secara kimiawi memang memungkinkan, tetapi karena harus diulang secara berkala, cara ini tidak praktis mengingat besarnya biaya, bahaya terhadap lingkungan, serta adanya residu pestisida pada daging dan air kelapa.[72]

Kelapa memiliki banyak kultivar komersial dan tradisional. Kultivar-kultivar tersebut secara umum dapat dikelompokkan menjadi kultivar dalam (tinggi), genjah (pendek), dan hibrida (persilangan antara kelapa dalam dan genjah).[73] Varietasnya sering kali bersifat regional, seperti Dalam Ceylon, Dalam Jamaika, Dalam Jawa, dan Dalam Malaya.[6]
Varietas genjah dari kelapa Pasifik telah dibudidayakan oleh masyarakat Austronesia sejak zaman kuno. Varietas-varietas ini diseleksi untuk pertumbuhannya yang lebih lambat, air kelapa yang lebih manis, dan buah yang sering kali berwarna cerah.[61] Varietas genjah meliputi Genjah Hijau dan Genjah Jingga.[6]
Berbagai varietas telah diseleksi untuk beragam sifat: misalnya, Kelapa raja adalah varietas Sri Lanka dengan kandungan gula yang relatif rendah, sementara Makapuno memiliki daging buah lembut seperti jeli yang memenuhi seluruh rongga tengahnya; kelapa ini digunakan untuk membuat hidangan penutup yang manis.[74][75]
Kelapa Maypan adalah sebuah hibrida F1 yang dikembangkan di Jamaika pada tahun 1970-an agar tahan terhadap penyakit kuning mematikan.[76][77] Namun, ketahanan Maypan segera mulai menurun, kemungkinan sejak awal 1980-an, dan secara pasti pada tahun 2000-an.[78][79] Beberapa varietas kelapa lainnya memiliki ketahanan alami terhadap penyakit kuning mematikan yang berkaitan dengan alel pada mikrosatelit, dengan Dalam Vanuatu dan Genjah Hijau Sri Lanka sebagai kultivar yang paling tahan, sedangkan Dalam Afrika Barat sangat rentan.[80][81][82]
Pemuliaan tanaman konvensional memiliki kegunaan yang terbatas pada kelapa karena tidak ada spesies kelapa liar yang dapat memberikan keanekaragaman genetik tambahan; waktu generasinya yang panjang; terdapat banyak heterozigositas; penyerbukan buatan untuk melakukan persilangan hanya menghasilkan sedikit biji; dan reproduksi vegetatif (kloning) tidak dapat diandalkan. Tujuan pemuliaan kelapa dapat mencakup kandungan kopra, produksi bunga betina, kandungan minyak, aroma daging dan air kelapa, kelembutan dan rasa manis endosperma, toleransi terhadap kekeringan, ketahanan terhadap penyakit layu akar, dan ketahanan terhadap tungau eriofid.[83]
Hibrida memberikan kecepatan berbuah (preskositas) dan produktivitas jumlah buah yang lebih tinggi dibandingkan galur lainnya, tetapi mereka menghasilkan buah dengan penerimaan pasar yang rendah karena kualitas air buahnya. Persilangan intravarietas pada kelapa Genjah (sesama kelapa genjah yang disilangkan) telah diuji dan terbukti memberikan kualitas air yang lebih baik untuk pasar air kelapa dibandingkan dengan kelapa hibrida.[84]
Dua metode pemanenan yang paling umum adalah dengan memanjat[85] dan menggunakan galah.[86]
