Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Selamat datang di Wikipedia bahasa Indonesia![[Kategori:Wikipediawan yang bergabung bulan {{subst:CURRENTMONTHNAME}} {{subst:CURRENTYEAR}}]]
~~~~ pada akhir kalimat Anda.
Selamat menjelajah, kami menunggu suntingan Anda di Wikipedia bahasa Indonesia!
Welcome! If you do not understand the Indonesian language, you may want to visit the embassy or find users who speak your language. Enjoy!
~~~~
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah Sejarah adalah suatu rujukan saat kita akan membangun masa depan. Namun, kadang orang malas untuk melihat sejarah. Sehingga orang cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disinilah sejarah berfungsi sebagai cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari untuk merancang masa depan. Islam telah membawa perubahan yang besar, terbentuknya berbagai kebudayaan baik pada mulanya maupun pada kehidupan selanjutnya. Dimulai dengan Nabi Muhammad SAW lalu dilanjutkan oleh para Khulafa al-Rasyidun sebagai sahabat-sahabat yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW, kiranya pantas untuk dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan sesuatu dimasa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam. Bahwa Islam sebagai fenomena sejarah mengalami masa-masa pertumbuhan, kemajuan dan juga masa kemunduran. Keberhasilan perluasan wilayah Islam pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah ditindaklanjuti kemajuan peradaban Islam oleh pemerintah Abbasiyah di Baghdad, pemerintahan Umayah di Kordoba (Spanyol), dan yang cukup berperan yatiu pemerintahan Fathimiyah di Mesir. Dalam memahami sejarah kita dituntut untuk dapat berpikir kritis. Sebab, sejarah bukanlah sebuah barang mati yang tidak dapat dirubah. Akan tetapi sejarah bisa saja dirubah kisahnya oleh sang penulis sejarah. Nalar kritis kita dituntut untuk mampu membaca sejarah dan membandingkan dengan pendapat lain. Saat kita sudah mampu untuk menyibak tabir sejarah dari berbagai sumber, barulah kita dapat melakukan rekonstruksi sejarah.
1.2. Perumusan Masalah
Untuk membatasi dan lebih memfokuskan pembahasan maka kami merumuskan masalah kedalam beberapa poin permasalahan, yaitu :
1. Bagaimana kelahiran serta asal-usul pembentukan Dinasti Fathimiyah? 2. Bagaimana perkembangan serta pergantian para penguasa Dinasti Fathimiyah? 3. Bagaimana perkembangan serta kemajuan di segala bidang zaman Dinasti Fathimiyah?
1.3. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Untuk mengetahui kelahiran serta asal-usul pembentukan Dinasti Fathimiyah. 2. Untuk mengetahui perkembangan serta pergantian para penguasa Dinasti Fathimiyah 3. Untuk mengetahui perkembangan serta kemajuan di segala bidang zaman Dinasti Fathimiyah.
1.4. Metode Penulisan Makalah Dalam penulisan makalah ini kami menggunakan metode deskriptif artinya memberikan gambaran secara umum mengenai sejarah dari pembentukan Dinasti Fathimiyah sampai kejatuhannya. Namun dalam hal pengumpulan sumber-sumber penulisan makalah, kami menggunakan metode studi kepustakaan atau studi literatur yang didapatkan dari buku-buku yang berhubungan dengan Islam, khususnya yang berisi tentang Dinasti Fathimiyah. Selain itu, pencarian informasi melalui media internet pun kami lakukan dengan tujuan untuk menambah referensi dalam penulisan makalah. 1.5. Sistematika Penulisan Makalah
Sistematika yang digunakan dalam makalah ini disesuaikan dengan prosedur pembuatan makalah pada umumnya, yaitu sebagai berikut :
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1.2. Perumusan Masalah 1.3. Tujuan Penulisan Makalah 1.4. Metode Penulisan Makalah 1.5. Sistematika Penulisan Makalah BAB II ISI PEMBAHASAN 2.A. Asal-usul dan pembentukan Dinasti Fathimiyah 2.B. Para Penguasa Dinasti Fathimiyah 2.C. Masa Kemajuan dan Kontribusi Dinasti Fathimiyah Terhadap Peradaban Islam
BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
A. ASAL-USUL DAN PEMBENTUKAN DINASTI FATHIMIYAH
Dinasti ini mengklaim sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali Ibn Abu Thalib dan Fathimah binti Rasulullah. Menurut mereka, Abdullah al-Mahdi sebagai pendiri dinasti ini merupakan cucu Isma’il Ibn Ja’far al-Shadiq. Sedang Isma’il merupakan Imam Syi’ah yang ketujuh. Dinasti ini didirikan di Tunisia pada 909 M, sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yang terpusat di Baghdad, yaitu Bani Abbasiyah. Setelah kematian Imam Ja’fah al-Shadiq, Syi’ah terpecah menjadi dua buah cabang. Cabang pertama meyakini Musa al-Kazim sebagai imam ketujuh pengganti Imam Ja’far, sedang sebuah cabang lainnya mempercayai Isma’il Ibn Muhammad al-Maktum sebagai Imam Syi’ah yang ketujuh. Cabang Syi’ah kedua ini dinamakan Syi’ah Isma’iliyyah. Syia’ah Ismailiyyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas hingga muncullah Abdullah Ibn Maymun yang membentuk Syi’ah Isma’iliyyah sebagai sebuah sistem gerakan politik keagamaan. Ia berjuang mengorganisir propaganda Syi’ah Isma’iliyyah dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fathimiyyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionari ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syi’ah Isma’iliyyah. Kegiatan ini menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fathimiyah di Afrika dan kemudian berpindah ke Mesir. Sebelum kematian Abdullah Ibn Maymun pada tahun 874 M, ia menunjuk pengikutnya yang paling bersemangat yakni Abu Abdullah al-Husayn sebagai pimpinan gerakan Syi’ah Isma’iliyyah. Ia adalah orang Yaman asli, dan sampai dengan abad kesembilan ia mengkalim diri sebagai wakil al-Mahdi. Ia menyeberang ke Afrika Utara, dan berkat propagandanya yang bersemangat ia berhasil menarik simpatisan suku Berber, khususnya dari kalangan suku Kithamah menjadi pengikut setia gerakan ahli bait ini. Pada saat itu penguasa Afrika Utara, yakni Ibrahim Ibn Muhammad, berusaha menekan gerakan Isma’iliyyah ini, namun usahanya sia-sia. Ziyadatullah Putra dan sekaligus pengganti Ibrahim Ibn Muhamad tidak berhasil menekan gerakan ini. Setelah berhasil menegakkan pengaruhnya di Afrika Utara, Abu Abdullah al-Husayn menulis surat kepada Imam Isma’iliyyah yakni Sa’id Ibn HUsayn al-Salamiyah agar segera berangkat ke Afrika Utara untuk menggantikan kedudukannya sebagai pimpjnan tertinggi gerakan Isma’iliyah. Sa’id mengabulkan undangan tersebut, dan ia memproklamirkan dirinya sebagai putra Muhammad al-Habib, seorang cucu Imam Isma’il. Setelah berhasil merebut kekuatan Ziyadatullah, ia memproklamirkan dirinya sebagai pimpinan tertinggi gerakan Isma’iliyyah. Selanjutnya gerakan ini berhasil menduduki Tunis, pusat pemerintahan dinasti Aghlabi, pada tahun 909 M, dan sekaligus mengusir penguasa Aghlabi yang terakhir yakni Ziyadatullah. Sa’id kemudian memproklamirkan diri sebagai imam dengan gelar “Ubaydullah al-Mahdi”. Dengan demikian terbentuklah pemerintahan dinasti Fathimiyah di Afrika Utara dengan al-Mahdi sebagai khalifah pertama dari Dinasti Fathimiyah yang bertempat di Raqpodah daerah Al-Qayrawan..
