Nur Sutan Iskandar adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait, atau pranala luar, tetapi sumbernya belum jelas karena belum menyertakan kutipan pada kalimat. |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 3 November 1893 |
| Kematian | 28 November 1975 |
| Data pribadi | |
| Kelompok etnik | Orang Minangkabau |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | penulis |
Nur Sutan Iskandar (3 November 1893 – 28 November 1975) adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.

Nur merupakan anak dari Engku Kepala Datuk Rajo Endah dan cucu Tuanku Laras di Maninjau. Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau lainnya Muhammad Nur mendapat gelar ketika menikah. Gelar Sutan Iskandar yang diperolehnya kemudian dipadukan dengan nama aslinya dan Muhammad Nur pun lebih dikenal sebagai Nur Sutan Iskandar sampai sekarang.
Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919 ia hijrah ke Jakarta. Di sana ia bekerja di Balai Pustaka, pertama kali sebagai korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka, yang dijabatnya 1942-1945.
Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Selain mengarang karya asli, ia juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing, seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle.