Sistem penulisan yang digunakan pada masa Mesir Kuno berhasil diuraikan pada awal abad ke-19 berkat usaha dari beberapa cendekiawan Eropa, terutama Jean-François Champollion dan Thomas Young. Pengetahuan akan cara membaca sistem penulisan Mesir, yang mencakup tulisan hieroglif, hieratik, dan demotik, telah dilupakan sejak abad ke-4 atau abad ke-5 Masehi. Generasi berikutnya hanya mengenal tulisan-tulisan ini dari catatan penulis-penulis Yunani dan Romawi yang tidak memiliki pemahaman yang baik akan sistem ini. Tulisan Mesir sempat dianggap sebagai sistem tulisan yang sepenuhnya ideografis; setiap karakternya dianggap menyimbolkan ide-ide tertentu alih-alih suara. Hieroglif juga dipandang oleh awam sebagai tulisan yang bersifat esoteris dan mistis alih-alih tulisan fungsional yang dipakai untuk merekam bahasa lisan. Pada Abad Pertengahan, beberapa cendekiawan Muslim dan Eropa berusaha mengurai hieroglif. Mereka meyakini bahwa sistem aksara ini mungkin memiliki unsur fonetis. Namun, pandangan umum yang menganggap hieroglif sebagai sistem ideografis menghambat upaya penguraian hingga abad ke-18.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Sistem penulisan yang digunakan pada masa Mesir Kuno berhasil diuraikan pada awal abad ke-19 berkat usaha dari beberapa cendekiawan Eropa, terutama Jean-François Champollion dan Thomas Young. Pengetahuan akan cara membaca sistem penulisan Mesir, yang mencakup tulisan hieroglif, hieratik, dan demotik, telah dilupakan sejak abad ke-4 atau abad ke-5 Masehi. Generasi berikutnya hanya mengenal tulisan-tulisan ini dari catatan penulis-penulis Yunani dan Romawi yang tidak memiliki pemahaman yang baik akan sistem ini. Tulisan Mesir sempat dianggap sebagai sistem tulisan yang sepenuhnya ideografis; setiap karakternya dianggap menyimbolkan ide-ide tertentu alih-alih suara. Hieroglif juga dipandang oleh awam sebagai tulisan yang bersifat esoteris dan mistis alih-alih tulisan fungsional yang dipakai untuk merekam bahasa lisan. Pada Abad Pertengahan, beberapa cendekiawan Muslim dan Eropa berusaha mengurai hieroglif. Mereka meyakini bahwa sistem aksara ini mungkin memiliki unsur fonetis. Namun, pandangan umum yang menganggap hieroglif sebagai sistem ideografis menghambat upaya penguraian hingga abad ke-18.