B. PARA PENGUASA DINASTI FATHIMIYAH 1. Al-Mahdi (297-323 H/909-934 M) Al-Mahdi merupakan penguasa fathimiyyah yang cakap. Dua tahun semenjak penobatannya, ia menghukum mati pimpinan propagandanya yakni Abu Abdullah al-Husayn karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya yang bernama Abul Abbas untuk melancarkan perebutan jabatan khalifah. Dari basis mereka di Ifrikiyah, mereka segera mengumpulkan berbagai perlengkapan dan kekayaan untuk memperluas daerah kekuasannya ke seluruh Afrika yang terbentang dari perbatasan Mesir sampai dengan wilayah Fes di Maroko. Pada tahun 914 ia menduduki wilayah Alexandria. Kota-kota lainnya seperti Malta, Syiria, Sardinia, Corsica dan sejumlah kota lain jatuh kedalam kekuasaannya. Pada tahun 920 khalifah al-Mahdi mendirikan kota baru di pantai Tunisia dan menjadikannya sebagai ibukota Fathimiyyah. Kota ini dinamakan kota Mahdiniyah. Al-Mahdi ingin menalukan Spanyol dari kekuasaan Umayyah, oleh karena itu ia menerima hubungan persahabatan dan kerjasama dengan Muhammad ibn Hafsun,pimpinan gerakan pemberontakan di Spanyol. namun ambisinya ini belum tercapai sampai ia meninggal dunia pada tahun 934 M.
2. Al-Qaim (323-335 H/934-949 M) Al-Mahdi digantikan oleh putranya yang tertua yang bernama Abul Qasim dan bergelar al-Qaim. Ia meneruskan gerakan ekspansiyang telah dimulai oleh ayahnya. Pada tahun 934 M, ia menggerakan pasukan dalam jumlah banyak kedaerah selatan pantai Prancis. Pasukan ini berhasil menduduki Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria. Mereka melancarkan pembunuhan, penyiksaan, pembakaran kapal-kapal, dan merampas budak-budak.pada saat yang sama ia juga mengerahkan pasukannya ke Mesir, namun pasukan ini berhasil dikalahkan oleh Dinasti Ihsidiyah, sehingga mereka terusir dari Alexandria. di tengah kesuksesannya dalam ekspansi, al-Qaim mendapat perlawanan dari kalangan khawarij yang melancarkan pemberontakan dibawah pimpinan Abu Yazid makad. Berkali-kali gerakan pemberontak ini mampu menahan serangan pasukan Fathimiyyah dalam peperangan yang berlangsung hampir tujuh tahun. Al-Qaim merupakan prajurit pemberani. Hampir setiap ekspedisi militer dipimpinnya secara langsung. Ia merupakan khalifah Fathimiyyah pertama yang menguasai laut tengah. Ia meninggal pada tahun 946 M, ketika itu sedang terjadi pemberontakan di Susa yang dipimpin oleh Abu Yazid. Al-Qaim digantikan oleh putranya yang bernama al-Manshur. Al-Manshur (946-952 M) adalah pemuda yang sangat lincah. Ia berhasil menghancurkan kekuatan Abu Yazid. Meskipun putra Abu Yazid dan sejumlah pengikut setianya senantiasa menimbulkan keributan, Namun seluruh wilayah Afrika pada saat ini tunduk kepada kekhalifahan Bani Fathimiyyah. Al-Manshur membangun sebuah kota yang sangat megah di wilayah perbatasan Susa yang dinamakan kota al-Manshuriyah. 4. Al-Mu’izz (341-352 H/952-975 M) Ketika al-Manshur meninggal, putranya yang bernama Abu Tamim Ma’ad menggantikan kedudukannya sebagai khalifah dengan bergelar Mu’izz. Penobatan Mu’izz sebagai khalifah keempat menandai era baru dinasti Fathimiyah. Banyak keberhasilan yang dicapainya. Pertama kali ia menetapkan untuk mengadakan peninjauan ke seluruh penjuru wilayah kekuasaanya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya ia menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh demi terciptanya keadilan dan kemakmuran. Ia menghadapi gerakan pemberontakan secara tuntas hingga mereka bersedia tunduk ke dalam kekuasan Mu’izz. Ia menempuh kebijakan damai terhadap para pimpinan dan gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada mereka yang menunjukkan loyalitasnya. Maka dalam tempo singkat, masyarakat seluruh negeri mengenyam kehidupan yang damai dan makmur. Setelah berhasil dalam program konsolidasi, Mu’izz mengerahkan perhatiannya pada program ekspansi kekuasaan. Ketika itu, di Spanyol sedang terjadi permusuhan antara Abdur Rahman III dengan penguasa Frangka, maka Mu’izz memanfaatkan kesempatan ini dengan mengerahkan ekspedisi militer ke Maroko dengan pimpinan Jauhar. Gubernur Umayyah gagal mempertahankan wilayah ini sehingga Maroko diduduki pasukan Muizz. Penaklukan atas Maroko ini menimbulkan permusuhan yang berkepanjangan antara dua pemerintahan muslim: Umayyah Spanyol dengan Fathimiyyah. Beberapa tahun kemudian Maroko dapat direbut kembali oleh pasukan Abdur Rahman III. Pihak Fathimiyyah kemudian melancarkan serangan ke wilayah pantai Spanyol di bawah pimpinan Hasan Ibn Ali. Abu Rahman membalas serangan ini dengan mengepung dan menghancurkan wilayah perbatasan Susa’. Pihak Romawi memanfaatkan kondisi ini dengan menyerbu Creta dan berhasil mendudukinya pada tahun 967 M. Maka semenjak tahun ini Creta yang diduduki umat Islam semenjak khalifah al-Makmun menjadi lepas. “Setelah Creta lepas, pasukan Islam berusaha membalas dengan menghancurkan kekuatan Bizantine di Sicilia”, ungkap Ameer Ali. Panglima perang Ahmad Ibn Hasan berhasil menaklukannya, dan menjadikan seluruh wilayah Sicilia ini sebagai wilayah kekuatan Fathimiyah. Sebuah Universitas Kedokteran didirikan di kota Palermo, Sicilia. Universitas ini menandingi kebesaran Universitas Baghdad dan Kordoba. “Penaklukan Mesir merupakan cita-cita terbesar gerakan ekspansi Mu’izz”, kata Lane Poole. Mu’izz telah lama menanti datangnya kesempatan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Maka ketika Mesir dilanda kerusuhan serius pada tahun 968 M, Mu’izz segera memerintahkan Jauhar untuk mengerahkan pasukan penakluk Mesir. Pada tahun 969 M, Jauhar berhasil menduduki Fusthat tanpa suatu perlawanan. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan dinasti Ikhsidiyah di Mesir dan Mesir memasuki era baru di bawah pemerintahan Fathimiyyah. Jauhar segera membangun kota Fusthat menjadi kota baru dengan nama Qahiroh (Kairo). Semenjak tahun 973 kota ini dijadikan sebagai ibukota pemerintahan Fathimiyyah. Selanjutnya Mu’izz mendirikan Mesjid al-Azhar. Mesjid ini oleh khalifah al-Aziz dijadikan sebagai akademi al-Azhar. Universitas al-Azhar yang berkembang di masa sekarang ini bermula dari akademi ini. Mu’izz yang selama ini bertahan di Afrika segera berpindah ke Mesir pada tahun 973 M, dan kedatangannya disambut baik oleh seluruh rakyat Mesir. Bahkan masyarakat Syria dan Hijaz juga mengakui pemerintahannya yang berpusat di Mesir. Kelompok Caramitha di Syria yang telah dikalahkan oleh pasukan Fathimiyyah di dekat Fusthat senantiasa memendam permusuhan terhadap pemerintahan Muslim. Ketika mereka menyerbu wilayah Mesir, khalifah Mu’izz berhasil menghancurkannya dalam peperangan di Ainusy Syams (Helopoles). Setelah merasa aman dari ancaman pihak musuh, Mu’izz mencurahkan perhatiannya untuk menciptakan kedamaian dan kemajuan imperiumnya. Mu’izz membenahi sistem pemerintahannya dengan membagi wilayah provinsi menjadi sejumlah distrik dan mempercayakannya kepada pejabat-pejabat yang cakap. Ia juga menertibkan bidang kemiliteran. Industri dan pedragangan mengalami kemajuan pesat selama masa ini. Dua tahun di Mesir, ia telah banyak melancarkan gerakan pembaharuan. Ia menunjuk pemeluk Yahudi yang bernama Ibn Killis dan ‘Asyuq sebagai pejabat pengumpul pajak pertanahan. Jabatan ini memiliki kekuasaan dan gaji yang besar untuk menangani seluruh sektor perpajakan. Keduanya berhasil menjalankan tuga sini sehingga pendapatan negara mengalami peningkatan pesat. Khalifah Mu’izz meninggal pada tahun 975 M, setelah memerintah selama 23 tahun. Ia merupakan Khalifah Fathimiyyah yang terbesar. Ia adalah pendiri dinasti Fathimiyyah di Mesir. Seluruh kerusuhan dan pemberontakan dapat diatasinya, sehingga rakyat merasa damai dan nyaman dalam pemerintahannya. Kecakapannya sebagai negarawan terbukti oleh perubahan Fathimiyyah sebagai dinasti kecil menjadi imperium besar. Menurut Ameer Ali, “ketenaran Mu’izz dalam bidang pendidikan dan pengetahuan sebanding dengan Khalifah al-Makmun”, yang berhasil membawa kemakmuran dan kemajuan peradaban Afrika Utara. Mu’izz bukan saja orang berpendidikan tinggi tetapi pandai di bidang syair dan kesusastraan Arab. Ia menguasai beberapa bahasa, dan fasih berpidato. Sejarawan menggambarkan pribadinya sebagai penguasa bijak, enerjik, ramah, dan ilmuan yang menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat.
4. Al-Aziz (365-386 H/975-996 M)
Al-Aziz mengantikan kedudukan ayahnya, Mu’izz. Ia dicatat sebagai Khalifah Fathimiyyah yang paling bijaksana dan pemurah. Kedamaian yang berlangsung pada masanya ini ditandai ini dengan kesejahteraan seluruh warga, baik muslim maupun nonmuslim. Kemajuan Imperium Fathimiyyah mencapai puncaknya pada masa pemerintahan ini. Luas kekuasaan imperium membentang dari wilayah Euprat sampai dengan Atlantik. Imperium ini mengungguli kebesaran Abbasiyah di Bagdad yang sedang dalam kemundurannya di bawah kekuasaan Buwaihiyah, Azzad al-Daulat, terjalin hubungan persahabatan dengan saling mengirimkan duta masing-masing.
Pembangunan fisik dan seni arsitektur merupakan lambing kemajuan pada masa ini. Bangunan megah banyak didirikan di kota Kairo seperti the Golden Palace, the Pearl Pavillion, dan Mesjid Karafa. Ia adalah seorang penyair dan tokoh pendidikan. Mesjid al-Azhar diresmikan olehnya sebagai sebuah akademi.
Khalifah al-Aziz terkenal sangat pemurah, bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Seorang Syria yang bernama Iftikin yang berusaha melawannya setelah berhasil dikalahkan, ia tidak saja memberinya maaf melainkan juga memberinya jabatan tinggi. Umat Kristen mendapat perlakuan yang baik selama masa ini, bahkan al-Aziz berkenan mengangkat seorang wazir Kristen yang bernama Isa Ibn Natsur. Pendeta Ibrahim menerima penghormatan yang tinggi di kalangan istana, dan sang pendeta diizinkan mendirikan gereja di luar kota Fusthat. Manasah, seorang pengikut Yahudi, juga mendapatkan kedudukan tinggi di istana al-Aziz. Sikap al-Aziz yang begitu baik terhadap tokoh-tokoh nonmuslim mendapat perlawanan dari pihak muslim, namun ia segera dapat mengamankan gejolak ini. Berkat bantuan tokoh-tokoh nonmuslim ini tercapailah kedamaian dan kerukunan antara pemeluk agama di Mesir.
Salah satu kebijakan al_aziz yang membawa akibat yang cukup fatal adalah penarikan orang Turki dan Negro sebagai basis pasukan militer. Hal ini dimaksudkan untuk menandingi kekuatan Berber. Ketika kelompok Berber mulai menguasai jajaran militer, terjadilah persaingan antar ras di tubuh militer Fathimiyyah yang pada gilirannya turut menyokong kemunduran Fathimiyyah. Pada masa-masa belakangan militer Turki semakin besar kekuatannya dan ketika kekuatan Fathimiyyah mulai melemah, unsur-unsur militer mendirikan dinasti-dinasti yang merdeka.
Al-Aziz meninggal pada tahun 386 H/996 M, dan bersamaan dengan ini berakhirlah kejayaan dinasti Fathimiyyah.
5. Al-Hakim (386-412 H/996-1021 M)
Sepeninggal al-Aziz Khalifah Fathimiyyah dijabat oleh anaknya yang bernama Abu al-Manshur al-Hakim. Ketika naik tahta ia baru berumur sebelas tahun. Selama tahun-tahun pertama al-Hakim berada di bawah pengaruh seorang gubernurnya yang bernama Barjawan. Barjawan terlibat konflik dengan panglima militer Ibn Ammar. Setelah berhasil menyingkirkan sang panglima, Barjawan menjadi pelaku utama pemerintahan al-Hakim. Di kemudian hari al-Hakim mengambil tindakan menghukum bunuh terhadap Barjawan lantaran penyalahgunaan kekuasaan negara.
Pemerintahan al-Hakim ditandai dengan sejumlah kekejaman. Ia menghukum bunuh pejabat-pejabat yang cakap tanpa alasan yang jelas. Dalam sepuluh tahun pemerintahan, umat Yahudi dan Nasrani merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga Negara sehingga timbul perlawanan dari mereka. Al-Hakim segera mengeluarkan maklumat umum menghancurkan seluruh gereja Kristen di Mesir dan menyita tanah serta harta kekayaan mereka. Ibn Abdun, seorang menteri sekretariat Negara yang beragama Kristen, dipaksa menandatangani maklumat tersebut. Umat Kristen dipaksa memilih tiga alternative: menjadi muslim, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung dengan salib raksasa sebagai simbol kehancuran mereka.
Al-Hakim merupakan pribadi muslim yang taat. Ia adalah pendiri sebuah tempat pemujaan suku aliran Druz di Libanon, yang masih ada sampai sekarang ini. Aliran ini menganggapnya sebagai reinkarnasi Tuhan. Ia mendirikan sejumlah mesjid, perguruan, dan pusat observatori di Syria. Diantara mesjid yang dibangunnya terdapat sebuah mesjid yang menjadi lambang kemajuan arsitektur dan akan selalu mengingatkan namanya. Pada tahun 10?6 ia merampungkan pembangunan Darr al-Hikmah (gedung pusat ilmu pengetahuan) sebagai sarana penyebaran teologi Syi’ah sekaligus untuk kemajuan kegiatan pengajaran.
Darr al-Hikmah ini dilengkapi dengan sebuah perpustakaan besar dan berada di dekat istana kerajaan. Gedung ini terbuka untuk umum. Tamu negara selalu menyempatkan diri mengunjungi gedung ini. Di tempat inilah para penuls dan pemikir berkumpul.
6. Al-Zahir (412-426 H/1021-1036 M)
Al-Hakim digantikan oleh putranya yang bernama Abu Hasyim Ali dengan gelar al-Zahir. Ia naik tahta pada usia 16 tahun, sehingga pusat kekuasaan dipegang oleh bibinya yang bernama Siti al-Mulk. Sepeninggal sang bibi, al-Zahir menjadi raja boneka di tangan menteri-menterinya. Pada masa pemerintahan ini rakyat menderita kekurangan bahan makanan dan harga barang yang tidak terjangkau. Kondisi ini disebabkan terjadinya musibah banjir terus-menerus.
Peristiwa yang paling terkenang pada masa ini adalah penyelesaian persengketaan keagamaan pada tahun 1025 M di mana tokoh-tokoh mazhab Malikiyah diusir dari Mesir. Sekalipun demikian, secara umum al-Zahir cukup toleran terhadap kelompok Sunni. Ia bersedia membuat perjanjian dengan kaisar Romawi yakni Constantine VIII. Sang kaisar diizinkan membangun kembali gereja Jerussalem yang roboh akibat kerusuhan yang terjadi di sana. Sang khalifah terjangkit pola kehidupan santai dan banyak menikah. Ia meninggal pada bulan Juni 1036 M, setelah memerintah selama 16 tahun.
7. Al-Mustansir (427-487 H/1036-1095 M)
Al-Zahir digantikan oleh anaknya yang bernama Abu Tamim Ma’ad yang bergelar al-Mustansir, pemerintahannya selama 61 tahun merupakan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Islam. Masa awal pemerintahannya berada sepenuhnya di tangan ibunya, lantaran ketika dinobatkan sebagai khalifah ia baru berusia 7 tahun. Pada masa ini kekuasaan Fathimiyyah mengalami kemunduran secara drastis. Beberapa kali perebutan jabatan perdana menteri turut memperlemah ketahanan imperium, disamping terjadinya sejumlah pemberontakan dan peperangan selama pemerintahan ini.
Raja muda Zarida di Afrika yang bernama Mu’izz Ibn Badis melemparkan penghinaan kepada dinasti Fathimiyyah dengan tidak menyebut nama Khalifah Fathimiyyah dalam khutbah Jum’atnya, melainkan ia menggantikan dengan menyebut nama Khalifah Abbasiyah. Namun al-Mustansir tidak tertarik untuk memerangi Mu’izz Ibn Badis di Afrika. Sang khalifah lebih tertarik dengan pemberontakan al-Bassasiri terhadap pemerintahan Abbasiyah dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Asia Barat setelah Tughril menegakkan kekuasaan Abbasiyah di wilayah ini.
Mesir dilanda permusuhan antara militer Negro dengan militer Turki. Permusuhan ini semakin kritis sehingga berkobarlah peperangan. Pihak militer Turki dengan panglima Nasir berhasil menduduki kota Kairo pada tahun 1068 M dengan menghancurkan istana kekhalifahan. Sungguh peperangan terus-menerus antara dua kubu militer ini sangat membahayakan imperium Fathimiyyah. Selanjutnya, musibah paceklik berlangsung sedikitnya 7 tahun sehingga menghabiskan cadangan perekonomian negara. Sedemikian parah musibah paceklik ini sehingga manusia saling memakan satu sama lainnya. Daging manusia dijual secara bebas. Setelah masa paceklik ini berakhir, Mesir diserang wabah penyakit. Gadis-gadis kalangan atas terpaksa menjual perhiasan dan pakaian mereka untuk dibelikan makanan hingga mereka turun ke jalan tanpa perhiasan dan bahkan tanpa pakaian yang pantas. Untuk mengatasi musibah ini, Khalifah al-Mustansir meminta bantuan gubernur Acre yang bernama Badr al-Jamali. Sang gubernur berkenan memberikan bantuan sehingga wabah ini dapat teratasi.
Di masa yang suram ini, hanya ada seberkas cahaya terang dari kesuksesan sementara yang dicapai di Baghdad oleh seorang panglima dan penakluk Turki yaitu al-Basasiri (w. 1060), yang berkat keberhasilannya itu, nama khalifah Mesir disebutkan selama empat puluh Jumat berturut-turut di masjid-masjid Baghdad. Kota Wasit dan Bashrah mengikuti Baghdad. Kain sorban khalifah Abbasiyah, yaitu al-Qa’im yang bahkan menyerahkan semua hak kekhalifahannya kepada lawannya dari Dinasti Fatimiyah-jubah Nabi, dan sebuah jendela yang indah dari istananya, dibawa ke Kairo sebagai hadiah. Sorban, jubah dan dokumen-dokumen penyerahan dikembalikan ke Baghdad sekitar satu abad kemudian oleh Shalah al-Din, tapi jendela rampasan itu digunakan di salah satu istana hingga Sultan Baybar al-Jasynakir dari Dinasti Mamluk menggunakannya untuk menghiasi kuburan, temapt ia dimakamkan pada 1309.
Sejak masa kekuasaan Ma’add al-Muntashir kekacauan terjadi di mana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi diantara orang-orang Turki, suku Berber dan pasukan Sudan. Kekuasaan Negara lumpuh. Kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara. Di tengah kerisauannya, pada 1073 khalifah memanggil seorang Armenia Badr al-Jamali, seorang bekas budak, dari pasukan kegubernuran Akka, dan memberinya wewenang untuk bertindak sebagai wazir dan panglima tertinggi. Amir al-Juyusyi yang baru ini mengambil komando dengan segenap kekuatan yang ia punya untuk memadamkan berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada rezim Fatimiyah. Tapi keadaan ini tidak berlangsung lama. Usaha Badr maupun anak dan penerus al-Mustanshir yaitu al_malik al Afdhal, yang naik tahta setelah ayahnya meninggal pada 1094, tidak dapat menahan kemunduran dinasti ini.
Tahun-tahun terakhir kekuasaan Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Ketika al-Mustanshir mati, al-Malik al-Afdhal menempatkan anak khalifah paling muda sebagai khlaifah dengan julukan al-Musta’li dengan harapan bahwa ia akan memerintah di bawah pengaruhnya.
8. Al-Musta’li (487-495 H/1095-1101 M)
Putra termuda al-Mustansir yang bergelar al-Musta’li menduduki tahta khalifah sepeninggal sang ayah. Nizar, putra al-Mustansir yang tertua menentang penobatan adiknya. Ia segera bangkit di Alexandria setelah memecat gubernur wilayah ini, namun satu tahun kemudian ia dapat dipaksa menyerah.
Al-Musta’li setelah meninggal, anaknya yang masih hijau yang bernama al-Amir Manshur (1101-1130 M) dengan gelar al-Amir dinobatkan sebagai khalifah oleh al-Afzal. Afzal merupakan perdana menteri yang berkuasa secara absolut selama 20 tahun masa pemerintahan al-Amir. Ia merupakan raja Mesir yang sesungguhnya selama hampir 50 tahun. Berkat keluwesan dan keadilannya, Mesir menjadi cukup tenang dan makmur. Afzal tetap memegang kekuasaan terbesar sekalipun Khalifah al-Amir telah dewasa.
Setelah al-Amir menjadi korban pembunuhan politik, kemenakannya yang bernama al-Hafiz (1130-1149 M) memproklamirkan diri sebagai khalifah. Pemerintahan al-Hafiz ini diwarnai dengan perpecahan antarunsur kemiliteran. Anaknya, Abul Manshur Ismail dengan gelar al-Zafir (1149-1154 M), menggantikan kedudukannya setelah kematian al-Hafiz. Ia adalah pemuda 17 tahun yang tampan dan sembrono yang lebih memikirkan urusan perempuan dan musik daripada urusan politik dan pertahanan. Segala urusan negara dijalankan oleh perdana menteri yang bernama Abul Hassan Ibn al-Salar, sehingga sang khalifah hanya sekedar sebagai simbol belaka. Al-Zafir meninggal pada tahun 1154 M, terbunuh oleh Nasir Ibn Abbas.
