Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPembicaraan Pengguna:Tri Yulia Nurhalimah
Artikel Wikipedia

Pembicaraan Pengguna:Tri Yulia Nurhalimah

Wikipedia article
Diperbarui 28 Februari 2023

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sepeda Baru Untuk Bening Karya: Tri Yulia Nurhalimah Bapak dan si Mbok. Begitulah Bening memanggil orang tuanya. Bening hidup di sebuah desa. Rumahnya dikelilingi oleh hijaunya sawah. Saat musim tanam padi tiba, sawah akan ramai orang. Bapak dan si Mbok juga akan sibuk menanam padi di sawah. Terkadang Bening juga ikut Bapak dan si Mbok ke sawah untuk sekadar bermain lumpur. Sebentar lagi Bening akan masuk sekolah dasar. Ia suda tak sabar untuk bertemu teman baru. Sekolah bening tidak jauh dari rumahnya. Ia bisa berjalan kaki saja. Tetepi, Bapak juga berjanji untuk mengantar Bening ke sekolah setiap pagi. “Mbok, minggu depan Bening sudah sekolah.” kata Bening. “Iya, Nduk. Ternyata anak Mbok udah besar. Nanti sekolah yang rajin, ya.” pinta si Mbok. “Iya, Mbok. Bapak kemarin janji mau antar Bening ke sekolah.” “Tapi Bapak tidak bisa jemput Bening pas pulang sekolah, tidak apa, Nduk?” tanya si Mbok. “Nanti Bening pulang jalan kaki saja, Mbok.” jawab Bening. “Nanti hati-hati, ya, Nduk.” pinta si Mbok. “Iya, Mbok.” jawab bening sambil tersenyum dan main lumpur.

Hari yang ditunggu Bening pun tiba. Hari ini adalah hari pertama Bening pergi ke sekolah. Pagi-pagi sekali Bening sudah bangun. Ia senang sekaligus gugup. Ia pun menyiapkan seragam sekolah dan beberapa buku tulis. Si Mbok sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk Bening. Hari ini si Mbok membuat telur dadar sesuai pesanan Bening. Setelah selesai mandi, Bening mematut dirinya di depan cermin. Ia merapikan bajunya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Agak lama ia memandang dirinya di cermin hingga si Mbok memanggilnya untuk sarapan. “Nduk, ayo, sarapan dulu. Biar semangat sekolahnya.” tutur si Mbok. “Iya, Mbok.” Bening pun berlari ke dapur sederhananya untuk sarapan. Bening sarapan bersama Bapak. Ia hanya memakan sedikit sarapannya karena gugup. “Kenapa tidak dihabiskan, Nduk?” tanya Bapak. “Bening deg-degan, Pak. Ini hari pertama Bening sekolah.” “Tidak apa-apa, Nduk. Semoga sekolahnya nanti lancar. Dapat teman-teman yang baik.” kata Bapak. “Bening pengen punya banyak teman yang baik, Pak. Nanti biar bisa main bersama.” jawab Bening.

