Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPembicaraan Pengguna:Banas-AlAsyariyyah
Artikel Wikipedia

Pembicaraan Pengguna:Banas-AlAsyariyyah

Wikipedia article
Diperbarui 29 Desember 2021

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Halo, Banas-AlAsyariyyah.

Selamat datang di Wikipedia bahasa Indonesia!

Memulai
  • Bacalah halaman Pengantar Wikipedia terlebih dahulu.
  • Baca juga informasi tentang berkontribusi di Wikipedia.
  • Lihat pula aturan yang disederhanakan sebelum melanjutkan.
Tips
  • Selalu tanda tangani pertanyaan Anda di Warung Kopi atau halaman pembicaraan dengan mengetikkan ~~~~ pada akhir kalimat Anda.
  • Jangan takut! Anda tidak perlu takut salah ketika menyunting atau membuat halaman baru, menambahkan, atau menghapus kalimat.

Ada pertanyaan? Tanyakan di sini!

Selamat menjelajah, kami menunggu suntingan Anda di Wikipedia bahasa Indonesia!

Welcome! If you do not understand the Indonesian language, you may want to visit the embassy or find users who speak your language. Enjoy!

--Pesan ini dikirim secara otomatis menggunakan bot. 29 Desember 2021 15.12 (UTC)

Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah Kalibeber

Sejarah Pendirian Pondok Pesantren Al-Asyariyyah tidak lepas dari Sejarah Tokoh Ulama Pendiri Kabupaten Wonosobo. Berikut tokoh Pendiri Pondok Pesantren Al-Asyariyyah Kalibeber Wonosobo, yaitu:

I. Kyai Muntaha Awal bin Kyai Nidha Muhammad. Berawal pada kurun waktu Abad 18M (tahun 1830), ketika Pangeran Diponegoro ditangkap atas tipu daya Belanda di Magelang. Kyai Muntaha Awal bin Kyai Nidha Muhammad atau Raden Hadiwijoyo adalah salahsatu prajurit pengawalnya yang berhasil lolos dan melanjutkan perjuangan ke Desa Kalibeber (kewadenan kota garung). Kemudian atas izin Kyai Glondong Jogomenggolo, beliau mendirikan sebuah langgar/padepokan untuk meneruskan perjuangan dan mensyiarkan Agama Islam di Wonosobo dan bertempat di dusun Karangsari Kalibeber. Pengabdian beliau untuk masyarakat dalam mensyiarkan agama islam dengan santun dan bijaksana, serta kesabaran dan ketekunan dalam mengajarkan ilmu Al-Qur’an, Fiqih dan Tauhid, membuat masyarakat tertarik akan ajaran yang disampaikan dan secara sukarela memeluk agama islam. Langgar yang terletak di pinggir kali Prupuk tidak bisa menampung pesatnya masyarakat untuk belajar mengaji, sehingga kegiatan berpindah ke dusun Kauman kalibeber yang mayoritas masyarakatnya ialah etnis china. Namun karena kebijaksanaan Kyai Muntaha Awal menyampaikan ajaran yang Islam Rahmatan Lil Alamin, maka penduduk setempat menerima kehadiran beliau untuk mendirikan padepokan santri sebagai tempat kegiatan belajar mengaji. Kampung di selatan pesantren telah ditinggalkan secara sukarela oleh masyarakat etnis china, yang kemudian dilestarikan dengan nama Gang pecinan. Dan Setelah 26 tahun berjuang serta berkhidmah melalui padepokan pesantrennya, pada tahun 1860 beliau Kyai Muntaha Awal wafat dan dimakamkan di Karangsari.

II. Pada tahun 1860, KH Abdurrochim bin Kyai Muntaha Awal meneruskan perjuangan ayahandanya dalam mensyiarkan ajaran agama islam dan mendidik/membimbing masyarakat dengan sistem dan ilmu yang sama diajarkan oleh ayahnya. KH Abdurrochim dikenal sebagai Kyaiai yang ahli tasawuf dan pertanian, juga memiliki keahlian dalam penulisan khat Al-Qur’an, sehingga selama perjalanan menunaikan ibadah Haji beliau melakukan riyadhoh menuliskan Al-Qur’an dengan Khatam 30 juz. Hal ini yang menjadikan inspirasi adanya penulisan Al-Qur’an Akbar dan juga membuat pendidikan agama islam di pesantren semakin berkembang dengan berdirinya Masjid Jami’ di tengah masyarakat. KH Abdurrochim pernah nyantri kepada KH Abdullah bin KH Mustahal Awal Jetis Parakan sampai dijadikan mantunya. Pada tanggal 3 Syawal 1337 Hijriah atau 1916 Masehi, KH Abdurrochim wafat dan dimakamkan bersama Ayahnya di Karangsari. Dan beliau meninggalkan 3 putra/i, yaitu; KH Asy’ari, KH Marzuki dan Ny.Hj.Maemunnah (yang menjadi istri KH Syuchaimi).