Anak al-Zafir yang masih balita menggantikan kedudukan ayahnya dengan bergelar al-Faiz (1154-1160 M). Ia keburu meninggal dunia sebelum dewasa dan digantikan oleh kemenakannya al-Azid (1160-1171 M). Sewaktu naik tahta sang khalifah berusia 9 tahun. Ia merupakan Khalifah Fathimiyyah yang keempat belas dan mengakhiri masa pemerintahan Fathimiyyah selama lebih kurang dua setengah abad. Al-Azid berjuang keras untuk menegakkan kedudukannya dari serangan raja Jerussalem yang pada saat itu telah berada di gerbang kota Kairo. Dalam kondisi yang sempoyongan datang Sultan Salahuddin, pejuang dalam perang salib. Sultan Salahuddin menurunkan Khalifah Fathimiyyah terakhir ini yakni al-Azid pada tahun 1171 M. Dengan demikian dinasti Fathimiyyah yang didirikan oleh Ubaydullah al-Mahdi ini berakhir.
C. MASA KEMAJUAN DAN KONTRIBUSI DINASTI FATIMIYAH TERHADAP PERADABAN ISLAM
Sumbangan Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam sangat besar, baik dalam sistem pemerintahan maupun dalam bidang keilmuan. Kemajuan yang terlihat pada masa Dinasti Fathimiyah di antaranya sebagai berikut. Administrasi Periode Dinasti Fathimiyyah menandai era baru sejarah bangsa Mesir. Sebagian Khalifah dinasti ini adalah pejuang-pejuang dan penguasa besar yang berhasil menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran di Mesir. Administrasi kepemerintahan Fathimiyyah secara garis besarnya tidak berbeda dengan administrasi Dinasti Abbasiyah, sekalipun pada masa ini muncul beberapa jabatan yang berbeda. Khalifah menjabat sebagai kepala negara yang baik dalam urusan keduniawian maupun urusan spiritual. Ia berwenang mengangkat dan sekaligus menghentikan jabatan-jabatan dibawahnya. Kementrian Negara (Wazir) terbagi menjadi dua kelompok : Pertama : orang-orang ahli pedang (militer) Kedua : orang-orang ahli Pena (sipil) Kelompok pertama menduduki urusan militer dan keamanan istana serta pengawal pribadi sang Khalifah. Sedang kelompok kedua menduduki beberapa jabatan kementerian sebagai berikut : 1. Qadi, yang berfungsi sebagai hakim dan direktur percetakan uang; 2. Ketua dakwah, yaitu pejabat pendidikan sekaligus sebagai pengelola lembaga ilmu pengetahuan atau Darr al-Hikmah; 3. Inspektor pasar yang bertugas menertibkan pasar dan jalan serta pengawasan timbangan dan ukuran; 4. Bendaharawan Negara atau pejabat keuangan yang menangani segala urusan keuangan Negara (baitul mal); 5. Regu pembantu istana & wakil kepala urusan rumah tangga khalifah 6. Qori, yaitu petugas pembaca Al-Qur’an bagi khalifah kapan saja dibutuhkan. Tingkat terendah kelompok “ahli pena” terdiri kelompok pegawai negeri yang terdiri petugas penjaga dan juru tulis dalam berbagai departemen.
Diluar jabatan istana diatas, terdapat jabatan-jabatan tingkat daerah yang meliputi tiga daerah: Mesir, Syria dan daerah-daerah di Asia kecil. Khusus untuk daerah Mesir terdiri empat propinsi, propinsi Mesir bagian atas, Mesir wilayah Timur, Mesir wilayah Barat dan wilayah Alexandria. Segala urusan yang berkaitan dengan daerah dipercayakan pada kepemimpinan penguasa setempat.
Dalam kemiliteran terdapat tiga jabatan pokok 1. Amir yang terdiri pejabat-pejabat tinggi militer dan pengawal; 2. Petugas Keamanan 3. Berbagai resimen Pusat-pusat Armada laut dibangun di Alexandria, Damika, Ascaton, dan beberapa pelabuhan di Syria. Masing-masing dikepalai oleh seorang Admiral tinggi. Tentara Bayaran Kekhalifahan Fatimiyah Dari sekian banyak variasi dan bentuk ilmu militer peninggalan peradaban Islam, salah satunya adalah munculnya fenomena tentara bayaran sebagai penopang utama sebuah pemerintahan. Hal ini terjadi pada Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir. Mereka terpaksa memakai tentara bayaran karena dinasti yang memusatkan pemerintahannya di Mesir ini adalah penganut Syiah Ismailiyah. Padahal waktu itu pengikut syiah adalah kelompok minoritas di Kota itu. Penduduk Mesir sebagian besar menganut Islam suni. Jadi, tentara bayaran oleh Kekhalifahan Fatimiyah dipakai sebagai jalan keluar untuk melanggengkan kekuasaan karena warga Mesir memang tidak suka kepadanya. Selain itu, legiun ini juga dipakai sebagai alat untuk membasmi berbagai pemberontakan. Lalu dari mananakah anggota tentara bayaran itu berasal? Ada dua kelompok besar tentara bayaran milik Kekhalifahan Fatimiyah. Pertama, adalah resimen kulit hitam atau Zawila. Anggota legiun tentara ini direkrut dengan cara membeli dari pasar budak yang pada saat itu banyak bermunculan di Afrika, terutama di pusatnya yang berada di dekat Danau Chad. Kelompok tentara bayaran kedua adalah divisi yang anggotanya berasal dari Eropa Sakalaba atau yang kerap dipanggil dengan sebutan Bangsa Slav. Bangsa ini memang saat itu bernasib sangat malang. Sebagai bangsa termiskin di Eropa Timur, mereka akhirnya harus menjadi budak untuk bertahan hidup. Bahkan, kata slav, yang berarti budak, awalnya merujuk kepada nama bangsa ini. Para penguasa Fatimiyah mendapatkan tenaga militer bangsa Slav dengan cara membeli dari pasar budak yang berada di sekitar wilayah Italia. Sebagai tentara bayaran kemampuan bertempur mereka jelas tak perlu diragukan lagi. Baik bangsa Slav maupun Zawila sudah lama dikenal sebagai bangsa yang jago bertempur. Kekuasaan Fatimiyah ini kemudian memanfaatkan kemampuan tempurnya untuk menaklukan berbagai wilayah, seperti Sisilia (948 M), Mesir (969 M), dan SijilmasaT, serta Fez pada tahun 978 M. Mereka menyerbu tempat itu dengan dukungan kekuatan pasukan bayaran yang jumlahnya cukup besar, yakni mencapai 50 ribu hingga 100 ribu orang. Namun, selain punya kemampuan tempur yang mumpuni, ternyata beberapa orang diantara para legiun bayaran itu ternyata banyak mempunyai kemampuan berpikir yang cukup memadai. Salah seorang diantaranya adalah Jauhar. Dia adalah mantan budak Romawi keturunan Yunani Sisilia. Ketika menaklukan Mesir, seorang Khalifah Fatimiyah, memerintahkan Jauhar (orang barat memanggilnya Jawhar) membangun kota baru, yang diberi nama Kairo (kini ibukota Mesir modern). Batu pertama pembangunan kota itu diletakan sendiri oleh Jauhar. Sedangkan, sebagai puncak restasi dari legiun bayaran ini adalah ketika mereka berhasil menguasai pusat Dinasti Abbbasiyah, yakni kota Baghdad pada tahun 1058 M. Salah satu hasil rampasan perang yang sempat didapatkan sebagai tanda takluk dari penguasa Baghdad saat itu adalah sebuah jubah peninggalan Nabi Muhammad SAW. Kemampuan tempur yang tinggi dari bangsa Slav itu masih bisa dijejaki hingga 900 tahun kemudian. Pada Perang Dunia I dan II, banyak