Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sri Wikrama Wira

Menurut Sejarah Melayu, Paduka Sri Wikrama Wira atau Paduka Sri Pikrama Wira ('Vikramavira') adalah putra tertua dari Sang Nila Utama dan Raja kedua dari Singapura.

Wikipedia article
Diperbarui 7 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sri Wikrama Wira
Sri Wikrama Wira Mauli Warmadewa
Raja Singapura ke-2
Berkuasa1347–1362
PendahuluSang Nila Utama
PenerusSri Rana Wikrama
PasanganNila Panjadi
KeturunanSri Rana Wikrama
WangsaMauli
AyahSang Nila Utama

Menurut Sejarah Melayu, Paduka Sri Wikrama Wira atau Paduka Sri Pikrama Wira ('Vikramavira') adalah putra tertua dari Sang Nila Utama dan Raja kedua dari Singapura.

Ia dikenal sebagai Raja Kecik Besar sebelum ia naik tahta dan menikah dengan Nila Panjadi, putri Raja Jambuga Rama Mudaliar, cucu Raja Adi Wiranama, cicit Sri Nilathanam.

Ia memerintah dari tahun 1347 hingga tahun 1362.[1][2]

Pemerintahannya ditandai dengan adanya upaya pertama oleh Siam untuk menundukkan kerajaan pulau ini. Seperti dicatat oleh Wang Dayuan pada tahun 1349, armada siam terdiri dari 70 jung datang ke kerajaan pulau ini. Kota yang dijaga ketat berhasil menahan pengepungan Siam sampai armada itu melarikan diri dengan kedatangan kapal-kapal Cina.[3] Pada saat yang sama, semakin kuatnya Kerajaan Majapahit, di mana Majapahit mulai melihat semakin kuatnya pengaruh kerajaan pulau yang kecil ini. Di bawah kepemimpinan panglima perang yang ambisius, Gajah Mada, Majapahit mulai memulai ekspansi ke luar negeri terhadap semua kerajaan Nusantara termasuk sisa-sisa Sriwijaya. Pada tahun 1350, Hayam Wuruk naik ke tahta Majapahit. Raja baru mengirim utusan ke Singapura menuntut penyerahan kerajaan kecil ini. Paduka Seri Wikrama Wira menolak untuk melakukannya dan bahkan mengirim pesan simbolik yang mengancam untuk mencukur kepala raja Majapahit apabila ia melanjutkan rencananya ke Singapura.[4] Raja Majapahit yang marah memerintahkan invasi dengan armada yang terdiri dari 180 kapal perang utama dan kapal kecil yang tak terhitung banyaknya. Armada melewati pulau Bintan, dari mana berita menyebar ke Singapura. Pasukan Singapura segera mengumpulkan 400 kapal perang untuk menghadapi invasi. Kedua belah pihak bentrok di pantai Singapura dalam pertempuran yang berlangsung selama tiga hari. Para prajurit Jawa yang sebagian besar berpengalaman dalam perang dengan kapal laut, benar-benar kewalahan dan terpaksa mengungsi.[5]

Referensi

  1. ↑ Dr. John Leyden (1821). Malay Annals: Translated from the Malay Language. London: Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown. hlm. 44–49.
  2. ↑ "Ruling House of Malacca-Johor". Christopher Buyers. October 2008. Diakses tanggal 2010-10-08.
  3. ↑ Sabrizain, Palembang Prince or Singapore Renegade?, diakses tanggal 2012-10-04
  4. ↑ Leyden, John (1821), Malay Annals (translated from the Malay language), Longman, Hurst, Rees, Orme and Brown, hlm. 52
  5. ↑ A. Samad, Ahmad (1979), Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), Dewan Bahasa dan Pustaka, hlm. 47, ISBN 983-625-601-6, diarsipkan dari asli tanggal 2013-10-12, diakses tanggal 2012-11-11
Sri Wikrama Wira
Dinasti Sriwijaya
Gelar
Didahului oleh:
Sang Nila Utama
Raja dari Singapura
1347-1362
Diteruskan oleh:
Sri Rana Wikrama

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi

Artikel Terkait

Kertanagara

Raja Singasari

Sri Rana Wikrama

Paduka Sri Rana Wikrama (Ranavikrama) adalah putra sulung Sri Wikrama Wira dengan istrinya Nila Panjadi, dan Raja Singapura ketiga . Ia dikenal sebagai

Sang Nila Utama

Utama wafat pada tahun 1347 dan Raja Kechil-Besar naik tahta sebagai Sri Wikrama Wira sebagai Raja Singapura kedua, Kechil-Muda ditunjuk sebagai perdana

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026