Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPengurutan nanopori
Artikel Wikipedia

Pengurutan nanopori

Pengurutan nanopori adalah pendekatan generasi ketiga yang digunakan dalam proses sekuensing biopolimer - khususnya polinukleotida dalam bentuk DNA atau RNA.

Wikipedia article
Diperbarui 3 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pengurutan nanopori
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Januari 2023)
National Human Genome Research Institute (NHGRI) from Bethesda, MD, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons
Konsep pengurutan DNA berbasis nanopori umumnya memerlukan salah satu untai DNA yang melewati sensor nanopori, di mana nukleotida individu (blok bangunan DNA) dibedakan satu sama lain. Kredit: Jonathan Bailey, NHGRI.

Pengurutan nanopori (nanopore sequencing) adalah pendekatan generasi ketiga[1] yang digunakan dalam proses sekuensing biopolimer - khususnya polinukleotida dalam bentuk DNA atau RNA.

Manfaat

Dengan melakukan pengurutan nanopore, molekul DNA atau RNA tunggal dapat dibuat urutannya tanpa memerlukan amplifikasi PCR atau pelabelan kimia pada sampel, yang sebelumnya merupakan tahapan penting yang perlu dilakukan sebelum sekuensing. Pengurutan nanopore memiliki potensi sebagai metode genotiping yang relatif murah, memiliki mobilitas yang tinggi dalam proses pengujian, serta memiliki waktu pemrosesan yang cepat.

Prinsip

Pengurutan nanopore memanfaatkan pori-pori berukuran nanometer untuk mendeteksi perubahan arus ionik saat molekul DNA atau RNA melintas.[2] Peran dari nanopori ini memungkinkan pengurutan polinukleotida dalam komputasi waktu nyata dengan proses preparasi sampel yang sederhana.[3]

Proses pengurutan nanopore terdiri dari beberapa tahap utama. Dimulai dari pembentukan nanopori dari protein alami yang direkayasa atau dari material sintetis dengan ukuran yang disesuaikan untuk mengakomodasi molekul DNA/RNA.[3] Saat asam nukleat memasuki nanopori, interaksi antara molekul dengan dinding pori menyebabkan perubahan arus ionik yang kemudian direkam sebagai sinyal listrik.[2] Sinyal listrik tersebut dianalisis menggunakan algoritma pengolahan data untuk menginterpretasikan urutan nukleotida secara langsung tanpa perlu amplifikasi atau pewarnaan tambahan.[3]

Perkembangan teknologi

Pada mulanya, penelitian pengurutan nanopore terfokus pada penggunaan nanopori alami untuk memahami interaksi molekuler dasar. [2] Eksperimen tentang pengurutan nanopori bermula pada awal tahun 1990-an, dipelopori oleh George Church dan Daniel Branton dari Universitas Harvard, serta David Deamer dari Universitas California, Santa Cruz. Seiring dengan perkembangan, dilakukan rekayasa protein dan pembuatan nanopori sintetis guna meningkatkan kestabilan dan resolusi pengukuran.[3]

Beberapa perusahaan telah mengusulkan strategi pengurutan berbasis nanopori, yaitu dengan cara mengekstraksi monomer dari untai DNA dan mengalirkannya satu per satu melalui nanopori (misalnya, pengurutan NanoTag dari Genia dan pengurutan Bayley dari Oxford Nanopore) atau dengan mengalirkan untai DNA utuh melalui nanopori secara basa per basa (Oxford Nanopore MinION). Oxford Nanopore Technologies (ONT) memperoleh lisensi paten inti untuk teknologi pengurutan nanopori pada tahun 2007 dan memulai pengembangan pengurutan untai pada tahun 2010.[3]

Penerapan

Kolaborasi multidisipliner antara biologi molekuler, teknik elektro, dan ilmu material telah mendorong peningkatan performa sistem nanopore, yang kemudian diterapkan pada studi genomika dan diagnostik klinis.[2]

Publikasi mengenai metode pengurutan nanopore menjabarkan kegunaannya dalam identifikasi patogen virus secara cepat,[4] pengawasan ebola,[5] pengawasan lingkungan,[6] pengawasan ketahanan pangan, pengurutan genom manusia,[7] pengurutan genom tumbuhan,[8] pengawasan kekebalan terhadap antibiotik,[9] haplotiping[10] dan kegunaan-kegunaan lainnya.