Metode memanjat lebih umum digunakan, tetapi lebih berbahaya dan membutuhkan pekerja yang terampil.[85] Memanjat pohon secara manual merupakan tradisi di sebagian besar negara dan membutuhkan postur tubuh yang memberikan tekanan pada batang pohon dengan kaki. Pemanjat yang dipekerjakan di perkebunan kelapa sering kali mengalami gangguan muskuloskeletal dan berisiko cedera atau meninggal akibat terjatuh.[87][88][89] Demi keamanan, pemanjat kelapa di Filipina dan Guam menggunakan pisau bolo yang diikatkan dengan tali di pinggang untuk membuat takikan (lekukan) dengan jarak yang teratur pada batang kelapa. Hal ini membuat batang pohon menjadi lebih mirip tangga, meskipun cara ini mengurangi nilai kayu yang dihasilkan dari pohon tersebut dan dapat memicu infeksi penyakit.[85][90][91] Metode lain untuk mempermudah pemanjatan meliputi penggunaan sistem katrol dan tali; menggunakan potongan tanaman merambat, tali, atau kain yang diikatkan pada kedua tangan atau kaki; menggunakan paku yang dipasang pada kaki atau tungkai; atau mengikatkan sabut kelapa ke batang pohon dengan tali.[92]

Metode galah menggunakan galah (tongkat) panjang dengan alat pemotong di bagian ujungnya. Di Filipina, alat tradisionalnya disebut halabas dan terbuat dari galah bambu panjang dengan bilah mirip sabit di ujungnya. Meskipun lebih aman dan lebih cepat daripada memanjat, metode ini tidak memungkinkan pekerja untuk memeriksa dan membersihkan mahkota kelapa dari hama dan penyakit.[86]
Metode modern menggunakan elevator hidrolik yang dipasang pada traktor atau tangga berjalan.[93] Perangkat pemanjat kelapa mekanis dan robot telah dikembangkan di India, Sri Lanka, dan Malaysia.[92][94][95][96] Proyek Deteksi Kematangan Kelapa (Coconut Maturity Detection Project) menggunakan pencitraan dan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi tandan kelapa yang sudah matang dan siap panen.[97]

Sistem jembatan dan tangga bambu yang menghubungkan tajuk-tajuk pohon secara langsung digunakan di Filipina pada perkebunan kelapa yang memanen nira kelapa (bukan buahnya) untuk produksi cuka kelapa dan tuak.[93][98] Di daerah lain, seperti di Papua Nugini, buah kelapa sekadar dikumpulkan setelah jatuh ke tanah.[85]
Beberapa petani kelapa di Thailand dan Malaysia menggunakan beruk untuk memanen kelapa.[99] Thailand telah memelihara dan melatih hewan ini untuk memetik kelapa selama sekitar 400 tahun.[100][101][102] Sekolah pelatihan untuk beruk masih ada di wilayah selatan Thailand dan di negara bagian Kelantan, Malaysia.[103] People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) menentang praktik di Thailand tersebut pada tahun 2019.[93]
| 18.0 | |
| 14.9 | |
| 14.2 | |
| 2.9 | |
| 2.1 | |
| Dunia | 64.7 |
|---|---|
| Sumber: FAOSTAT dari Perserikatan Bangsa-Bangsa[104] | |
Pada tahun 2023, produksi kelapa dunia (beserta tempurung) mencapai 65 juta ton, dipimpin oleh Indonesia, India, dan Filipina, yang jika digabungkan menyumbang 73% dari total produksi (tabel).
