Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
~~~~ pada akhir kalimat Anda.Selamat menjelajah, kami menunggu suntingan Anda di Wikipedia bahasa Indonesia!
Welcome! If you do not understand Indonesian language, you may want to visit the embassy or find users who speak your language. Enjoy!
Wagino Bot (bicara) 26 September 2022 12.23 (UTC)
HHABIB ALWI BIN ABDURRAHMAN BIN SMITH TOKOH DAKWAH DI SULAWESI UTARA
Habib Alwi Bin Abdurrahman Bin Smith merupakan keturunan ke 31 dari Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. Beliau lahir di pulau Manganitoe, Sangir Talaud pada kira-kira tahun 1880-an dari hasil perkawinan antara Habib Abdurrahman Bin Husen Bin Smith yang datang dari Hadramaut, dengan penduduk setempat, yaitu Aisyah binti Daeng Salasa, seorang bangsawan keturunan raja Bugis. Habib Abdurrahman (ayah habib Alwi) meninggalkan pulau Sangihe kurang lebih 6 bulan sebelum Habib Alwi lahir. Di masa kecil sepeninggal ayahnya, sebagai anak tunggal beliau diasuh oleh ibunya dengan dibantu oleh saudara-saudara sang ibu. Dalam suasana kehidupan ekonomi yang memprihatinkan di masa itu, beliau sempat disekolahkan di desa Manganitoe hingga tamat Sekolah Dasar. Kepintaran dan kehebatan beliau berpidato di depan kelas dan di tempat-tempat umum telah menarik perhatian pendeta Steller, seorang tokoh gereja di desa Manganitoe ketika itu. Tak heran Sang pendeta lalu berniat akan mengambil, mengasuh serta mengembangkan bakat Habib Alwi itu dengan rencana memasukkannya ke sekolah pendeta. Namun, niat sang pendeta tersebut tidak kesampaian karena Habib Alwi keburu diambil oleh seorang saudagar kaya dari Tahuna, Tuan Zen Basalamah dan Tuan Syekh bin Muhammad Bachmid yang menurut riwayat kemudian mengirim Habib Alwi ke Jawa untuk dimasukkan ke sekolah agama selama beberapa tahun di sana. Sekembalinya dari Jawa beliau berdagang di kota Manado yang kemudian menyunting salah seorang anak perempuan dari Tuan Awad Basalamah yakni Fatmah Basalamah (adik ipar Tuan Zen Basalamah). Pasca perkawinannya, pasangan Bin Smith-Basalamah ini menetap dan mengembangkan usahanya di Manado, ibukota propinsi Sulawesi Utara. Hasil-hasil usahanya yang sukses itu telah memungkinkan beliau memiliki sejumlah tanah yang luas dan terletak di lokasi-lokasi strategis di kota Manado seperti di Komo Luar, Wawonasa/Karame, Istiqlal, dan di Tuminting. Sedangkan dari hasil perkawinannya Habib Alwi mendapatkan keturunan 4 anak laki-laki dan seorang anak perempuan, yakni:
Habib Abdurrahman (1915-1963), Habib Syekh (1917-1970), Habib Husen (1919-2001), Syarifah Gamar (1929-1993), dan Habib Umar (1939-2002).
Kesemua anak tersebut lahir dan meninggal di Manado, kecuali Habib Abdurrahman meninggal dan dimakamkan di Jakarta, serta Habib Husen di Bandung. Sedangkan keturunan dari generasi kedua ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia, walaupun banyak diantaranya bermukim di Manado.
Pedagang dan Juru Dakwah yang Sukses.
Selain berdagang, di masa hidupnya Habib Alwi juga punya kegiatan memberikan ceramah-ceramah agama dan pengajian di berbagai mesjid di kota Manado, khususnya di Mesjid yang berada di wilayah kampung Arab (sekarang wilayah Istiqlal). Ketika berada di Manado, Habib Alwi juga di masa hidupnya sempat berguru kepada salah seorang ulama terkenal asal Banten lulusan Mekkah, yaitu Kiai Haji Muhammad Arsyad Thawil. Karya sastra beliau yang terkenal adalah “Mutiara dalam Tiram”, yang ditulis pada bulan Agustus 1941 ketika berada di desa Tinoor, pinggiran kota Manado. Beliau wafat di masa pendudukan Jepang pada tahun 1944 setelah menderita sakit, dan dimakamkan di kelurahan Karame kota Manado. Murid-murid beliau tersebar di beberapa wilayah khususnya di kota Manado, antara lain di Komo Luar, Kampung Kodo, Banjer, Kampung Islam, Istiqlal, Kampung Ketang dan Sario.
Untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa beliau, atas prakarsa cucu-cucunya antara lain; Habib Salim bin Abdurrahman, Habib Muhammad bin Abdurrahman, Habib Yahya Bin Syekh, Habib Ahmad bin Syekh, Habib Hud bin Husein, Habib Abdul Qadir bin Hasan bin Syekh, dan lain lain serta beberapa tokoh masyarakat setempat, pada bulan Mei 2012 dibangunlah sebuah masjid permanen berukuran 11 x 10 m. yang diberi nama “Masjid Habib Alwi Bin Abdurrahman Bin Smith – Karame.” Lokasi masjid terletak di atas tanah waqaf beliau di Kelurahan Karame Manado, dengan posisi bersebelahan dengan maqamnya. Setelah melewati masa pembangunan kurang lebih 3 tahun, alhamdulillah masjid tersebut resmi beroperasi pada bulan Mei 2015 menjelang masuknya bulan Ramadhan 1436 H. dan hingga kini digunakan selain oleh para keturunannya, juga oleh masyarakat sekitar khususnya warga masyarakat yang bermukim di kelurahan Ketang Baru, Karame dan Wawonasa. (C.ABS.M-U12.15).** 36.82.48.158 26 September 2022 12.32 (UTC)