bangsa Slav banyak terlibat dalam perang paling berdarah itu. Tapi berbeda tujuannya dengan dahulu, kini mereka ikut berperang bukan untuk mendapatkan bayaran semata. Mereka terlibat dalam pertempuran dengan tujuan meraih kemerdekaan. Kondisi Sosial Mayoritas khalifah Fatimiyyah bersikap moderat dan penuh perhatian kepada urusan agama non islam. Selama masa ini pemeluk Kristen Mesir diperlakukan secara bijaksana, hanya khalifah al-Hakim yang bersikap agak keras terhadap mereka. Orang-orang Kristen Kopti dan Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan melebihi sikap pemerintahan muslim. Pada masa al-Aziz bahkan mereka lebih diuntungkan daripada umat Islam dimana mereka ditunjuk menduduki jabatan-jabatan tinggi di istana. Demikian pula pada masa al-Mustanshir dan seterusnya, mereka hidup dalam kedamaian dan kemakmuran. Sebagian besar jabatan keuangan dipegang oleh orang-orang Kopti. Pada khalifah generasi akhir, gereja-gereja Kristen banyak yang dipugar, pemeluk Kristen semakin banyak yang diangkat sebagai pegawai pemerintah. Demikianlah semua ini menunjukkan kebijaksanaan penguasa Fatimiyah terhadap umat Kristiani. Mayoritas khalifah Fatimiyyah berpola hidup mewah dan santai. Al-Mustanshir, menurut satu informasi, mendirikan semacam pavilion di istananya, sebagai tempat memuaskan kegemaran meminum arak bersama dengan sejumlah penari rupawan. Salah seorang propaganda Ismailiyah berkebangsaan Persia, Nashir al-Khusraw, yang mengunjungi Mesir pada tahun 1046-1049 M. meninggalkan catatan tentang kehidupan Kairo. Pada saat itu ia mendapatkan kota Kairo sebagai kota makmur dan sentosa. Menurutnya, toko-toko dan perhiasan dan pusat-pusat penukaran uang ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja tanpa dikunci, rakyat menaruh kepercayaan penuh terhadap pemerintahan, jalan-jalan raya diterangi lampu. Penjaga toko menjual barang dengan harga jual yang telah diputuskan dan jika seseorang terbukti melanggar ketentuan harga jual akan dihukum dengan diarak diatas unta sepanjang jalan yang diiringi dengan bunyi-bunyian. Pada sebuah festival (peringatan hari besar) Nashir al-Khusraw menyaksikan khalifah kelihatan sangat mempesona dengan pakaian kebesarannya. Istana khalifah dihuni 30.000 orang, diantara mereka 12.000 orang pembantu, dan 1000 orang pengawal berkuda dan pengawal jalan kaki. Kota Kairo dihiasi dengan masjid, perguruan, rumah sakit, dan perkampungan kafilah. Tempat-tempat pemandian umum yang cukup indah dapat dijumpai diberbagai penjuru kota, baik pemandian khusus untuk laki-laki maupun untuk perempuan. Pasar-pasar yang memuat 20 ribu pertokoan padat dengan produk-produk dari seluruh penjuru dunia. Nashir al-Khusraw sangat takjub atas kesejahteraan dan kemamuran negeri ini,sehingga dengan sangat menarik ia menyatakan “saya tidak sanggup menaksir kesejahteran dan kemakmuran negeri ini, dan saya belum pernah melihat kemakmuran sebagaimana yang terdapat di negeri ini. Perkembangan ilmu pengetahuan , arsitektur dan kesusastraan Sumbangan Dinasti Fathimiyyah dalam kemajuan ilmu pengetahuan tidak sebesar sumbangan Dinasti Abbasiyah di Baghdad dan Umayah di Spanyol. Masa ini kurang produktif menghasilkan karya tulis dan ulama besar kecuali dalam jumlah yang kecil, sekalipun banyak diantara khalifah dan para wazir menaruh perhatian dan penghormatan kepada para ilmuwan dan pujangga. Ibnu Killis merupakan salah seorang wazir Fatimiyah yang sangat memperdulikan bidang pengajaran ia mendirikan sebuah akademi yang memberikan subsidi besar setiap bulan. Pada masa Ibnu Killis ini didalam istana al-Aziz terdapat seorang fisikawan besar yang bernama Muhammad al-Tamimi.al-kindi, sejarawan dan topographer terbesar hidup di Fushat dan meninggal pada tahun 961 M. Pakar terbesar pada masa Fatimiyah adalah Qazdi al-Numan dan beberapa keturunannya yang menduduki jabatan kazi dan keagamaan tertinggi selama 50 tahun semenjak penaklukan Mesir pada masa pemerintahan al-Hakim. Para kazi ini tidak hanya pandai dalam bidag hukum, melainkan juga cakap dalam berbagai disiplin ilmu Beberapa diantara khalifah adalah tokoh pendidikan dan orang yang berperadaban tinggi. Al-Aziz diantara khalifah yang mahir dalam bidang syair dan mecintai kegiatan pengajaran. Kekayaan dan kemakmuran Dinasti Fatimiyyah dan besarnya perhatian para khalifah merupakan faktor pendorong para ilmuwan melakukan penelitian. Istana Al-Hakim dihiasi oleh Ibnu Yunus, pakar terbesar bidang astronomi dan Ibnu Ali Hasan seorang fisikawan muslim terbesar dan ahli di bidang optik. Selain mereka berdua terdapat sejumlah sastrawan dan ilmuan yang berkarya di istana Fatimiyah. Kemajuan keilmuan yang paling fundamental pada masa Fathimiyah ini adalah keberhasilannya membangun sebuah lembaga keilmuan yang disebut daarul hikam atau daarul ilmi yang dibangun oleh Al-Hakim pada 1005 M. Bangunan ini dibangun khusus untuk propaganda doktrin ke-Syiahan. Pada masa ini al-Hakim mengeluarkan dana sebanyak 257 dinar untuk menggandakan manuskrip dan perbaikan buku-buku. Kurikulum yang dikembangkan pada masa ini lebih banyak ke masalah keislaman, astronomi dan kedokteran. Khalifah Fathimiyah mendirikan sejumlah sekolah dan perguruan, mendirikan perpustakaan umum dan lembaga ilmu pengetahuan, sekalipun pada awalnya lembaga ini dimaksudkan sebagai sarana penyebaran dan pengembangan ajaran Syi’ah Isma’iliyyah. Al-Hakim juga besar minatnya dalam penelitian astronomic. Untuk itu ia mendirikan lembaga observatori di bukit al-Mukattam. Lembaga observatori seperti ini juga didirikan dibeberapa tempat lain. Seorang narasumber yang dikutip oleh sejarawan kontemporer, Ibn Hammad, melihat sebuah perangkat yang terbuat dari tembaga menyerupai astrolabe yang didirikan oleh al-Hakim diatas dua menara untuk mengukur tanda-tanda zodiac. Panjang astrolabe itu sekitar tiga jengkal. Istana al-Hakim diterangi kecemerlangan Ali ibn Yunus (w.1009), seorang astronom paling hebat yang pernah dilahirkan Mesir. Juga ada Abu Ali al-Hasan (bahasa latin: Alhazen), ibn al-Haitsam, yang merupakan peletak dasar ilmu fisika dan optic. Tabel Astronomi (zij) ibn Yunus, yang memakai nama khalifahnya, memperbaiki tabel yang dikenal saat itu dengan menggunakan pengamatan asli, dilengkapi bulatan armilar dan lingkaran Azimut. Ibn al-Haitsam (w.1039) yang lahir di Bashrah sekitar tahun 965, mencoba untuk mengatur aliran sungai Nil yang mengalir setiap tahun. Ketika percobaannya gagal, ia berpura-pura gila dan menyembunyikan diri dari kemarahan khalifah sampai khalifah meninggal.
