Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Aplikasi Teknologi Kebencanaan
Dilihat dari letak Geografis dan karakteristik wilayahnya, Indonesia memiliki banyak keuntungan. Terutama di bidang ekonomi dengan pengoptimalan pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Namun di sisi lain Indonesia yang memiliki ribuan pulau ternyata memiliki banyak kerugian, salah satu yang dapat dirasakan dampak karakteristik geografis tanah air kita adalah Indonesia menjadi rawan akan bencana alam. Puluhan gunung berapi di Indonesia yang tersebar di pulau jawa dan sumatera, lempengan Asia dan Australia yang berada di selatan pulau jawa, lempengan yang ada di barat pulau Sumatera dan rendahnya daratan utara pulau jawa merupakan sederet karakteristik yang berpotensi menimbulkan bencana. Meletusnya gunung Krakatau pada 1883, Tsunami Aceh tahun 2004, Gempa Jogja, bahkan tahun 2010 ini, Indonesia diguncang dengan Banjir bandang di Wasior, Papua Barat, Tsunami di Mentawai, dan Erupsi gunung Merapi di Jogja dan sekitarnya.
Perkembangan teknologi saat ini sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Pengaruh yang besar dan pasti ditemui dalam setiap gerak manusia. Human always move on technology. Untuk berpindah dari satu tempat ketempat manusia membutuhkan teknologi. Sejauh mata memandang pasti ditemukan adanya teknologi. Namun dibalik manfaatnya yang luar biasa tersimpan bencana yang setiap waktu siap menyambut.
Padahal, jika dimonitoring dengan baik sejak awalnya bencana yang diakibatkan dapat menelan korban jiwa serta menyebabkan pencemaran udara, tanah dan air, dan lagi kerusakan bangunan. Hal yang lebih luar biasa adalah bencana yang dapat ditimbulkan pada skala yang besar dapat mengancam kestabilan ekologi secara global. Dikelompokkan ada 3 macam bencana yang berpotensi di Indonesia, yaitu bencana alam seperti gempa bumi, bencana non alam seperti kebakaran hutan yang disebabkan oleh manusia, dan bencana sosial seperti kerusuhan atau konflik sosial yang terdapat dalam dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Teknologi Pra-Bencana adalah teknologi untuk mencegah bencana. Jika bencana tak dapat dicegah paling tidak meminimalkan dampaknya. Pencegahan bencana dilakukan dengan membuat konstruksi anti bencana, seperti : tanggul-waduk-kanal lengkap dengan sistem pompa dan pintu air untuk mencegah banjir, rumah panggung tahan banjir; konstruksi gedung tahan gempa; konstruksi atap tahan badai. Alat-alat pemantau bencana (seismometer, sensor gas, sensor cuaca, hingga satelit pemantau). Dengan terhubung pada komputer dan jejaring komunikasi, tercipta sistem peringatan dini meningkatkan kesiagaan (early warning system).
Teknologi saat bencana adalah teknologi untuk tanggap darurat. Ketika infrastruktur lumpuh, diperlukan teknologi untuk menolong kehidupan sebanyak mungkin korban bencana. Teknologi ini mulai dari alat komunikasi darurat, genset untuk menghasilkan listrik sementara, perahu karet, perahu tempel (mengubah motor jadi perahu), dan alat penjernih air.
Teknologi pasca bencana adalah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Diperlukan teknologi pemetaan cepat untuk menghitung ukuran dan sebaran bencana.Di Indonesia memang sering terjadi musibah. Namun musibah-musibah itu dapat kita cegah, atau setidaknya diminimalkan dampaknya, dan kalau masih juga terjadi, dapat kita tarik hikmahnya. Sisi positif yang terdapat dalam teknologi janganlah setiap kali menjadi tujuan utama. Tanpa memperhatikan aspek negatif yang akan timbul, dalam melakukan sesuatu pikirkan bagaimana langkah kita selanjutnya. Fokus pada masalah tidak akan menemukan jalan keluarnya tetapi temukan sisi lain dari masalah tersebut dan masalah akan selesai.