Di India, empat negara bagian di wilayah selatan menyumbang sebagian besar total produksi India: Tamil Nadu, Karnataka, Kerala, dan Andhra Pradesh.[105] Meskipun Kerala memiliki jumlah pohon kelapa terbanyak, Tamil Nadu merupakan yang paling produktif per hektarnya.[106] Kelapa adalah pohon resmi negara bagian Kerala, yang namanya dalam bahasa daerah setempat (Malayalam) berarti "tanah kelapa".[107]
Daerah penghasil kelapa utama di Timur Tengah adalah wilayah Dhofar di Oman.[108] Kebun-kebun kelapa kuno di Dhofar disebutkan oleh penjelajah Maroko abad pertengahan, Ibn Battuta, dalam bukunya The Rihla.[109]
Sri Lanka mendirikan Otoritas Pengembangan Kelapa (Coconut Development Authority), Badan Budi Daya Kelapa (Coconut Cultivation Board), dan Institut Penelitian Kelapa (Coconut Research Institute) pada awal masa Ceylon Britania.[110]
Sebagai sumber yang kaya akan asam laurat dan lemak jenuh lainnya, minyak kelapa merupakan faktor risiko diet untuk penyakit kardiovaskular karena dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah.[111][112] Banyak asosiasi klinis nasional menyarankan untuk membatasi konsumsi produk minyak kelapa, dan menggantinya dengan makanan yang mengandung lemak tak jenuh.[111][112][113]
Protein dari kelapa dalam makanan dapat memicu reaksi alergi, termasuk anafilaksis, pada beberapa orang.[114] Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) telah menyatakan bahwa kelapa harus dicantumkan sebagai bahan pada label kemasan makanan sebagai "kacang pohon" (tree nut) yang berpotensi menjadi alergen.[115]
Kokamidopropil betain (CAPB) adalah surfaktan yang diproduksi dari minyak kelapa dan digunakan dalam produk kebersihan pribadi serta kosmetik, seperti sampo, sabun cair, pembersih, dan antiseptik. CAPB dapat menyebabkan iritasi kulit ringan,[116] tetapi reaksi alergi terhadap CAPB jarang terjadi;[117] reaksi tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan kotoran yang timbul selama proses pembuatan (yang meliputi amidoamina dan dimetilaminopropilamina) alih-alih dari CAPB itu sendiri.[116]
Pohon kelapa ditanam di seluruh wilayah tropis untuk dekorasi, serta untuk kegunaan kuliner dan nonkuliner; hampir setiap bagian dari pohon kelapa dimanfaatkan oleh manusia dalam berbagai cara dan memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Keanekagunaan kelapa tercermin dalam beberapa namanya: dalam Sanskerta, ia disebut kalpa vriksha ("pohon kebutuhan hidup"), sedangkan dalam Melayu, ia disebut pokok seribu guna ("pohon dengan seribu kegunaan"), dan di Filipina, ia disebut "pohon kehidupan".[118] Kelapa adalah salah satu pohon paling berguna di dunia.[18]
| Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz) | |
|---|---|
| Energi | 1.480 kJ (350 kcal) |
15.23 g | |
| Gula | 6.23 g |
| Serat pangan | 9.0 g |
33.49 g | |
| Jenuh | 29.698 g |
| Tak jenuh tunggal | 1.425 g |
| Tak jenuh jamak | 0.366 g |
3.33 g | |
| Triptofan | 0.039 g |
| Treonina | 0.121 g |
| Isoleusina | 0.131 g |
| Leusina | 0.247 g |
| Lisina | 0.147 g |
| Metionina | 0.062 g |
| Sistina | 0.066 g |
| Fenilalanina | 0.169 g |
| Tirosina | 0.103 g |
| Valina | 0.202 g |
| Arginina | 0.546 g |
| Histidina | 0.077 g |
| Alanina | 0.170 g |
| Asam aspartat | 0.325 g |
| Asam glutamat | 0.761 g |
| Glisina | 0.158 g |
| Prolina | 0.138 g |
| Serina | 0.172 g |
| Vitamin | Kuantitas %AKG† |
| Tiamina (B1) | 6% 0.066 mg |
| Riboflavin (B2) | 2% 0.020 mg |
| Niasin (B3) | 4% 0.540 mg |
| Asam pantotenat (B5) | 6% 0.300 mg |
| Vitamin B6 | 4% 0.054 mg |
| Folat (B9) | 7% 26 μg |
| Vitamin C | 4% 3.3 mg |
| Vitamin E | 2% 0.24 mg |
| Vitamin K | 0% 0.2 μg |
| Mineral | Kuantitas %AKG† |
| Kalsium | 1% 14 mg |
| Tembaga | 22% 0.435 mg |
| Zat besi | 19% 2.43 mg |
| Magnesium | 9% 32 mg |
| Mangan | 71% 1.500 mg |
| Fosfor | 16% 113 mg |
| Potasium | 8% 356 mg |
| Selenium | 14% 10.1 μg |
| Sodium | 1% 20 mg |
| Seng | 12% 1.10 mg |
| Komponen lainnya | Kuantitas |
| Air | 47 g |
| |
| †Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa. | |
Daging kelapa mentah mengandung 47% air, 33% lemak, 15% karbohidrat, dan 3% protein (tabel). Dalam jumlah takaran 100 gram (3,5 oz), daging kelapa mentah menyuplai 350 kalori energi makanan, dan merupakan sumber yang kaya (20% atau lebih dari Nilai Harian, DV) akan mangan (65% DV) dan tembaga (48% DV), beserta berbagai mineral makanan lainnya dalam jumlah sedang (10–18% DV; tabel). Daging kelapa adalah sumber vitamin yang rendah. Daging kelapa mentah memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi (30% dari total lemak), dengan asam laurat sebagai lemak jenuh utamanya (15% dari total; sumber USDA pada tabel).
Banyaknya kegunaan kuliner dari kelapa sebagian besar bertumpu pada bagian biji yang berdaging putih dan dapat dimakan (endosperma), yang dikenal sebagai "daging kelapa".[119] Daging kelapa muda dapat dimakan langsung atau dimasak dalam kue-kue. Daging kelapa tua bertekstur keras dan diproses terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, dibuat menjadi produk-produk seperti santan,[119][120][121][122][123] "keripik kelapa"[122] atau diparut dan dikeringkan sebagai "kelapa parut kering" (desiccated coconut).[124][125][126]
Santan, yang digunakan untuk memasak banyak hidangan, diperas dari daging kelapa. Santan dapat diencerkan untuk membuat minuman santan seperti susu nabati.[94][127] Bubuk santan kelapa, bubuk yang kaya akan protein, dapat diproses dari santan.[128] Santan dan krim kelapa yang diekstrak dari kelapa parut dapat ditambahkan ke makanan penutup dan hidangan gurih, atau digunakan dalam kari dan semur.[129][130] Produk yang terbuat dari santan kental dengan gula dan telur, seperti selai serikaya dan kustar kelapa, tersebar luas di Asia Tenggara.[131][132][133] Minyak kelapa digunakan untuk menggoreng dan memasak.[129][134]
Air kelapa dapat diminum segar atau digunakan dalam memasak.[135][136] Air kelapa dapat difermentasi untuk menghasilkan makanan penutup seperti jeli yang dikenal sebagai nata de coco.[137] Cuka kelapa, yang terbuat dari air atau nira kelapa yang difermentasi, digunakan secara ekstensif dalam masakan Asia Tenggara dan masakan Goa.[120]
Nira kelapa, baik yang segar maupun difermentasi, diminum sebagai tuak atau tubâ di Filipina. Ketika dibiarkan berfermentasi dengan sendirinya, nira tersebut menjadi anggur palem (tuak kelapa). Anggur palem didistilasi untuk menghasilkan arak.[138] Nira dapat disusutkan dengan cara direbus untuk membuat sirup manis, atau disusutkan lebih lanjut untuk menghasilkan gula kelapa. Sebuah pohon yang masih muda dan terawat dengan baik dapat menghasilkan sekitar 300 liter (79 galon AS) tuak per tahun, sementara pohon yang berumur 40 tahun dapat menghasilkan sekitar 400 L (110 US gal).[139]
| 1.358.900 | |
| 666.000 | |
| 360.000 | |
| 182.000 | |
| 132.300 | |
| 84.015 | |
| Dunia | 3.162.279 |
|---|---|
| Sumber: FAOSTAT[140] | |
Pada tahun 2022, produksi minyak kelapa olahan dunia mencapai 3,2 juta ton, dipimpin oleh Filipina dengan 43% dari total produksi, serta Indonesia dan India sebagai produsen sekunder (lihat tabel).