Ia menulis tidak kurang dari seratus karya yang meliputi bidang matematika, astronomi, filsafat dan kedokteran. Karya terbesarnya yang patut dicatat adalah kitab al-Manazhir, mengenai ilmu optic. Edisi asli kitab ini hilang, tetapi sudah diterjemahkan pada masa Gerald dari Cremona atau sebelumnya, dan sudah diterbitkan dalam bahasa Latin pada tahun 1572. Kitab ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu optik pada abad Pertengahan. Hamper semua penulis tentang optik pada abad pertengahan menjadikan karya warisan Alhazen sebagai rujukan utama karya-karya Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Jonathan Kepler. Ini menunjukkan adanya jejak-jejak pengaruh dari kitab itu. Dalam karyanya, Ibn al-Haitsam menentang teori Euclid dan Ptolemeus yang mengatakan bahwa mata mengirimkan cahaya Visual pada objek yang dilihat. Ia juga melakukan percobaan untuk menguji sudut pantulan cahaya. Dalam beberapa percobaan tertentu ia mendekati penemuan teoritis tentang lensa pembesar yang menjadi prototype lensa yang dibuat tiga abad kemudian di Italia.
Karya penting lainnya yang dibuat di Mesir pada masa kekuasaan al-Hakim adalah al-Muntakhah fi ilaj al-Ayn (karya pilihan tentang penyembuhan mata) yang ditulis oleh Ammar ibn Ali al-Maushili. Dalam hal ini, para sejarawan menyatakan bahwa karya ini jauh lebih orinil ketimbang Tadzkirah, karya ibn Isa, ilmuwan lain yang sezaman dengannya. Berkat kelengkapannya, kitab itu menjadi karya standar dalam disiplin penyakit mata, optalmologi. Ammar menjelaskan dasar-dasar operasi katarak yang belum parah dengan mengisapnya melalui lubang pembuluh. Praktik operasi itu merupakan salah satu penemunya. Pada masa al-Mustansir, terdapat perpustakaan yang di dalamnya berisi 200.000 buku dan 2400 illuminated Al-Quran. Ini merupakan bukti besar kontribusi Dinasti Fatimiyah bagi perkembangan budaya Islam. Salah satu koleksi langka perpustakaan ini adalah naskah-naskah hasil karya Ibn Muqlah dan ahli-ahli kaligrafi lainnya; di perpustakaan ini pula al-Aziz menyimpan salinan tulisan tangan untuk buku sejarah karya al-Thabari. Dalam peristiwa perebutan rampasan perang pada tahun 1068, seorang sejawan menyaksikan sekitar 25 ekor unta membawa pergi buku-buku itu. Naskah-naskah yang berharga itu digunakan sebagai bahan bakar untuk membakar rumah-rumah dan kantor-kantor orang Turki, sedangkan bagian sampulnya yang tebal dan mewah digunakan untuk menambal sepatu budak-budak mereka. Pengganti al-Mustanshir membangun kembali perpustakaan. Ketika satu abad kemudian Shalah al-Din menguasai istana kerajaan,perpustakaan itu masih menyimpan sekitar 100.000 jilid buku, sebagian dari buku-buku itu disertai harta rampasan lainnya dibagikan kepada bawahannya. Khalifah Fathimiyyah pada umumnya juga mencintai berbagai seni termasuk seni bangunan (arsitektur). Mereka mempercantik ibukota dan kota-kota lainnya dengan berbagai bangunan megah. Mesjid agung al-Azhar dan mesjid agung al-Hakim menandai kemajuan arsitektur zaman Fathimiyyah. Khalifah juga mendatangkan sejumlah arsitek Romawi untuk membantu menyelesaikan tiga buah gerbang raksasa di Kairo, dan benteng-benteng di wilayah perbatasan dengan Bizantine. Bangunan tua yang masih bertahan hingga kini adalah Masjid al-Azhar yang didirikan oleh Jauhar pada tahun 972. Meskipun sudah pernah dipugar, keaslian bagian tengahnya yang merupakan pusat bangunan ini tetap dipertahankan. Bagian ini dibangun dari batu bata, mengikuti model masjid Ibn Thulun, yang memiliki sudut mihrab, dan secara umum berbeda jauh dengan gaya Persia. Menara masjid ini berbentuk bundar konvensional. Masjid tua selanjutnya adalah masjid al-Hakim yang dibangun oleh ayahnya pada tahun 990 dan selesai sekitar tahun 1012. Masjid ini mengikuti rancangan yang sama dengan masjid al-Azhar, dan mempunyai kopula dari tembok yang menyokong sebuah tambur besar berbentuk segi delapan diatas ruangan shalat. Batu-batu yang digunakan untuk membangun masjid al-Hakim itu saat ini telah runtuh. Karena menaranya tidak berbentuk segi empat, bisa dikatakan bahwa tukang-tukangnya berasal dari Irak barat, bukan dari Suriah. Pilihan untuk menggunakan batu ketimbang batu bata sebagai bahan utama pembangunan tidak efektif hingga periode akhir kekhalifahan Fatimiyah, dan tergambar pada bagian depan Masjid al-Aqmar yang dibangun pada tahun 1125. Bagian depan bangunan ini kemungkinan dirancang oleh beberapa arsitek Kristen dari Armenia. Di Masjid al-Aqmar kita dapat melihat beberapa figure awal, yang kelak menjadi cirri khas arsitektur Islam yaitu ceruk (muqarnas) stalaktit. Tiang masjid ini, dan tiang Masjid al-Ahalih ibn Ruzzik (1160 M) menampilkan desain kaligrafi bergaya kufi kubus dan tegas yang kelak memperbaharui perkembangan kesenian Dinasti Fatimiyah. Gaya-gaya baru itu diperkenalkan oleh arsitek Fatimiyah sebagai cerukan yang dalam dan indahyang dipasang dibagian depan gedung, nampaknya lebih jauh dikembangkan pada masa kekuasaan Dinasti Ayyubiah dan Mamluk. Sama halnya, ukiran-ukiran yang diterakan diatas batu atau kayu menandakan kejayaan karya seni saat itu. Kebiasaan untuk menghubungkan bangunan makam (biasanya makam para pendiri) dengan bangunan masjid yang bermula pada tahun 1085 oleh Badr al-Jamali. Bangunan makam yang menyatu dengan masjid di Mukatam hasil rancangan Badr itu menjadi contoh pertama tradisi itu. Pintu-pintu gerbang besar yang mempertontonkan kemegahan gedung-gedung periode Fatimiyah yang masih bertahan hingga kini ada tiga buah, yaitu : bab Zawilah, bab al-Nashir, dan bab al-Futuh. Pintu-pintu gerbang yang sangat besar di Kairo, yang dibangun oleh arsitek-arsitek Edessa, dengan rancangan ala Bizantium termasuk di antara sebagian jejak kejayaan Fatimiyah di Mesir yang bertahan hingga kini. Di antara harta kekayaan koleksi museum Arab di Kairo, terdapat beberapa papan kayu berukir yang berasal dari zaman Fatimiyah. Papan-papan itu digambari lukisan beberapa makhluk hidup seperti rusa yang diserang oleh monster, kelinci yang di terkam oleh elang, dan beberapa pasang burung yang salin berhadapan. Motif-motif lukisan itu diperkirakan mencontoh gaya sasaniyah. Daya tarik serupa terlihat dalam koleksi perunggu pada periode Fatimiyah, yang kebanyakan berupa cermin atau pedupaan. Koleksi perunggu yang paling terkenal adalah patung griffin, tingginya 40 inci, yang sekarang berada di Pisa. Periode Fatimiyah juga dikenal dengan keindahan produk tekstilnya. Beberapa contohnya ditemukan di Barat yang dibawa kesana pada masa perang Salib. Sedangkan produk tenunan yang berkembang saat itu menjadi produk khas bangsa ini yang bergaya Koptik-Mesir dan kemudian dipengaruhi oleh gaya Iran dan Sasaniyah. Pada produk-produk tekstil periode