Catatan kaki

  1. ↑ Niedringhaus, Thomas P.; Milanova, Denitsa; Kerby, Matthew B.; Snyder, Michael P.; Barron, Annelise E. (2011-06-15). "Landscape of Next-Generation Sequencing Technologies". Analytical Chemistry. 83 (12): 4327–4341. doi:10.1021/ac2010857. PMC 3437308. PMID 21612267.
  2. 1 2 3 4 Deamer, David; Akeson, Mark; Branton, Daniel (2016-05). "Three decades of nanopore sequencing". Nature Biotechnology (dalam bahasa Inggris). 34 (5): 518–524. doi:10.1038/nbt.3423. ISSN 1546-1696.
  3. 1 2 3 4 5 Jain, Miten; Olsen, Hugh E.; Paten, Benedict; Akeson, Mark (2016-11-25). "The Oxford Nanopore MinION: delivery of nanopore sequencing to the genomics community". Genome Biology (dalam bahasa Inggris). 17 (1): 239. doi:10.1186/s13059-016-1103-0. ISSN 1474-760X. PMC 5124260. PMID 27887629. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  4. ↑ Greninger, Alexander L.; et al. (2015). "Rapid metagenomic identification of viral pathogens in clinical samples by real-time nanopore sequencing analysis". Genome Medicine. 7 (1). bioRxiv 020420. doi:10.1186/s13073-015-0220-9. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  5. ↑ Nick Loman (15 May 2015). "How a small backpack for fast genomic sequencing is helping combat Ebola". The Conversation.
  6. ↑ "TGAC's take on the first portable DNA sequencing 'laboratory'". EurekAlert!. 19 March 2015.
  7. ↑ "nanopore-wgs-consortium/NA12878". GitHub. Diakses tanggal 2017-01-10.
  8. ↑ "Solanum pennellii (new cultivar) - PlabiPD". www.plabipd.de. Diakses tanggal 2017-01-10.
  9. ↑ Cao, Minh Duc; Ganesamoorthy, Devika; Elliott, Alysha G.; Zhang, Huihui; Cooper, Matthew A.; Coin, Lachlan J.M. (2016). "Streaming algorithms for identification of pathogens and antibiotic resistance potential from real-time MinIONTM sequencing". GigaScience. 5 (1). bioRxiv 019356. doi:10.1186/s13742-016-0137-2. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  10. ↑ Ammar, Ron; Paton, Tara A.; Torti, Dax; Shlien, Adam; Bader, Gary D. (2015). "Long read nanopore sequencing for detection of HLA and CYP2D6 variants and haplotypes". F1000Research. doi:10.12688/f1000research.6037.2. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)

Jurnal

  • Zwolak, M; Di Ventra, M (2008). "Colloquium: Physical approaches to DNA sequencing and detection". Reviews of Modern Physics. 80: 141–165. Bibcode:2008RvMP...80..141Z. doi:10.1103/revmodphys.80.141.
  • Astier, Y; Braha, O; Bayley, H (2006). "Towards single molecule DNA sequencing". J. Am. Chem. Soc. 128 (5): 1705–1710. doi:10.1021/ja057123+. PMID 16448145.
  • Fologea D; Gershow M; Ledden B; McNabb DS; Golovchenko JA, Li J (October 2005). "Detecting single stranded DNA with a solid state nanopore". Nano Lett. 5 (10): 1905–9. Bibcode:2005NanoL...5.1905F. doi:10.1021/nl051199m. PMC 2543124. PMID 16218707.
  • Deamer DW; Akeson M (April 2000). "Nanopores and nucleic acids: prospects for ultrarapid sequencing". Trends Biotechnol. 18 (4): 147–51. doi:10.1016/S0167-7799(00)01426-8. PMID 10740260.
  • Church GM (January 2006). "Genomes for all". Sci. Am. 294 (1): 46–54. doi:10.1038/scientificamerican0106-46. PMID 16468433.
  • Xu, M. S.; Fujita, D.; Hanagata, N. (2009). "Perspectives and challenges of emerging single-molecule DNA sequencing technologies". Small. 5 (23): 2638–49. doi:10.1002/smll.200900976. PMID 19904762.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Manfaat
  2. Prinsip
  3. Perkembangan teknologi
  4. Penerapan
  5. Catatan kaki
  6. Jurnal
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026