III. Pada tahun 1916M, KH Asy'ari bin KH Abdurrochim yang telah berusia dewasa, dikenal sebagai ahlu dzikir karena beliau selalu mendawamkan wiridan Dalailu Khoirot. Dari istri pertama yang bernama Nyai Hj Safinah, melahirkan 5 putra/i yaitu KH Murtadho, KH Mustaqim, KH Mudatsir, KH Muntaha. sedangkan KH Asy’ari bersama istri kedua yang bernama Nyai Hj Sufi'ah binti KH Abdullah Sa’ad, melahirkan putra bungsu yang bernama KH Mustahal Asy'ari. KH Asy'ari pernah nyantri kepada KH Mohammad Moenawwir bin KH Abdoellah Rosyad di Krapyak Yogyakarta, dan saat itu didawuhi oleh KH Munawwir untuk mengikuti (Ndere'ake) menuntut ilmu di Mekkah selama ±17 tahun. Ketika nyantri di Mekkah inilah beliau KH Asy'ari riyadhoh membaca Al-Qur'an sehingga setiap hari bisa Khatam, sama seperti yang dilakukan oleh gurunya yaitu KH Mohammad Moenawwir. Beliau juga pernah nyantri kepada Kiai Mahfudh al-Hasani Sumolangu Kebumen, dan juga nyantri kepada KH abdullah Mannan Termas Pacitan. KH Asy’ari hadir sebagai tokoh yang ‘Alim dan berkharisma. Menurut penuturan saksi sejarah, diantara karomah beliau adalah ketika Masjid dan Pesantren di bom oleh Belanda, bom tersebut tidak meledak karena berkah Doa beliau, bahkan berubah menjadi Singkong (Bodin: Bahasa Kalibeber.red). Pondok Pesantren pada masa kepemimpinan KH Asy’ari, Negara Indonesia telah melahirkan gerakan-gerakan Nasional baik yang berdasarkan agama maupun kebangsaan, sampai pada tahun terakhir kehidupan beliau. Dan Negara Indoneia sedang gigih-gigihnya menentang kembali penjajahan Belanda sehingga pesantren mengalami masa surut karena sebagian santrinya ikut dalam geriliya melawan Penjajah. Pada aksi Polisionil kedua (Agresi Militer Belanda II), Belanda berhasil menyerang wilayah Wonosobo bahkan sampai ke Desa Derongisor yang berjarak ±5 Km dari Desa Kalibeber. Pondok Pesantren, padepokan, dan langgar/mushola pun tak luput dari jajahan Belanda, bahkan Al-Qur'an tulisan tangan Al-Maghfurllah KH Abdurrochim ikut dibakar. Oleh karena itu KH.Asy'ari yang sudah lanjut usia terpaksa diungsikan oleh masyarakat ke Desa Deroduwur ±8 Km dari Kalibeber, sehingga Belanda tidak berani meneruskan pengejaran Ulama' ini sampai ketempat pengungsian. Dalam masa itu beliau tetap mensyiarkan agama islam dan membimbing masyarakat untuk beribadah dan bertaqwa kepada Allah Swt, sampai akhirnya beliau jatuh sakit kemudian wafat pada tanggal 13 Dzulhijah 1371 H/ 1949 M, dan dimakamkan di Komplek Maqbaroh Deroduwur. Sepeninggal beliau KH.Asy'ari, KH Muntaha dan KH Mustahal telah dikader guna meneruskan perjuangan dengan cara mengirim untuk mengaji dan sinau kepada beberapa Ulama Pesantren.