Fatimiyah kita bisa menemukan motif-motif hewan dengan pose konvensional. Di antara kota-kota Mesir, seperti Dabik, Dimyat, dan Tinnis sangat terkenal dengan produk tekstilnya pada abad pertengahan. Produk-produk itu dinamai sesuai dengan nama masing-masing kota, seperti dabiki, dimyati dan tinnisi. Pakaian yang pada zaman Chauser dikenal dengan sebutan Fustian berasal dari kota Fusthat, sebagaimana diindikasikan oleh namanya. Seni keramik pada masa Fatimiyah mengikuti pola-pola Iran seperti halnya bidang-bidang seni yang lain. Pola-pola ala Iran itu banyak digunakan dalam produk tekstil dengan motif binatang. Dalam catatannya tentang harta kekayaan peninggalan Fatimiyah, al-Maqrizi mendaftar beberapa contoh seni keramik dan kriya logam, termasuk tembikar yang bergaya Cina. Contoh tersebut merupakan bukti kemunculan pertama keramik ala Cina di wilayah Arab Timur. Nashir-i-Khusraw menegaskan bahwa orang-orang Mesir membuat produk keramik menjadi “sangat bagus dan menakjubkan, sehingga seseorang bila melihat tangan orang lain melaluinya”. Seni penjilidan buku di dunia Islam yang paling pertama dikenal datang dari Mesir sekitar abad kedelapan atau Sembilan. Teknik dan dekorasi yang mereka miliki bersanding indah dengan daya tarik seni penjilidan Koptik yang lebih dulu muncul, dan yang nyata-nyata menjadi patokan keahlian menjilid. Setelah mazhab Mesir dalam seni penjilidan berkembang, teknik menghiasi sampul buku dengan alat dan stempel menjadi teknik yang banyak dipakai oleh para perajin yang menggunakan kulit. Filsafat Dalam menyebarkan tentang ke-Syiah-annya, Dinasti Fathimiyah banyak menggunakan filsafat Yunani yang mereka kembangkan dari pendapat-pendapat Plato, Aristoteles dan ahli-ahli filsafat lainnya. Kelompok ahli filsafat yang paling terkenal pada masa Dinasti Fathimiyah ini adalah ikhwanu Shofa. Dalam filsafatnya, kelompok inilah yang mampu menyempurnakan pemikiran-pemikiran yang telah dikembangkan oleh golongan Mu’tazillah terutama dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan ilmu, agama, pengembangan syariah dan filsafat Yunani. Beberapa tokoh filsuf yang muncul pada masa Fathimiyah ini diantaranya sebagai berikut. a. Abu Hatim Ar-Rozi. Ia adalah seorang da’I Ismailiyat yang pemikirannya lebih banyak dalam masalah politik. Abu Hatim menulis beberapa buku di antaranya Kitab Azzayinah yang terdiri dari 1200 halaman. Di dalamnya banyak membahas masalah fiqih, filsafat dan alran-aliran dalam agama. b. Abu Abdillah An-Nasafi. Ia telah menulis kita al-Mashul. Kitab ini lebih banyak membahas masalah al-Ushul al Madzhab al-Ismaily. Selanjutnya ia menulis kitab Unwanuddin, Ushulusyar’I, Adda’watu Manjiyyah. Kemudian, ia juga telah menulis buku tentang falak dan sifat alam dengan judul Kaunul Alam dan al-Kaunul Mujrof. c. Abu Ya’kub as-Sajazi. Ia merupakan salah seorang penulis yang paling banyak tulisanya, di antaranya: Asasuda, wah, Asyaro’I, Kasyful Asyror, Itsbatun Nubuwah, al-Yanabi, al-Mawazin dan kitab an-Nasyroh. d. Abu Hanifah An-Nu’man Al-Maghribi. Ia menulis kitab Da’aimul Islam al-Yanabu, Mukhtasorul Atsar, Mukhtasorul Idoh, Kaifayatu Sholah, Manhijul Faroid, ar-Risalah Misriyah, ar-Risalah Datal Bayan Dam Ikhtilafu Ushulul Madhabib. e. Ja’far Ibnu Mansur Al-Yamani. Ia menulis kitab A’wiluzakah, Srao’irunnutaqo’I, Asyawahid wal bayan, dan al-Fitrotu wal Qironaati. f. Hamiduddun al-Kirmani. Ia telah menulis kitab Uyunul Akhbar, al-Mashobihu fi Itsbati Imamah. BAB III KESIMPULAN Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn (bahasa Arab الفاطميون) ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari tahun 909 M hingga 1171 M. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi'ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma'iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti. Fatimiyah berasal dari sutu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ("Ifriqiya") namun setelah penaklukan Mesir sekitar 971, ibukotanya dipindahkan ke Kairo. Di masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Di masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa. Fatimiyah didirikan pada 909 oleh Abdullāh al-Mahdī Billa, yang melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Nabi Muhammad dari jalur Fāthimah az-Zahra dan suaminya Alī ibn-Abī-Tālib, (Imām Shī’a pertama). Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fātimiyyūn "Fatimiyah". Dengan cepat kendali Abdullāh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb, wilayah yang kini adalah Maroko, al-Jazair, Tunisia dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibukota yang dibangun di Tunisia. Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhshidiyah dan mendirikan ibukota baru di al-Qāhirat "Sang Penunduk" (Kairo modern)- rujukan pada munculnya planet Mars. Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan. Tak seperti pemerintahan di sama, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islām, seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi'ah. Toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan (pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk "Mad Caliph" Al-Hakim bi-Amrillah). Pada 1040-an, Ziriyah (gubernur Afrika Utara di masa Fatimiyah) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Fatimiyah dan berpindahnya mereka ke Islām Sunnī, yang menimbulkan serangan Banū Hilal yang menghancurkan. Setelah 1070, Fatimiyah mengendalikan pesisir Syam dan bagian Suriah terkena serangan bangsa Turki, kemudian Pasukan Salib, sehingga wilayah Fatimiyah menyempit sampai hanya meliputi Mesir. Setelah terjadi pembusukan sistem politik Fatimiyah pada 1160-an, penguasa Zengid Nūr ad-Dīn memerintahkan jenderalnya, Salahuddin Ayyubi, menaklukkan Mesir pada 1169, membentuk Dinasti Ayyubi Sunni. Maka berakhirlah kekuasaan Syiah Ismailiyah, dalam hal ini Dinasti FAtimiyah dari kawasan Mesir.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku : • Asari, Hasan. 1994. Menyingkap Zaman Keemasan Islam : Kajian Atas Lembaga-Lembaga Pendidikan. Bandung : Mizan • Ali, K. 2003. Sejarah Islam : Tarikh Pramodern. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada • Hitti, Philip K. 2006. History Of The Arabs. Jakarta: Serambi • Hitti, Philip K. t.t. Dunia Arab. Bandung: Sumur Bandung • Israr, C. 1955. Sedjarah Kesenian Islam. Djakarta : PT Pembangunan • Poeradisastra, S.I. 2008. Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern. Depok : Komunitas Bambu • Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sumber Internet : • http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Fatimiyah (15 Maret 2009) • http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=329500&kat_id=177 (15 Maret 2009)