Pengeboman NATO di Yugoslavia adalah kampanye pengeboman udara oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO) terhadap Republik Federal Yugoslavia (RFY) selama Perang Kosovo. Kampanye militer ini berlangsung dari 24 Maret 1999 hingga 10 Juni 1999, berakhir pada kesepakatan penarikan pasukan Yugoslavia dari Kosovo dan pembentukan United Nations Interim Administration Mission in Kosovo (UNMIK), misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kosovo.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Operasi Allied Force | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Kosovo | |||||||
Bangunan di Serbia yang terbakar, 1999 | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
|
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
31,600+ Personil 1,031 Pesawat[5] 30+ Kapal Angkatan Laut[6] 144+ UAV Task Force Hawk[7] |
114,000 personel aktif 20,000 polisi Serbia 1,270 tank 825 kendaraan tempur lapis baja 1,400 senjata artileri 100 senjata Peluru kendali darat ke udara 240 pesawat tempur[6] | ||||||
| Korban | |||||||
|
2 Tentara Tewas (di luar pertempuran) 4 Terluka 3 ditangkap 1 F-117 ditembak jatuh 1 F-16 ditembak jatuh 1 AV-8B ditembak jatuh 2 AH-64 Apache ditembak jatuh 2 A-10 Thunderbolt Rusak Parah 46 UAV ditembak jatuh[8] |
Estimasi Kementrian Pertahanan Serbia tahun 2013:
304 tentara and polisi[10] 6 MiG-29 ditembak jatuh 4 MiG-29 Hancur 1 J-22 di tembak jatuh 50 Pesawat Lainnya Hancur/Jatuh | ||||||
|
Human Rights Watch estimasi: 489–528 Warga sipil terbunuh (56 - 60% berada di Kosovo)[11] Estimasi Yugoslavia: 1,200–2,000 Warga Sipil Terbunuh[11] dan sekitar 6,000 Warga Sipil Terluka [12] FHP: | |||||||
Pengeboman NATO di Yugoslavia adalah kampanye pengeboman udara oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO) terhadap Republik Federal Yugoslavia (RFY) selama Perang Kosovo. Kampanye militer ini berlangsung dari 24 Maret 1999 hingga 10 Juni 1999, berakhir pada kesepakatan penarikan pasukan Yugoslavia dari Kosovo dan pembentukan United Nations Interim Administration Mission in Kosovo (UNMIK), misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kosovo.[13]
Secara resmi, operasi militer ini diberi nama kode Operasi Allied Force (disingkat OAF) oleh NATO, sedangkan Amerika Serikat menyebutnya Operasi Noble Anvil[14]. Di Yugoslavia sendiri, operasi ini disalah sebutkan sebagai Malaikat Pengampun (bahasa Serbia: Милосрдни анђео / Milosrdni anđeo), kemungkinan karena kesalahan translasi atau kesalahpahaman pihak-pihak tertentu.[15][16][17] Alasan utama yang mendorong NATO untuk melakukan intervensi adalah meningkatnya kekerasan dan pembersihan etnik Albania di Kosovo oleh RFY, mengakibatkan etnis Albania untuk melarikan diri ke negara-negara tetangga. Hal ini diprihatinkan dapat berpotensi merusak stabilitas daerah Balkan. Aksi RFY sendiri telah dikecam oleh organisasi-organisasi internasional seperti PBB, NATO, dan sejumlah organisasi non-pemerintah internasional (INGO) lainnya.[18]
Penolakan Yugoslavia untuk menandatangani Perjanjian Rambouillet awalnya digunakan sebagai pembenaran oleh NATO untuk melakukan tindakan penggunaan kekuatan ("use of force").[19] Hak veto Tiongkok dan Rusia yang dalam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat menghalangi hal tersebut,[20] mendorong NATO untuk meluncurkan Operasi Allied Force tanpa persetujuan PBB dengan dalih bahwa pengeboman ini adalah intervensi kemanusiaan. Meskipun demikian, Piagam PBB melarang tindakan penggunaan kekuataan kecuali memang dari keputusan Dewan Keamanan PBB seperti yang tertuang di dalam Pasal 42, Pasal 51, dan Pasal 53.[21] Tiga hari usai dimulainya pengeboman, pada tanggal 26 Maret 1999, Dewan Keamanan PBB menolak tuntutan Rusia, Belarus dan India untuk menghentikan tindakan militer terhadap Yugoslavia.[22]
Sesudah berakhirnya perang, 1,500[23] hingga 2,131 kombatan tewas terbunuh.[24] Sebanyak 10,317 rakyat sipil meninggal dunia atau menghilang, 85% diantaranya adalah orang Albania Kosovo. Sekitar 848,000 orang, diantaranya 164,000 orang Serbia dan 24,000 orang Roma, meninggalkan atau diusir dari Kosovo.[25] Kebanyakan dari orang non-Albania yang tersisa (termasuk orang Albania yang dianggap sebagai kolaborator) mengalami kekerasan, penculikan dan pembunuhan.[26] Pengeboman NATO sendiri setidaknya membunuh sebanyak 1,000 anggota pasukan keamanan Yugoslavia beserta 469 dan 528 rakyat sipil. Operasi militer ini juga merusak atau menghancurkan beberapa jembatan, pabrik industri, rumah sakit, sekolah, monumen bersejarah dan usaha swasta di samping fasilitas dan instalasi militer. Tercatat, sebanyak 9 hingga 11 ton uranium terdeplesi tersebar di Yugoslavia.[27] Setelah perang Kosova dan perang Yugoslavia, Serbia menjadi tempat dengan angka pengungsi tertinggi di Eropa.[28]
Intervensi militer ini merupakan operasi militer besar kedua bagi NATO, usai kampanye pengeboman tahun 1995 di Bosnia dan Herzegovina. Ini adalah pertama kalinya NATO menggunakan kekuatan militer tanpa dukungan tegas dari Dewan Keamanan PBB dan persetujuan hukum internasional.[29] Memicu perdebatan dan kontroversi tentang legitimasi intervensi ini hingga sekarang.[30][31]
Serbia is a case in point. It hosts the largest number of refugees and IDPs in Europe.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)