Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Gereja Santo Theodorus, Liwa

Gereja Santo Theodorus, Liwa adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Way Mengaku, Balik Bukit, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Gereja ini berada di bawah naungan Keuskupan Tanjungkarang. Pelindung gereja dan paroki ini ialah Santo Theodorus.

gereja di Indonesia
Diperbarui 2 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gereja Santo Theodorus, Liwa
Gereja Santo Theodorus
Gereja Santo Theodorus, Paroki Liwa
Gereja Santo Theodorus, Liwa
Informasi umum
LokasiWay Mengaku, Balik Bukit, Liwa, Lampung Barat
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Sejarah
DedikasiSanto Theodorus
Arsitektur
StatusGereja Paroki
Status fungsionalAktif
Ditetapkan7 September 2019[1]
Administrasi
ParokiLiwa
Keuskupan AgungPalembang
KeuskupanTanjungkarang
Klerus
UskupVinsensius Setiawan Triatmojo
Jumlah imamRP. Y. Bonivantura Lelo, OFM
RP. Bartolomeus Didit Tri Haryadi, OFM [2]

Gereja Santo Theodorus, Liwa adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Way Mengaku, Balik Bukit, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Gereja ini berada di bawah naungan Keuskupan Tanjungkarang. Pelindung gereja dan paroki ini ialah Santo Theodorus.[2]

Yubileum Khusus 800 tahun Santo Fransiskus Asisi

Dengan penuh sukacita, Paroki Santo Theodorus Liwa mengundang seluruh umat Allah untuk ambil bagian dalam perayaan Yubileum Khusus 800 tahun Santo Fransiskus Asisi yang dimulai sejak 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027

Dalam semangat pertobatan, kerendahan hati, dan cinta kasih kepada Tuhan, sesama, serta seluruh ciptaan, marilah kita bersama-sama memperbarui iman dan meneladani hidup Santo Fransiskus yang sederhana namun penuh makna.

Semoga melalui perayaan yubileum ini, kita diteguhkan menjadi pembawa damai dan saksi kasih Kristus di tengah dunia.

Bagi umat, komunitas, maupun rombongan yang ingin menjadwalkan kunjungan doa dan ziarah ke Paroki Santo Theodorus Liwa dalam rangka Yubileum Khusus ini, silakan menghubungi narahubung (Bambang - 081272063148) untuk informasi lebih lanjut dan pengaturan jadwal kunjungan.

Damai dan kebaikan menyertai kita semua.


Mengenal Gereja Paroki St. Theodorus Liwa Lampung Barat.

Pendahuluan

Gereja Unit Pastoral Santo Theodorus berada di Liwa, Kabupaten Lampung Barat. Jarak antara Liwa dan pusat Ibu Kota Provinsi Lampung, Tanjung Karang, kurang lebih 180 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 6–7 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Liwa sebagai pusat pemerintahan Lampung Barat terletak di persimpangan strategis yang menghubungkan tiga provinsi, yakni Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Di bagian selatan, Liwa berbatasan dengan Pekon Kembahang, Kecamatan Batubrak; di sisi timur berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS); di sebelah barat berbatasan dengan Pekon Tanjungkemala, Kecamatan Pesisir Tengah serta TNBBS; dan di utara berbatasan dengan Pekon Tanjungraya, Kecamatan Sukau.

Secara topografis, Liwa terletak di wilayah pegunungan berhawa sejuk dengan panorama alam yang indah seluas kurang lebih 3.300 hektar, mencakup sejumlah pekon atau kelurahan yang dikelilingi perbukitan hijau. Dari kejauhan, tampak kebiruan Gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2.262 meter, yang semakin memperindah lanskap Kota Liwa. Selain memiliki potensi sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan pertambangan, Liwa juga kaya akan jejak sejarah dan budaya. Beragam tradisi yang masih lestari antara lain upacara adat nayuh (pesta pernikahan), nyambai (acara bujang-gadis dalam resepsi pernikahan), bediom (menempati rumah baru), sunatan, sekura (pesta topeng rakyat), sastra lisan seperti segata, wayak, dan hahiwang, buhimpun (musyawarah), butetah (pemberian gelar adat), serta berbagai ritual adat lainnya.

Kota Liwa juga memiliki sejumlah destinasi wisata menarik, seperti Air Terjun Kubuperahu, kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sebagian wilayahnya berada di sekitar Liwa, Pulau Dewa di Desa Jejawi yang memiliki makam sepanjang hampir tiga meter, serta Prasasti Hujung Langit (Batu Tulis Hara Kuning) di Bawang, ditambah suasana sejuk alam yang masih asri dan kekayaan seni budaya lokal. Kabupaten Lampung Barat pun didukung berbagai objek wisata lain, seperti Danau Ranau, wisata budaya Pekon Kenali (Belalau), serta bentang pantai sepanjang Pesisir Barat Samudera Indonesia yang potensial, termasuk situs bersejarah seperti Situs Prasejarah Batu Jaguar di Pekon Purawiwitan, Sumberjaya. Di lokasi tersebut terdapat batu menhir yang diyakini masyarakat dapat memberi pertanda apabila akan terjadi bencana, sebagaimana dipercaya saat gempa Liwa tahun 1994.

Liwa pernah mengalami kehancuran hebat akibat gempa bumi pada 15 Februari 1994 yang berpusat di Sesar Semangko, Samudera Hindia. Peristiwa tersebut mengakibatkan hampir seluruh bangunan permanen di Liwa roboh dan rata dengan tanah, dengan korban meninggal sedikitnya 196 jiwa dari berbagai desa dan kecamatan di Lampung Barat serta hampir 2.000 orang mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Diperkirakan sekitar 75 ribu penduduk kehilangan tempat tinggal, dan dampak gempa dirasakan hingga radius 40 kilometer dari ibu kota kabupaten tersebut. Pasca-bencana, pembangunan kembali permukiman, perkantoran, dan sekolah dilakukan dengan konstruksi tahan gempa. Kini Liwa telah bangkit dan berkembang, bahkan menarik minat investasi di berbagai sektor, tidak hanya pada komoditas unggulan kopi—termasuk kopi luwak—tetapi juga pada pengembangan energi panas bumi oleh Chevron Corporation melalui proyek di wilayah Suoh–Sekincau, Lampung Barat, yang ditargetkan mampu menghasilkan daya hingga 500 MW guna mendukung program pemerintah pusat dan daerah.

Sejarah Singkat Gereja di Unit Pastoral St Theodorus Liwa, Lampung Barat.[3]

Perkembangan Gereja di Liwa, Lampung Barat, tidak dapat dipisahkan dari karya pastoral Paroki Keluarga Kudus Baradatu, sebab Unit Pastoral Liwa pada awalnya merupakan wilayah stasi yang berada dalam lingkup pelayanan paroki tersebut. Unit Pastoral Liwa berdiri mandiri pada tahun 1994, tidak lama setelah gempa besar melanda wilayah ini, dengan pastor pertama yang bertugas adalah Pastor Vincent Le Baron, MEP. Setelah masa pelayanannya berakhir, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh RD. Antonius Suhendri, RD. Harry Prabowo, RD. Agustinus Sunarto, RD. Paulus Saryanto, RD. Agustinus Sudaryanto, dan sejak 1 Agustus 2016 dipercayakan kepada RP. Bonivantur Yulianus Lelo, OFM.[3]

Peristiwa gempa tahun 1994 membawa perubahan besar, termasuk dalam relasi antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat. Kehidupan beragama semakin memperoleh perhatian, meskipun di beberapa tempat Gereja masih dipandang sebagai “pendatang” sehingga diperlukan kebijaksanaan dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Saat ini Paroki Santo Theodorus Liwa memiliki tujuh gereja atau stasi, yaitu Liwa, Pasar Minggu, Sekincau, Sidomakmur, Sumberjaya, Mayus, dan Malang–Suoh. Pastoran berada di samping Gereja Santo Theodorus di Liwa, sekitar 1,5 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Barat.[3]

Pelayanan antarstasi menuntut perjuangan tersendiri karena jarak tempuh yang jauh dan medan yang berat. Akses menuju sejumlah stasi harus melewati pegunungan, sungai, serta jalan tanah bercampur lumpur, yang semakin sulit dilalui saat musim hujan, khususnya menuju Mayus–Basongan, Malang–Suoh, Talang Gendung–Suoh, Sumber Agung–Suoh, dan beberapa wilayah di Sumberjaya. Jarak Liwa ke Suoh misalnya, dapat ditempuh 1–2 jam dengan sepeda motor dalam kondisi cuaca cerah, namun akan lebih lama saat hujan, terlebih jika Sungai Semangka meluap sehingga umat harus menunggu surut untuk menyeberang menggunakan rakit bambu sebagai satu-satunya sarana penyeberangan. Alternatif jalan darat melalui areal bekas letusan pun kerap sulit dilalui karena berlumpur dan penuh kubangan.[3]