IV. Tahun 1949M, KH Muntaha Alhafidz dan KH Mustahal Asyari.

A. KH MUNTAHA Al-Hafidz (Mbah Mun) adalah seorang Ulama' legendaris yang Kharismatik sehingga dijuluki sang Maestro Al-Qur'an karena keberhasilannya mewujudkan cita-cita leluhur dengan membuat sebuah karya fenomenal yaitu Al-Qur’an Al-Akbar (Al-Qur'an terbesar pertama di Dunia yang ditulis dengan tangan secara langsung), dan sekarang tersimpan baik di gedung Bait Al-Qur'an Taman Mini Indonesia indah (TMII). Selain itu, KH Muntaha Alhafidz bersama dengan "Tim Sembilan" yang terdiri dari Kiai-kiai muda Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah menyusun Tafsir Maudlu'I yang terdiri dari sembilan jilid dengan tema-tema sebagai berikut: Agama-agama (Adyan), Akidah (Al-Aqidah), Akhlak (Al-Akhlaq), Ibadah (Al-Ibadah), Sistem Kemasyarakatan (An-Nizam al-Ijtima'i), Jinayah (Al-Jinayah), Politik dan Tata Negara (As-Siyasah wa an-Nizham ad-Dauli), Ekonomi (Al-Iqtishadi), Kisah-kisah (Al-Qashash). KH Muntaha Alhafidz menyantri dan berguru kepada KH Usman ±16tahun di Pesantren Kauman Kaliwungu, ±4tahun kepada KH Moenawwir di Krapyak Yogyakarta, ±5tahun kepada KH Dimyathi Termas Pacitan. Riyadhoh maupun tirakat yang dilakukan Mbah Muntaha ketika menuntut ilmu ialah beliau selalu menempuh perjalanan dengan cara berjalan kaki dan melaksanakan khataman Al-Qur’an, hal itu dilakukan dengan niat ikhlas demi memperoleh keberkahan ilmu dan berkah sohibul ilmu (guru). Dalam perjuangan memasyarakatkan Al-Qur'an, beliau mendirikan himpunan penghafal Al-Qur'an dan dan pengajian Al-Qur'an yang bernama Yayasan Jam'iyyatul Qurra wal Huffadz (YJHQ). Nasehat beliau adalah sebagaimana nasehat yang disampaikan oleh gurunya KH Moenawwir, yaitu agar selalu melanggengkan atau membaca (nderes) Al-Qur’an. Dalam hal kezuhudan dan ketaqwaan beliau telah sampai pada maqam ma'rifat, keyakinan hatinya begitu tinggi sehingga seluruh hidupnya penuh dengan ketaatan kepada Allah SWT. Daya ma'rifat (‘irfanu) Mbah Muntaha adalah positif dan dinamis, yakni penuh perhatian dan pemahaman terhadap masalah-masalah di sekitarnya. Kesungguhan beliau sebagai Hamba Allah terwujud dalam jiwa kema’rifatannya. Dimana sebagian Auliya pada masanya hidup zuhud karena menjauhi dunia, namun beda hal yang diwujudkan Mbah Muntaha dengan berperilaku zuhud dan juga berusaha membangun peradaban dunia dengan berpedoman pada nilai-nilai agama. KH Muntaha Alhafidz adalah Ulama yang memiliki banyak Karomah karena keluhuran Ilmu dan keyakinan Iman Taqwanya kepada Allah Swt. Diantara karomah beliau adalah banyaknya Ulama dan Auliya yang sering berkomunikasi secara intens dengannya, dan juga karomah beliau adalah dapat berkunjung ziaroh kedalam makam Nabi Muhammad Saw tanpa penjagaan. Al-Maghfurllah KH Muntaha Alhafidz yang ‘Alim ‘Allamah juga merupakan seorang tokoh nasionalis yang sangat memahami makna Kebangsaan dan Kenegaraan. Beliau meyakini bahwa Agama dan Negara tidak terpisahkan, oleh karenya dalam membimbing dan mengajarkan masyarakat beliau menggunakan cara dakwah yang arif dan bijaksana, sangat moderat juga toleran dalam menyikapi permasalahan yang terjadi. Terbukti di masa mudanya beliau tergabung dengan Laskar Hizbullah dan ikut dalam pertempuran di Palagan Ambarawa sebagai Komandan BMT (Barisan Muslim Temanggung). Selain itu beliau juga pernah menjabat sebagai anggota konstituante dari fraksi NU meskipun bukan seorang politisi, karena sikap rela berkorban terjun di dunia politik adalah demi mengutamakan kemaslahatan umat. Selanjutnya dalam hal pengembangan pesantren, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, beliau bersama dengan adik kandungnya KH Mustahal Asyari meneruskan perjuangan KH Asy’ari bin KH Abdurrochim. Sehingga terbentuklah beberapa lembaga pendidikan Formal di Kecamatan Mojotengah seperti Madrasah Ibtida’iyah kalibeber, Madrasah Tsanawiyah kalibeber dan Madrasah ‘Aliyah yang sekarang beralih menjadi Negeri dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Dan pada awal abad 19, KH Muntaha Alhafidz & KH Mustahal Asyari mulai merintis ide/gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan Formal & Non-Formal di lingkup internal pondok pesantren, diantaranya yaitu: - Madrasah Diniyah Wustho Ulya & Salafiyah, pada tahun ±1980-an - Taman Kanak-Kanak Hj.Maryam pada tahun ±2000-an - Sekolah Dasar (SD) Takhassus Al-Qur’an pada tahun ±1995 - SMP Takhassus & SMA Takhassus Al-Qur’an pada tahun ±1989 - SMK Takhassus Al-Qur’an pada tahun ±2002 - IIQ sekarang Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) pada tahun ±1988 KH Muntaha Alhafidz & KH Mustahal Asyari adalah 2 tokoh Ulama' yang mengharumkan daerah wonosobo dampai kancah nasional melalui sikap, sifat, dan amal perjuangannya. Dari keduanya tampak perilaku sederhana, toleran, moderat, kreatif, inovatif, progresif, nasionalis, dan berakhlakul karimah. Sehingga Mbah Muntaha dikenal sebagai seorang yang memiliki hati seluas samudera lautan, dan Mbah Mus dikenal sebagai seorang yang penyabar dan istiqomah. Pernikahan pertama KH Muntaha dengan Ny Hj Saudah Wonokromo (tidak dikaruniai anak), kedua dengan Ny Hj Maryam Parakan (tidak dikaruniai anak), ketiga dengan Ny Maijan Jariyah Tohari dikaruniai seorang putra bernama Ky Ahmad Faqih, keempat dengan Ny Hj Hinduniyah (tidak dikaruniai anak), dan pernikahan kelima dengan Ny Hj Sahilah dikaruniai 4 putra/i. Al-Maghfurllah KH Muntaha Alhafidz yang dilahirkan pada tanggal 09 Juli 1912, dan wafat pada usia 92 tahun pada tanggal 29 Desember 2004.