Perkembangan Teknologi Informasi
Terjadinya bencana alam di negeri kita tidak dapat dicegah, namun masyarakat bisa meminimalisir kerugian akibat bencana, baik kerugian materi maupun kerugian jiwa. Disinilah Teknologi Informasi berperan penting dalam menangulangi bahkan memberikan peringatan awal sebelum terjadinya bencana. Beberapa pengalaman pemanfaatan Teknologi Informasi dalam memudahkan penanggulangan bencana di Indonesia sendiri ketika Tsunami melanda Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara dimana ketika itu seluruh jaringan komunikasi terputus, namun para relawan maupun para korban tidak habis akal untuk mengoptimalkan internet sebagai jalur komunikasi untuk mengabarkandan menginformasikan kondisi yang ada pada saat itu ke dunia luar maupun kepada sanak saudara mereka.
Melalui blog maupun website, email, chat dan lain sebagainya pemanfaatan internet ini mereka lakukan. Dampaknya adalah bantuan dari dalam dan luar negeri cepat tersalurkan dan relawanpun terus berdatangan untuk membantu evakuasi jenazah para korban yang meninggal akibat bencana itu.Dalam memberikan informasi, ini merupakan tugas utama internet sebagai media baru. Namun, bukan hanya itu. Teknologi Internet rupanya memiliki fungsi lain yaitu menggalang dana untuk para korban bencana.
Tsunami di Aceh pada tahun 2004 membuktikan bahwa internet bukan hanya memiliki fungsi informatif, tetapi dapat pula menjadi lahan mencari dana. Salah satu situs yang berhasil menggalang dana paling besar pada saat itu adalah amazon.com, salah satu situs ritel yang sukses mengumpulkan lima puluh ribu dermawan dengan penghasilan lebih dari 32,6 miliar yang kemudian disalurkan melalui organisasi palang merah di Amerika Serikat. Selain itu yang berhasil dikumpulkan oleh tim AirPutih sebuah komunitas IT yang berhasil menggalan bantuan melalui website yang kemudian menyalurkannya berupa alat-alat telekomunikasi, komputer dan lain sebagainya sebagai alat untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Lebih dari itu, ternyata perkembangan teknologi informasi juga bisa mengetahui kondisi korban dan mencari orang yang hilang akibat bencana. Seperti situs BBC yang mencari salah satu warga Belanda yang menjadi salah satu korban Tsunami di selatan Thailand. Mediacenter Airputih juga memanfaatkan hal serupa dan berhasil membantu salah seorang warga Malaysia yang juga menjadi korban Tsunami di Aceh. Ini membuktikan bahwa teknologi informasi berkembang untuk peradaban manusia, menyesuaikan kebutuhan manusia untuk keberlangsungan hidup manusia. Inilah yang mungkin harus bisa juga dikembangkan di Indonesia, mengingat negara kita merupakan negara kepulauan dimana gempa, tsunami, dan potensi meletusnya gunung berapi merupakan sebuah ancaman bencana, yaitu meningkatkan peran teknologi informasi dalam memberikan informasi lebih awal tentang potensi terjadinya bencana alam di daerah tertentu. Karena selain akan meminimalisir kerugian negara, hal tersebut juga menyelamatkan jiwa masyarakat yang berada di wilayah tersebut. Namun, penggunaan media baru oleh masyarakat Indonesia berupa internet dengan segala situs-situsnya menjadi modal awal bagi masyarakat kita untuk dapat memperoleh informasi mengenai potensi bencana alam.
Teknologi Informasi
Merupakan sebuah aplikasi yang dapat kita gunakan untuk membantu didalam berbagai masalah terutama Bencana Alam. Prosedur penanganan bencana saat ini banyak yang tidak efektif atau bahkan salah sasaran semua itu disebabkan informasi yang terlambat masuk terlebih tidak akurat. Peran teknologi informasi pada permasalahan ini sangat penting dan menjadi sarana yang vital untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan. Teknologi Informasi tidak mampu mencegah terjadinya bencana namun dengan teknologi informasi kita dapat meminimalkan segala bentuk kerugian, korban jiwa, dan memberikan tindakan-tindakan yang efektif dan efisien, hal ini yang membuat sebuah pemikiran untuk melakukan pengembangan konsep Teknologi Informasi didalam perannya terhadap Bencana. Bencana ini disini dibagi menjadi 3 yaitubencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial dan untuk kita ketahui bahwa bencana ini milik semua orang namun belum tentu semua orang berfikir tentang bencana alam itu sendiri.