Perjalanan dari Liwa ke Pasar Minggu memakan waktu 2–3 jam dengan melintasi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan pada musim hujan kerap terkendala longsor atau pohon tumbang. Menuju Mayus–Basongan diperlukan sekitar tiga jam melewati pegunungan dan kebun kopi, sementara Liwa–Sekincau dapat ditempuh sekitar satu jam, Liwa–Sidomakmur satu setengah jam, dan Liwa–Sumberjaya antara dua hingga tiga jam tergantung lokasi rumah tempat ibadat berlangsung, terutama jika berada di Way Tebu.[3]

Berdasarkan sensus Desember 2012, jumlah umat di Unit Pastoral Santo Theodorus Liwa tercatat sebanyak 170 kepala keluarga. Rinciannya adalah Liwa 65 KK, Sekincau 28 KK, Malang–Suoh 15 KK, Talang Gendung–Suoh 4 KK, Sumber Agung–Suoh 4 KK, Pasar Minggu 26 KK, Sumberjaya 14 KK, dan Sidomakmur 14 KK. Tempat tinggal umat saling berjauhan, berkisar 3 hingga 25 kilometer, tersebar lintas kelurahan dan kecamatan di wilayah dataran maupun pegunungan. Kondisi ini menyulitkan pembentukan kelompok doa lingkungan, terutama di stasi Liwa, Pasar Minggu, Sekincau, dan Sumberjaya, bahkan ada umat yang tinggal hingga wilayah Simpang Sender dan Banding Agung arah Danau Ranau yang telah masuk Provinsi Sumatera Selatan.[3]

Sebagian besar umat bermata pencaharian sebagai petani padi, kopi, dan sayur-mayur, sementara lainnya berdagang, dengan banyak umat berasal dari Sumatera Utara yang merantau untuk mencari penghidupan. Selain pelayanan pastoral di setiap stasi, paroki juga mendampingi tiga komunitas susteran yang berada di wilayahnya. Di Liwa terdapat komunitas Suster FSGM berjumlah tiga orang, sedangkan di Sekincau terdapat dua komunitas, yakni Suster HK berjumlah tiga orang dan Suster Klaris berjumlah sepuluh orang. Kehadiran para suster diterima dengan baik oleh masyarakat dan menjadi wujud nyata Gereja Katolik yang hidup serta bertumbuh bersama masyarakat Lampung Barat. Karya mereka mencakup pengolahan lahan pertanian serta bantuan pastoral di stasi terdekat.[3]

Secara umum kehidupan umat Katolik di Lampung Barat berlangsung damai dan harmonis dengan masyarakat sekitar. Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) berperan penting sebagai wadah dialog dan komunikasi antarumat beragama, khususnya di kalangan para tokoh agama, sehingga memperkuat kerukunan dan sikap saling menghormati. Dialog kehidupan sehari-hari lebih mudah diterima dibanding dialog formal berbasis identitas agama. Oleh karena itu, sikap bijaksana, kemampuan menempatkan diri dalam pergaulan sosial, serta kepekaan dalam bertutur dan bersikap menjadi kunci menjaga keharmonisan bersama, karena dialog kehidupan merupakan jembatan perjumpaan dan persaudaraan di tengah keberagaman.[3]

Masuknya Fransiskan di Unit Pastoral St. Theodorus[3]

Kehadiran Ordo Fransiskan di Unit Pastoral ini tidak terlepas dari peran Sdr. Bambang Trimargono yang pada 1 Februari 2014 menerima penugasan sebagai dokter di Rumah Sakit Maria Regina Kotabumi. Dalam menjalankan tugas tersebut, Sdr. Bambang didampingi Sdr. Bonivantura Yulianus Lelo (Bovan) untuk memulai kembali jejak misi Fransiskan di Lampung yang pernah dirintis oleh J. Wahyosudibyo, OFM pada tahun 1946.[3]

Kedatangan kedua saudara ini diantar oleh Sdr. Adrianus Sunarko selaku Menteri Provinsial, dan dalam kesempatan itu mereka sempat mengunjungi Unit Pastoral Santo Theodorus dengan maksud bersilaturahmi ke komunitas Suster Klaris Kapusin di Sekincau. Di Sekincau, mereka diperlihatkan lukisan perjalanan hidup Santo Fransiskus Asisi yang tergambar di dinding Gereja Stasi Santo Fransiskus Asisi, salah satu stasi dalam wilayah Unit Pastoral Santo Theodorus. Pada saat itu, para suster menyampaikan harapan agar para saudara Fransiskan suatu hari dapat berkarya dan melayani di wilayah tersebut.[3]

