Misionaris adalah anggota dari suatu kelompok religius yang diutus ke suatu wilayah untuk menyebarkan keyakinan atau menyediakan layanan bagi masyarakat, seperti bidang pendidikan, literasi, keadilan sosial, kesehatan, serta pengembangan ekonomi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Misionaris adalah anggota dari suatu kelompok religius yang diutus ke suatu wilayah untuk menyebarkan keyakinan atau menyediakan layanan bagi masyarakat, seperti bidang pendidikan, literasi, keadilan sosial, kesehatan, serta pengembangan ekonomi.[1][2]
Dalam terjemahan Alkitab bahasa Latin, Yesus Kristus menggunakan istilah ini saat mengutus para murid ke berbagai wilayah dan memerintahkan mereka untuk memberitakan Injil demi nama-Nya. Meskipun istilah tersebut paling umum merujuk pada misi Kristen, kata ini juga dapat digunakan dalam konteks penyebaran paham atau ideologi lain secara luas.[3]
Istilah misi muncul pertama kali pada tahun 1598 saat para Yesuit (anggota Serikat Yesus) mengutus anggotanya ke luar negeri. Kata ini berasal dari bahasa Latin missionem (nom. missio) yang berarti 'tindakan mengutus', atau dari kata mittere yang berarti 'mengirim' atau 'mengutus'.[4]
Misionaris Protestan juga disebut sebagai zendeling (dari bahasa Belanda yang artinya pengutusan). Misionaris/Zending ditujukan untuk penyebaran agama Kristen melalui kabar keselamatan yang diberikan Allah kepada seluruh dunia. Misionaris adalah seorang pendakwah Katolik sedangkan zending adalah pendakwah Protestan.
Seorang misionaris adalah orang yang telah mengalami Kasih Bapa sehingga dia terdorong untuk membagikan Kasih Bapa yang Ia alami kepada orang-orang yang sama sekali tidak mengenal Allah.
Seorang Misionaris menjadi seperti orang yang hilang ingatan sehingga melupakan apa yang menjadi kehidupan lamanya, kehidupan yang mewah dan nyaman, kepada kehidupan yang berfokus kepada pelayanan cinta kasih kepada orang miskin, orang sakit, yang terdapa pada desa-desa terpencil yang jauh dari jangkauan perkotaan, bahkan kepada suku-suku sekalipun yang berada di pedalaman hutan.
Seorang misionaris mengenal panggilannya dengan benar, bahwa ia melakukan semua itu karena keselamatan yang sudah dia terima bukan untuk mencari keselamatan tetapi membagikannya kepada sesama manusia.
Misionaris Islam di Indonesia berasal dari Arab dan Persia yang masuk ke pulau Jawa pada awal tahun 1400 dan lambat laun memenangkan para mualaf di antara golongan yang berkuasa. Pada saat itu Jawa masih didominasi oleh kebudayaan Hindu-Buddha. Sebutan untuk pendakwah kepada ajaran Islam adalah Da'i.
Semangat misionaris dalam agama Buddha ada sejak masa Buddha Gotama masih hidup.
| Caratha, bhikkhave, cārikaṁ bahujanahitāya bahujanasukhāya lokānukampāya atthāya hitāya sukhāya devamanussānaṁ; mā ekena dve agamittha; desetha, bhikkhave, dhammaṁ ādikalyāṇaṁ majjhekalyāṇaṁ pariyosānakalyāṇaṁ sātthaṁ sabyañjanaṁ kevalaparipuṇṇaṁ parisuddhaṁ brahmacariyaṁ pakāsetha. "Mengembaralah, para bhikkhu, demi kebaikan banyak makhluk (bahujanahitāya), demi kebahagiaan banyak makhluk (bahujanasukhāya), karena belas kasihan terhadap dunia (lokānukampāya), demi kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Jangan pergi berdua, para bhikkhu, tetapi ajarkanlah Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam kata dan maknanya, dan tunjukkanlah kehidupan suci secara lengkap dan sempurna." |
||
| — DN 14 terj. Indra Anggara | ||
Dalam baris pertama sabda tersebut, Buddha Gotama secara tegas mengutus para biku untuk pergi membabarkan Dhamma (ajaran Buddha) kepada dunia, demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk. Pada baris kedua, semangat misionaris itu lebih terasa karena Buddha berpesan agar para biku tidak pergi berdua pada satu arah atau tempat tujuan. Ini bertujuan agar Dhamma ajaran Buddha dapat disebarkan secara lebih luas, dan dengan demikian akan ada lebih banyak makhluk yang dapat mengenal dan menikmati indahnya Dhamma.[5]
Di Myanmar, terdapat sebuah universitas bernama International Theravāda Buddhist Missionary University (ITBMU) yang bertujuan untuk membagikan ajaran Buddhisme Theravāda kepada masyarakat dunia, serta melatih para misionaris (Dhammaduta) yang memiliki moralitas luhur, menguasai kepustakaan Tipitaka Pali, dan mumpuni dalam praktik meditasi. Kini, para alumni ITBMU telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia, untuk menjalankan misi penyebaran agama, mengajar meditasi, serta aktif berkontribusi dalam melestarikan Dhamma di komunitas buddhis global.
Para pelopor dalam agama Bahá'í dapat disandingkan dengan misionaris atau pendakwah. Akan tetapi, mereka tidak diberi pelatihan dan pendanaan khusus serta tidak menerapkan metode khusus dalam proses penyampaian dan penyebarluasan ajaran.