Manajemen Teknologi Informasi
Manajemen teknologi Informasi itu sendiri beragam artinya. Namun kita akan membahas hal ini, tata kelola manajerial yang menggunakan perangkat teknologi informasi dalam prosesnya. Apa ciri khas manajemen teknologi informasi:
Bencana
Sudah jamak diketahui orang banyak bahwa teknologi informasi mampu mendeteksi dini gejala akan adanya bencana. Jepang sebagai negara ring of fire yang rawan sekali dengan bencana telah menerapkan hal ini. Pada hakikatnya bencana itu sendiri sulit diprediksi dan datang tiba-tiba. Namun, teknologi informasi bisa meminimalisir potensi bencana yang ada. Bagaimana peran manajemen teknologi informasi berkaitan bencana?
Manfaat
Peran manajemen teknologi informasi yang paling penting tentunya ialah sistem komunikasi pusat yang 1 x 24 jam. Manusia bisa lalai. Akan tetapi, ketika peran itu dijalankan teknologi informasi, semua potensi kesalahan itu bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. Tinggal tergantung user yang menjalankannya. Sekali lagi manajemen teknologi informasi ini mendesak dilakukan karena pentingnya penanganan bencana yang sangat cepat.
Sistem Teknologi Kebencanaan
LEWS/Sistem Peringatan Dini Longsor
Curah hujan yang tinggi dan ketidakstabilan lereng telah mengakibatkan bencana longsor yang mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa di Indonesia. Kejadian longsor menjadi lebih kerap terjadi seiring dengan meningkatnya aktifitas manusia. Longsor dan banjir bandang di Jember 1 Januari 2006 yang menyebabkan tak kurang dari 119 korban tewas. Longsor di Tawangmangu 26 Desember 2007 dengan korban lebih dari 62 orang, longsor di Desa Sijeruk Banjarnegara 2007 dengan korban tewas 81 orang, longsor dan banjir bandang di Trenggalek dengan korban jiwa tak kurang dari 13 orang dan longsor di Cianjur 15 November 2008. Longsor yang terjadi pada daerah tersebut merupakan gerakan massa lereng yang cepat dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.
Teknologi Kebumian Sistem Informasi Risiko Multi Bencana
Sistem Informasi Risiko Multi Bencana (SIRMA) mencakup database spasial potensi bencana di suatu kawasan, infrastruktur dan analisis risiko. Struktrurnya terdiri dari base map, thematic map yang terdiri dari potential hazard base dan potential risk map serta pemodelan tsunami dan merupakan sistem informasi multi bencana terintegrasi untuk menentukan besarnya risiko bencana pada suatu komunitas dan potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkannya. Kegiatan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) khususnya untuk bencana alam seperti gempa bumi, vulkanik, tsunami dan longsor juga dilakukan BPPT dengan membuat prototype sistem risiko multi bencana.
Teknologi Kebumian Hydrometeological Array for ISV-Monsoon
Fenomena turunnya suhu permukaan air laut di timur-tenggara Samudera Hindia dan menghangatnya wilayah barat Samudera HIndia menyebabkan bergesernya pusat koveksi dari pantai Barat Sumatera ke pantai timur Afrika. Fenomena ini disebut Indian Ocean Dipole Mode (IOD) yang menyebabkan El-Nino di Samudera Hindia yang berakibat kurangnya suplai uap air untuk wilayah Indonesia (kekeringan). Sebaliknya jika IOD negative, akan terjadi aktifitas konveksi yang besar di Samudera Hindia Bagian timur dan menyebabkan banyak hujan di wilayah Indonesia. Untuk mengetahui pola iniiklim ini diperlukan pengamatan yang dapat mengetahui secara dini mengenai perilaku dan kapan akan terjadinya fenomena ini.