Tanpa diduga, dua tahun kemudian harapan itu menjadi kenyataan. Pada 1 Agustus 2016, para saudara Fransiskan memperoleh kepercayaan untuk menangani dua wilayah pelayanan sekaligus, yakni Unit Pastoral Santo Theodorus dan Paroki Keluarga Kudus Baradatu. Sdr. Bonivantura Yulianus Lelo bersama Sdr. Berman Sitanggang memulai pelayanan Fransiskan secara resmi di Unit Pastoral Santo Theodorus.[3]

Dalam perjalanan selanjutnya, para saudara berupaya membangun kemandirian dan penguatan tata kelola pastoral hingga akhirnya pada 7 September 2019 status Unit Pastoral Santo Theodorus ditingkatkan menjadi Paroki Santo Theodorus. Peningkatan status ini dirayakan bersamaan dengan pemberkatan Gereja Paroki, Gereja Stasi Santo Paulus Pasar Minggu, dan Gereja Stasi Santo Antonius Padua. Hingga kini, karya dan pelayanan Fransiskan terus berlanjut sebagai bagian dari dinamika pertumbuhan Gereja di wilayah tersebut.[3]

Referensi

  1. ↑ https://ofm-indonesia.org/ofm-st-michael-malaikat-agung/karya-karya/parokial/paroki-st-theodorus-liwa/
  2. 1 2 https://keuskupantanjungkarang.org/profil-paroki/
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 "Paroki St. Theodorus - Liwa". OFM Indonesia. Diakses tanggal 2026-03-02.
  • l
  • b
  • s
Keuskupan Tanjungkarang
Uskup Tanjungkarang
  • Albert Hermelink Gentiaras
  • Andreas Henrisoesanta
  • Yohanes Harun Yuwono
  • Vinsensius Setiawan Triatmojo
Paroki
   
Kota
Bandar Lampung
  • Katedral Kristus Raja
  • Gereja Santo Yohanes Rasul, Kedaton
    • Stasi Sukabandung
  • Gereja Ratu Damai, Teluk Betung
    • Stasi Panjang
  • Gereja Santa Maria Immaculata, Way Kandis
Kabupaten
Lampung Selatan
  • Gereja Santo Andreas Rasul, Margo Agung
    • Stasi Margo Lestari
  • Gereja Santo Kristoforus, Bakauheni
  • Gereja Keluarga Kudus, Sidomulyo
  • Gereja Santo Paulus, Jati Baru
Kabupaten
Lampung Tengah
  • Gereja Santa Lidwina, Bandar Jaya
  • Gereja Santo Gregorius Agung, Bandar Sakti
  • Gereja Santo Petrus, Kalirejo
  • Gereja Santo Paulus, Kota Gajah
  • Gereja Santa Maria, Pajar Mataram
  • Gereja Santo Yohanes Don Bosco, Rumbia
  • Gereja Hati Kudus Yesus, Tanjung Mas
Kabupaten
Pringsewu
  • Gereja Hati Kudus Yesus, Sukoharjo
  • Gereja Santo Yusup, Pringsewu
Kota Metro
Gereja Hati Kudus Yesus, Metro
Kabupaten Lampung Timur
Gereja Santo Thomas Rasul, Bandar Sribhawono
Kabupaten Lampung Barat
Gereja Santo Theodorus, Liwa
Kabupaten Lampung Utara
Gereja Kabar Gembira, Kotabumi
Kabupaten Way Kanan
Gereja Keluarga Kudus, Baradatu
Kabupaten Tanggamus
Gereja Santo Pius X, Gisting
Kabupaten Mesuji
Gereja Santo Andreas Rasul, Mesuji
Kabupaten Tulang Bawang
Gereja Santo Yusuf Pekerja, Tulang Bawang
Kabupaten Tulang Bawang Barat
Gereja Santo Yohanes Paulus II, Murni Jaya
Tempat khusus
Tempat ziarah
  • Gua Maria Padang Bulan, Pringsewu
  • Gua Maria Pajar Mataram, Lampung Tengah
  • Gua Maria Ngison Nando, Lampung Selatan
  • Gua Maria Bunda Kerahiman, Sekincau
  • Gua Maria Putri Kerahiman, Lampung Tengah
  • Gua Maria Cahaya Ilahi, Lampung Timur
  • Gua Maria Bunda Sang Penghibur, Lampung Selatan
Rumah retret
dan rekoleksi
  • Rumah Retret La Verna, Pringsewu
  • Rumah Retret Ngison Nando, Lampung Selatan
  • Rumah Retret Matouw Way Hurik, Bandar Lampung
  • Wisma Albertus, Bandar Lampung


Ikon rintisan

Artikel bertopik gereja di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi

Artikel Terkait

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia

persekutuan Gereja-gereja Protestan di Indonesia

Gereja di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Daftar organisasi Gereja di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026