Bapak sudah siap dengan sepedanya. Selain membonceng Bening, Bapak juga membawa peralatan tukang untuk bekerja. Bapak Bening adalah seorang tukang bangunan. Bapak bekerja di desa sebelah yang berjarak sekitar 5 km dari rumahnya. Setiap hari, Bapak mengayuh sepeda untuk sampai ke tempat kerjanya. Bening selalu mengagumi Bapak. Baginya, Bapak adalah laki-laki terbaik dan terkuat di dunia. Bening sudah selesai memakai sepatunya. Ia kembali mematut diri di depan kaca sambil merapikan rambut dan seragamnya. Ia kemudian mengambil tasnya dan pergi ke luar menemui Bapak. “Bapak, Bening sudah siap. Ayo, kita berangkat.” ucap Bening dengan penuh semangat. “Silakan naik, Tuan Putri.” seru Bapak. Bening naik sepeda dibonceng bapak menuju ke sekolah. Tampak wajahnya sangat senang. Ia juga selalu tersenyum sepanjang jalan. “Bapak, Bening berat tidak?” tanya Bening pada Bapak. “Berat, Nduk. Ternyata anak Bapak sudah besar.” Bening tertawa mendengar jawaban Bapak. “Bening suka naik sepeda sama Bapak.” Sepeda Bapak pun sampai di gerbang sekolah. Bapak menarik rem dan sepeda pun terhenti. “Nah, sekarang sudah sampai.” “Bening sekolah dulu ya, Pak. Bapak hati-hati di jalan, ya.” pinta Bening. “Iya, Nduk. Nanti bapak belikan pisang goreng karena hari ini hari pertama Bening sekolah.” kata Bapak. “Bening mau pisang goreng, Pak.” “Belajar yang rajin dan jangan nakal, ya.” “Siap Komandan.” Bapak pun menganyuh sepedanya menuju tempat kerja. Bening masih di tempatnya memandang Bapak sambil melambaikan tangan. Bening melihat di sekolahnya belum terlalu banyak orang. Mungkin karena ia berangkat terlalu pagi. Ia menuju ke taman di depan kelasnya sambil menunggu teman-temannya. Tidak lama menunggu, satu per satu temannya mulai datang. Mereka diantar orang tuanya juga, tetepi mereka mengendarai sepeda mereka sendiri. “Aku juga ingin punya sepeda.” gumam Bening. Hari pertama sekolah sangat menyenangkan. Bening berkenalan dengan beberapa teman baru. Beberapa teman adalah teman main bening di rumah. Ia sangat senang dan pulang dengan penuh senyuman. Ia berjalan sambil bernyanyi dan kadang berlari kecil. “Bening, kami duluan, ya.” sapa teman-teman Bening. “Iya, teman-teman, hati-hati.” jawab Bening sambil tersenyum seraya melambaikan tangannya. Beberapa kali Bening melihat teman-temannya pulang sambil bersepeda. Ia juga ingin pulang dengan naik sepeda, tetapi ia tidak punya sepeda. Sesampainya di rumah, Bening langsung disapa si Mbok dengan hangat. Si Mbok baru saja pulang dari sawah. “Anak Mbok sudah pulang. Ayo, ganti baju terus makan sama-sama.” pinta si Mbok. “Laksanakan.” jawab Bening sambil mengangkat tangannya dalam posisi hormat. Setelah mengganti baju, Bening dan si Mbok makan bersama. Mereka makan sayur bayam dan tempe goreng. Bening menceritakan semua kegiatan di sekolahnya pada si Mbok. Si Mbok merasa lega karena Bening bersekolah dengan baik dan berkenalan dengan teman-teman yang baik. “Mbok, teman-teman Bening sudah punay sepeda. Boleh tidak kalau Bening minta dibelikan sepeda?” tanya Bening. “Nanti Mbok bilang dulu ke Bapak, ya, Nduk.” “Iya, Mbok.” jawab Bening sambil melanjutkan makan. Sore harinya, Bening sudah menunggu Bapak di teras rumah. Bening ingat janji Bapak yang akan membelikannya pisang goreng. Sudah hampir setengah jam Bening mondar-mandi di teras rumah. Tapi, Bapak belum kunjung pulang. Bening tetap sabar menunggu dan Bapak sudah terlihat dari kejauhan. Bening senang sekali dan melihat Bapak membawa sebuah kantung kresek. “Bapak, Bening kangen.” “Kamu kangen Bapak apa pisang goreng?” tanya Bapak sambil tertawa. “Bening kangen Bapak dan pisang goreng.” “Ayo, kita makan sama-sama. Panggil si Mbokmu.” pinta Bapak. Mereka pun menikmati pisang goreng itu bersama. Ditengah-tengah menikmai pisang goreng, Bening bertanya, “Bapak, moleh tidak Bening punya sepeda sendiri?” “Boleh, tapi Bapak belum bisa membelikan sekarang, ya, Nduk.” jawab Bapak. “Iya, Pak. Tidak apa-apa. Bening juga senang pergi ke sekolah sama bapak.” “Musim panen depan, Bapak belikan sepeda. Tapi ada syaratnya.” seru Bapak. “Apa itu syaratnya, Pak?” jawab Bening. “Syaratnya, Bening harus membantu Bapak dan si Mbok memanen padi.” kata Bapak. “Setujuuuuuuuuuuuuuuuu.........” jawab Bening sambil berteriak dan berdiri dari duduknya. Bening terlihat sangat bahagia. Walaupun harus menunggu sedikit