Minyak kelapa digunakan dalam memasak, terutama untuk menggoreng. Minyak ini dapat digunakan dalam bentuk cair seperti minyak nabati lainnya, atau dalam bentuk padat seperti mentega atau lemak babi.[141][142][143] Mentega kelapa adalah minyak kelapa yang dipadatkan, tetapi nama tersebut juga diterapkan pada krim kelapa pekat (creamed coconut), sebuah produk khusus yang terbuat dari padatan santan atau daging kelapa yang dipurekan (dihaluskan) beserta minyaknya.[119]
Di antara banyak kegunaan nonpangan dari pohon kelapa, sabut dan tempurungnya dapat digunakan untuk bahan bakar atau dijadikan arang.[144] Sabut kelapa dapat berfungsi sebagai alat pelampung atau sebagai bahan abrasif (pengampelas).[145] Tempurung kelapa, yang telah dipisahkan dari sabutnya dan dipanaskan di atas abu hangat, akan mengeluarkan zat berminyak yang digunakan untuk meredakan sakit gigi dalam pengobatan tradisional Kamboja.[146] Serat sabut digunakan untuk membuat tali, tikar, sikat, dan karung, sebagai bahan dempul perahu, dan sebagai isian untuk kasur.[147] Bahan ini juga digunakan dalam hortikultura sebagai kompos pot, khususnya dalam media tanam anggrek, dan untuk membuat sapu di Kamboja.[146] Cangkir kelapa dulunya sering diukir dengan pemandangan bergaya relief dan dipasangi hiasan dari logam mulia.[148] Daunnya menyediakan bahan untuk membuat keranjang dan atap; daun tersebut dapat dianyam menjadi tikar, tusuk lidi untuk memasak, dan anak panah pemantik api. Daunnya dianyam menjadi kantong-kantong kecil yang diisi beras dan dimasak untuk membuat pusô dan ketupat.[149]
Penduduk asli Hawaii melubangi batang kelapa untuk membuat gendang, wadah, atau kano kecil. "Cabang" (tangkai daun) kelapa cukup kuat dan lentur untuk dijadikan cambuk. Penggunaan tangkai daun kelapa dalam hukuman fisik dihidupkan kembali dalam komunitas masyarakat Gilbert di Pulau Choiseul, Kepulauan Solomon pada tahun 2005.[150] Akarnya digunakan untuk membuat pewarna, obat kumur, dan obat tradisional untuk mengobati diare dan disentri.[151] Potongan akar yang ujungnya diurai dapat digunakan sebagai sikat gigi. Di Kamboja, akar kelapa digunakan dalam pengobatan tradisional.[146] Serat sisa dari produksi minyak dan santan kelapa, yang disebut bungkil kelapa, digunakan sebagai pakan ternak. Kelopak yang sudah kering digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku kayu. Air kelapa secara tradisional digunakan sebagai suplemen pertumbuhan dalam kultur jaringan tumbuhan dan mikropropagasi.[152]


Kelapa (Sanskerta: narikelacode: sa is deprecated ) digunakan dalam ritual agama Hindu.[153] Buah ini sering kali dihiasi dengan lembaran foil logam berwarna cerah. Kelapa ini dipersembahkan saat pemujaan kepada dewa atau dewi Hindu. Narali Poornima dirayakan pada hari bulan purnama yang biasanya menandai berakhirnya musim muson di India. Kata Narali berasal dari bahasa Marathi naralcode: mar promoted to code: mr code: mr is deprecated , yang berarti "kelapa". Para nelayan memberikan persembahan kelapa ke laut untuk merayakan awal musim penangkapan ikan yang baru,[154] dengan harapan mendapatkan tangkapan yang melimpah. Umat Hindu sering kali mengawali kegiatan baru dengan memecahkan kelapa untuk memastikan turunnya berkah dari para dewa. Dewi kesejahteraan dan kekayaan Hindu, Laksmi, sering digambarkan memegang kelapa.[155] Kelapa digunakan dalam pernikahan Hindu sebagai simbol kemakmuran.[156] Bunganya terkadang digunakan dalam upacara pernikahan di Kamboja.[146] Kelapa memiliki signifikansi budaya dan agama bagi masyarakat Austronesia, yang muncul dalam mitologi, lagu, dan tradisi lisan mereka.[52][157]
Klub Zulu Social Aid and Pleasure Club di New Orleans memiliki tradisi melempar kelapa yang dihias dengan tangan, yang merupakan salah satu cendera mata Mardi Gras paling berharga, kepada para penonton pawai. Tradisi ini dimulai pada tahun 1910-an, dan terus berlanjut sejak saat itu. Pada tahun 1987, sebuah "hukum kelapa" ditandatangani oleh Gubernur Edwin Edwards yang membebaskan tanggung jawab asuransi untuk setiap kelapa hias yang "diberikan langsung" (tidak dilempar) dari kendaraan hias Zulu.[158]
Kelapa digunakan sebagai sasaran dan hadiah dalam permainan pasar malam tradisional Inggris, lempar kelapa (coconut shy). Pemain membeli beberapa bola kecil yang akan dilemparkan ke arah kelapa yang diseimbangkan di atas tongkat. Tujuannya adalah menjatuhkan kelapa dari dudukannya untuk memenangkannya.[159]
Kelapa merupakan makanan pokok bagi penganut Agama Kelapa Vietnam (Đạo Dừa), yang kini telah bubar.[160]
Beberapa budaya di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Samudra Pasifik memiliki mitos asal-usul di mana kelapa memainkan peran utama. Dalam mitos Hainuwele dari Maluku, seorang gadis muncul dari bunga pohon kelapa.[161] Dalam cerita rakyat Maladewa, salah satu mitos asal-usul utamanya mencerminkan ketergantungan masyarakat Maladewa pada pohon kelapa.[162] Dalam kisah Sina dan Belut, asal-usul kelapa diceritakan ketika seorang wanita cantik bernama Sina mengubur seekor belut, yang pada akhirnya tumbuh menjadi kelapa pertama.[163]
Menurut legenda urban, lebih banyak kematian yang disebabkan oleh kelapa jatuh daripada oleh hiu setiap tahunnya, meskipun kenyataannya adalah sebaliknya.[164]
Bukti literatur dari Ramayana dan kronik Sri Lanka menunjukkan bahwa kelapa telah ada di Anak benua India sebelum abad ke-1 SM.[165] Deskripsi langsung paling awal diberikan oleh Cosmas Indicopleustes dalam karyanya Topographia Christiana yang ditulis sekitar tahun 545, di mana kelapa disebut sebagai "kacang besar dari India".[166] Penyebutan awal lainnya terdapat dalam kisah "Seribu Satu Malam" tentang Sinbad si Pelaut, yang membeli dan menjual kelapa pada pelayaran kelimanya.[167]
Pada bulan Maret 1521, Antonio Pigafetta mendeskripsikan kelapa dalam jurnalnya berbahasa Italia dengan kata "cocho", bentuk jamak "cochi". Hal ini menyusul pelintasan Samudra Pasifik pertama oleh orang Eropa selama pelayaran keliling dunia oleh Magellan. Ia menjelaskan bagaimana di Guam "mereka memakan kelapa" ("mangiano cochi") dan bahwa penduduk asli di sana "mengolesi tubuh dan rambut dengan minyak kelapa dan minyak wijen" ("ongieno el corpo et li capili co oleo de cocho et de giongioli").[168]
Under optimal growing conditions, healthy mature trees produce new inflorescences every month, creating a continuous cycle of flowering and fruiting that can yield 12 to 15 spadices per year.
Coconut oil should not be viewed as healthy oil for cardiovascular disease risk reduction, and limiting coconut oil consumption because of its high saturated fat content is warranted.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
The use of coconut oil as a "healthy" component of the western diet is based on the major spread of misconceptions regarding it. The combination of the established knowledge on the negative effects of saturated fats on cardiovascular health and the lack of evidence from clinical trials showing a benefit from coconut oil intake in cardiovascular and metabolic disease advise against the consumption of this oil as a preferential source of dietary fat.
|