B. KH Mustahal Asy'ari bin KH Asy'ari (Mbah Mus) adalah adik seperjuangan KH Muntaha yang juga mengemban amanat untuk meneruskan perjuangan salafus shalih (orangtua & gurunya) untuk berdakwah (li ihyaai wa i’laai diinil islaam, Wa Li i’laa-i kalimatillah). Beliau lahir pada tanggal 17 September 1926, di didik langsung oleh KH Asyari hingga remaja, lalu meneruskan pendidikan pesantren kepada Syeikh Munthaha Parakan selama ±2tahun, dan melanjutkan nyantri kepada KH Ma’shoem Ahmad di pesantren Lasem rembang selama ±5tahun (1947-1952), kemudian tabarukan kepada KH Moenawwir Krapyak selama ±3tahun. Dalam perjalanan menuntut ilmu demi mendapatkan keberkahan ilmu dan keberkahan para guru (Masyayikh) beliau pun melakukan tirakat dengan tidak makan nasi selama ±13tahun, dan riyadhoh dengan selalu menjaga sholat berjamaah 5waktu. Sehingga barokah keilmuan beliau bisa dirasakan manfaatnya bagi santri dan masyarakat ketika beliau telah mengabdikan dirinya dalam berkhidmah berjuang untuk Agama, bangsa, dan pesantren. Diantara jejak perjuangan beliau adalah berhasil menjalin komunikasi & silaturrahim yang baik antara ulama dan umara, hal itu juga terjadi saat beliau diamanati oleh masyarakat (ummat) untuk memimpin sebagai jajaran pimpinan di Jam’iyyah Nahdhatul Ulama, ataupun sebagai jajaran pimpinan di ruanglingkup pemerintahan. Adapun jejak prestasi karir beliau diantaranya adalah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sebagai jajaran pimpinan Kantor Urusan Agama, serta sebagai jajaran pimpinan Badan Otonom dan Lembaga di dalam Organisasi Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Beberapa tahun sepulangnya dari menuntut ilmu beliau mengabdikan dirinya kepada pesantren dan masyarakat, hingga pada tahun 1958 KH Mustahal Asyari melaksanakan pernikahan dengan Ny Hj Tisfiyah binti KH Kasmali Hasan (dari Kertijayan Buaran Pekalongan). Dan dikaruniai 11 putra/i, 3 diantaranya telah wafat di masa usia anak-anak yaitu (A.Musyafa, Murtasidah, Murtasidin), 2 diantaranya yang wafat di usia remaja yaitu (A.Mujahidin & Musayyidah), dan 6 putra/i yang masih membersamai Ny Hj Tisfiyah meneruskan perjuangan pesantren antara lain yaitu: 1) Ny Mustaqimah Sekeluarga. 2) KH. Mas’udan Asy'ari, S.Pd, MM Sekeluarga. 3) KH. Atho'illah Asy'ari, Alh Sekeluarga 4) Ny.Hj.Siti Mukarromah, S.Pd, Alhz Sekeluarga. 5) Ky Ahmad Muhlis, S.Sy, Alh Sekeluarga. 6) Ky Mukhamad Ngafan Mastur, SS, MM Sekeluarga Dari pernikahan beliau Allahuyarham KH Mustahal Asyari dengan Ny.Hj.Tisfiyah telah dikaruniai 24 cucu, dan 5 cicit. Seperti yang dilakukan KH.Asy’ari, maka KH Muntaha & KH Mustahal pun mengkader putra dan santrinya untuk selalu berjuang dan berkhidmah kepada masyarakat. Sejatinya para Ulama adalah pewaris para Nabi, maka sudah pasti akan kita temui hikmah dari tingkah perilaku, barokah dari ilmu, dan suri tauladan akhlak yang tampak dari para Masyayikh Ma’had. Dan bertepatan pada tanggal 10 mei 2010 (15 Jumadil Ula 1430H) KH.Mustahal Asy'ari wafat, yang dimakamkan di Komplek pemakaman Pesantren Deroduwur.