lama, tetapi ia tidak keberatan. Ia akanmembantu Bapak dan si Mbok nanti. Beberapa bulan berlalu, padi di sawah mulai menguning. Semua petani sibuk di sawah untuk memanen hasil sawah mereka. Hasil panen kali ini tidak begitu bagus karena hujan turun hampir setiap hari. Hal itu juga dialami oleh Bapak dan si Mbok. Bening senang sekali karena saat yang ditunggu-tunggu tiba. Tidak lama lagi ia akan mendapatkan sepedanya. Ia membantu Bapak dan si Mbok di sawah. Ia membantu menyiapkan tempat untuk padi. Ia juga membantu si Mbok untuk memasak makanan untuk pekerja di sawah. Ia juga ikut ke sawah dan membantu si Mbok menghitung hasil panen padinya. Ia nampak seperti petani cilik yang sedang bahagia karena hasil panen padinya. Semua hasil panen tersebut dibawa pulang untuk dijemur. Bapak dan si Mbok menjemur hasil panennya di pekarangan depan rumah. Bapak meminta Bening untuk membantu menjaga padi agar tidak dimakan ayam. “Nduk, nanti bantu Bapak sama Mbok jemur padi, ya.” pinta Bapak. “Siap Komandan.” jawab Bening dengan penuh senyuman. Bening nampak sangat waspada saat menjaga padi. Ia melihat sekeliling dan memastikan tidak ada ayam yang mendekati padinya. Ia siap mengusir ayam yang mendekat dengan pengusir ayam yang terbuat dari plastik. Suara berisik dari pengusir tersebut akan membuat ayam takut. Sesekali Bening berteriak mengusir ayam tersebut. Tak jarang ia juga berlari ketika mengusir ayam yang memakan padinya. Bapak terkekeh melihat ulah Bening yang lucu itu. “Ayaaammmmmmmmmmm, pergi kau. Jangan makan padi Bapak dan si Mbokku. Hus... hus... hus....” teriak Bening pada ayam-ayam itu. Saat hujan akan turun atau saat sore hari, Bening juga membantu Bapak dan si Mbok untuk memasukkan padi ke rumah. Ia membawa sedikit padi dalam ember untuk di masukkan ke dalam kantung padi. Ia juga senang menghitung hasil padi Bapak dan si Mbok sambil memikirkan banyak uang yang akan didapat dari hasil panen tersebut sambil tersenyum bahagia. Setelah semua padi kering, Bapak menjual padi tersebut ke tengkulak. Bapak dan si Mbok terlihat menghitung sejumlah uang untuk membayar pupuk. Di tempat bening tinggal, pupuk biasanya akan dibayar ketika panen tiba. Beberapa hari kemudian, hari yang ditunggu Bening tiba. Ia diajak Bapak untuk membeli sepeda. “Nduk, ayo, kita beli sepeda.” kata Bapak. Bening seolah tidak percaya bahawa ia akan dibelikan sepda oleh Bapak, “Sekarang, Pak?” “Iya. Ayo, kita berangkat sekarang.” kata Bapak. “Horeeeeeeee Bening punya sepda. Terimakasi Pak, Mbok.” teriak Bening. Sepeda tua Bapak pun melaju di jalanan. Bapak dan Bening pergi untuk membeli sepeda. Mereka akan menjemput sepeda Bening di toko sepeda di toko desa sebelah. Bening tersenyum bahagia sepanjang perjalanan. Ia nampak begitu semangat dan bercerita banyak hal pada Bapak.” Namun, saat di perjalanan, Bapak mengatakan sesuatu, “Nduk, kalau sepedanya tidak baru bagaimana?” Bening terdiam sejenak mendengar perkataan Bapak. “Panen Bapak dan Mbok kali ini tidak begitu banyak, jadi Bapak tidak punya banyak uang untuk membelikan sepeda baru untukmu.” kata Bapak dengan nada lirih. Dalam pikirannya, Bening akan mendapatkan sepeda dengan cat berwarna merah yang mengkilap dengan ban sepeda yang masih hitam legam. Serta tidak ada karat pada stang sepedanya. “Nduk?” sapa Bapak. Bening pun tersenyum. Ia menyadari bahwa mempunyai sepeda baru tidak harus dalam keadaan baru. “Iya, Pak. Bening mau.” jawab Bening. “Maafkan Bapak dan si Mbok, ya, Nduk karena belum bisa membelikan sepeda baru.” seru Bapak dengan lirih. “Iya, Pak. Punya sepeda baru kan tidak harus baru, Pak. Bening sayang Bapak sama si Mbok.” jawab Bening sambil memeluk Bapaknya. Bening pun mendapatkan sepeda pertamanya. Menurut penjualnya, sepeda biru itu adalah sepeda bekas yang sudah digunakan beberapa tahun, tetapi masih dalam keadaan yang bagus. Di depan sepeda itu masih terdapat keranjang seperti yang diinginkan Bening. Bening pulang bersama Bapak menaiki sepeda barunya. Ia sudah mahir bersepeda karena sering belajar bersepeda bersama teman-temannya di sekolah. Bening selalu tersenyum sepanjang perjalanan ke rumah. Bapak pun tersenyum melihat putri kecilnya itu. Sebelum sapai rumah, Bening dan Bapak membeli pisang goreng untuk di makan bersama si Mbok di rumah.

Bagikan artikel ini

Share:
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026