Paok hijau-biak adalah jenis burung dalam famili Pittidae, genus Pitta yang merupakan burung endemik pulau Biak, Papua, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Paok hijau-biak | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Passeriformes |
| Famili: | Pittidae |
| Genus: | Pitta |
| Spesies: | P. rosenbergii |
| Nama binomial | |
| Pitta rosenbergii Schlegel, 1871 | |
Paok hijau-biak (Pitta rosenbergii) adalah jenis burung dalam famili Pittidae, genus Pitta yang merupakan burung endemik pulau Biak, Papua, Indonesia.[2]
Burung paok hijau-biak memiliki tubuh berwarna hijau dengan bercak biru dan merah di bagian perut serta kepala berwarna hitam dengan mahkota cokelat kemerahan. Habitat paok hijau-biak berada di hutan hujan tropis dan persebarannya terbatas di wilayah Pulau Biak-Supiori. Ia termasuk burung yang aktif di permukaan tanah, pola makannya bersifat insektivora, dengan makanan utama berupa serangga, cacing tanah, invertebrata kecil lainnya, serta buah beri.[3] Berkembang biak antara bulan Februari dan Agustus, pasangan burung paok hijau-biak sangat teritorial dan membangun sarang mereka di tanah. Pengeraman dan perawatan anak burung dilakukan oleh kedua induk. Paok hijau-biak dikenal pemalu dan sulit diamati di alam liar, aktivitasnya lebih sering terdengar melalui suara khas dibandingkan terlihat secara langsung.[4]
Paok hijau-biak secara resmi dideskripsikan pada tahun 1871 oleh ahli ornitologi Jerman, Hermann Schlegel dari spesimen yang telah dikumpulkan oleh Hermann von Rosenberg. Schlegel menciptakan nama binomial Pitta rosenbergii untuk menghormati Rosenberg sebagai pengumpul spesimen.[5][6][7] Paok hijau-biak sebelumnya dianggap sebagai subspesies dari paok hijau (Pitta sordida), namun sekarang dianggap sebagai spesies terpisah berdasarkan perbedaan genetik, morfologi, dan vokal.[8][9] Ia bersifat monotipik, tidak ada subspesies yang diakui.[9]
Berdasarkan daftar merah IUCN, paok hijau-biak memiliki status "NT" (Near Threatened) atau hampir terancam punah. Populasi diduga menurun karena laju kehilangan tutupan hutan yang lambat. Luas sebarannya hanya 3.600 kilometer persegi, menunjukkan bahwa paok hijau-biak berisiko, meskipun populasinya tidak terfragmentasi secara parah, namun keberadaan paok hijau-biak telah terdampak negatif oleh laju kehilangan hutan baru-baru ini (M. Halaouate dalam surat pribadi 2022). Tingkat ini terus berlanjut, sehingga terjadi penurunan berkelanjutan pada luas, jangkauan, atau kualitas habitat. Sehubungan dengan luas sebaran yang sangat kecil, paok hijau-biak dianggap mendekati ambang batas untuk dimasukkan sebagai spesies terancam, memenuhi kriteria B1b (iii) tetapi tidak memenuhi subkriteria kedua.[10][11]