Sanad Al-Qur'an KH Muntaha

Meskipun KH Muntaha pernah belajar Al-Qur'an kepada KH. Utsman Kaliwungu dan KH. Muhammad Dimyati Termas. Namun Sanad Al-Qur'an KH Muntaha beliau dapatkan langsung dari KH Moehammad Moenawwir bin KH Abdoellah Rosyad Krapyak. Karena KH Muntaha merupakan Santri generasi terakhir dari KH Moenawwir. dan selanjutnya KH Muntaha melanjutkan untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada santri/masyarakat di PPTQ Al-Asyariyyah Kalibeber Wonosobo. Runtutan Sanad Al-Qur'an beliau yaitu: KH. Muntaha dari KH. Moenawwir Krapyak, dari Abdul Karim bin Abdul Badri, dari Isma‘il Basyatie, dari Ahmad ar-Rasyidi, dari Mustafa bin Abdurrahman, dari Syekh Hijazi, dari Ali bin Sulaiman al-Mansuri, dari Sultan al-Muzani, dari Saifuddin Ata’illah al-Fudali, dari Syahadah al-Yamani, dari Nasruddin at-Tablawi, dari Imam Abi Yahya Zakariya al-Mansur, dari Imam Ahmad as-Suyuti, dari Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Mansur bin al-Hizrami, dari Abu Abdullah Muhammad bin Abdul-Khaliq, dari Abu al-Hasan Ali bin Suja‘ bin Salim bin Ali bin Musa al-Abbasi, dari Abu al-Qasim asy-Syatibi as-Syafi‘i, dari Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Huzail, dari Abu Dawud Sulaiman Ibnu Majah al-Andalusi, dari Abu Umar Utsman Sa‘id ad-Dani, dari Abu al-Hasan Tahir, dari Abu al-Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dari Abu Muhammad Ubaid bin Asibah bin Sahib al-Kufi, dari Abu Umar Hafsbin Sulaiman bin al-Mugirah al-Asadi al-Kufi, dari Asim bin Abi Najud al-Kufi, dari Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Habib Ibnu Rabi‘ah as-Salam, dari Utsman bin Affan/Ali bin Abi Talib/Zaid bin Sabit/Abdullah bin Mas‘ud/Abu Bakar/Umar bin al-Khattab, dari Rasulullah saw, dari Allah swt. melalui perantara Jibril as.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah Kalibeber
  2. Sanad Al-Qur'an KH Muntaha
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026