Teknologi Hankam dan Keselamatan Rancang Bangun dan Operasional Bouy Tsunami
Sistem Buoy Tsunami adalah intrumen utama pendeteksi tsunami yang bekerja berdasarkan adanya gelombang tsunami atau anomaly elevasi muka air laut yang lewat di atas sensor yang ditempatkan di dasar laut. Sistem ini terdiri dari Ocean Bottom Unit (OBU), GPS Bouy di permukaan laut. OBU berkomunikasi dengan bouy melalui underewater acoustic modem. Bouy Berperan sebagai penerima data dari OBU dan mentransmisikan data tersebut via satelit ke pusat pemantau tsunami.
Teknologi Hankam dan Keselamatan Sistem Peringatan Bahaya Kebakaran
Peluang terjadinya kebakaran di daerah bergambut, baik lahan maupun hutan pada musim kemarau sangat tinggi, terutama di Sumatera Selatan, Riau Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan karena terdapatnya hutan rawa gambut yang sangat luas. Riau mempunyai hutan 59.365 Km2 dan 35.128 Km2 atau 59% diantaranya adalah hutan rawa gambut. Sementara itu, kegiatan persiapan lahan dengan cara membakar belum bisa dicegah secara significant sehingga pendekatan pencegahan yang dilakukan adalah dengan pengendalian agar tidak terjadi bencana. Sitem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) adalah suatu sistem peringatan dini untuk menduga tingkat bahaya kebakaran dan penyebarannya berdasarkan hasil-hasil perhitungan dari monitoring parameter cuaca : suhu, kelembaban, curah hujan, arah dan kecepatan angin.
Teknologi Lingkungan Teknologi Pengolahan Air Siap Minum
Untuk daerah kawasan pemukiman yang telah dibangun di daerah yang kualitas air tanahnya buruk, serta belum mendapatkan pelayanan air bersih dari PAM setempat, maka masyarakat terpaksa memenuhi kebutuhan air minum mereka dengan cara membeli air minum. Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, yakni dengan cara mengembangkan dan memasyarakatkan paket teknologi untuk mengolah air sumur atau air PAM menjadi air yang dapat langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Unit alat tersebut terdiri dari antara lain : pompa air baku, filter bertekanan, filter mangan zeolit, filter karbon aktif, cartridge filter, sterilisator ultra violet dan ozon generator. Dalam perkembangannya teknologi Air Siap Minum (Airsimum) juga dibuat dalam bentuk mobile. Unit ini merupakan instalasi yang siap bergerak dan sangat bermanfaat pada daerah-daerah pacsa bencana.
Teknologi Kebumian Aplikasi Georadar untuk Pendeteksian dan Pemetaan Bawah Permukaan
Kerusakan pada obyek bawah tanah permukaan, seperti pipa gas dan air agak sulit dideteksi. Teknik konvensional untuk memeriksa kerusakan tersebut adalah dengan membongkar (destructive technics) lapisan permukaan, dan ini menimbulkan konsekuensi biaya dan estetika. Dengan teknologi ini dapat digunakan untuk penentuan posisi tanpa merusak dan dengan akurasi yang dapat diandalkan.
Teknologi Hankam dan keselamatan Prototipe Pesawat Udara Nir Awak
Dalam rangka pengawasan dari udara, BPPT mengantisipasi dengan mengembangkan teknologi pengawasan jarak jauh berupa wahana pesawat udara tanpa awak(PUNA). Kegiatan Rancang Bangun Pesawat Udara Nir Awak ini dilaksanakan sejak tahun 2000 melalui kemitraan dengan BUMN, perusahaan swasta Nasional (UKM) dan instansi terkait lainnya secara bertahap, sistematis dan berkesinambungan dengan dukungan berbagai pihak serta sumber daya penelitian dan pengembangan di BPPT.
Teknologi Modifikasi Cuaca
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan meniru proses yang terjadi pada hujan di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik diangkut dengan pesawat ditambahkan langsung ke dalam awan. Pelepasannya bisa dilakukan di bawah dasar awan, atau bisa juga dilepas langsung ke dalam awan. Dengan berlangsungnya pembesaran tetes secara lebih awal maka hujan juga turun lebih cepat dari awan, dan proses yang terjadi lebih efektif.
Referensi: