Perang Palimanan terjadi tidak lama setelah kepulangan Ki Demang Singagati yang membawa pesan penolakan dari prabu Cakraningrat. Prajurit kesultanan Cirebon pada mulanya dipimpin langsung oleh Pangeran Depati Kuningan sementara kerajaan Rajagaluh berada dibawah Depati Kiban.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Perang Palimanan terjadi tidak lama setelah kepulangan Ki Demang Singagati yang membawa pesan penolakan dari prabu Cakraningrat. Prajurit kesultanan Cirebon pada mulanya dipimpin langsung oleh Pangeran Depati Kuningan sementara kerajaan Rajagaluh berada dibawah Depati Kiban (penguasa Palimanan).
| Perang Palimanan | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||
| Pihak terlibat | |||||||||
|
|
Kerajaan Galuh Kerajaan Sunda | ||||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||||
|
|
Depati Kiban Sanghyang Gempol | ||||||||
| Kekuatan | |||||||||
| 700-900 prajurit | Kira-kira 3000 prajurit | ||||||||
| Korban | |||||||||
| Sedikit | Sedikit | ||||||||
Pada perang Palimanan, Depati Kiban dan Sanghyang Gempol dapat dikalahkan, pasukan kesultanan Cirebon kemudian bergerak menuju ibu kota Rajagaluh dan mengepung istana kerajaan Rajagaluh.
Perang akhirnya dapat dimenangkan oleh kesultanan Cirebon dan kerajaan Rajagaluh digabungkan wilayahnya dengan Kesultanan Cirebon, sementara para pemimpin kerajaan Rajagaluh dibiarkan lari.